
Setelah hal gila yang ku lakukan kemarin, aku enggan untuk memantaunya seperti biasa. Bukan enggan, malu lebih tepatnya. Bagaimana tidak malu, aku seakan seperti cewek agresif yang tiba-tiba menghampiri dan meminta kenalan. Tapi rasa rinduku tidak bisa diajak kompromi, seakan memaksa kakiku untuk berdiri di teras menatap dirinya yang tengah mengambil wudhu, menatap wajahnya yang dialiri butiran air sisa wudhu. Menatap senyumnya yang selalu merekah ketika berpapasan dengan jamaah lain. Ah aku rindu.
Rasa rindu ini tak dapat lagi aku bendung. Dari pada aku gelisah tak menentu sepanjang hari, lebih baik aku lepas saja rasa rindu ini. Saat jam sholat Magrib, sengaja aku berdandan, aku duduk di depan teras sembari mengerjakan tugas kuliahku.
Ditemani cahaya teras yang temaram dan nyanyian kodok yang bergembira sebab baru saja hujan turun sekitar tiga puluh menit lalu. Udara sejuk setelah hujan tidak aku hiraukan, ku teguk secangkir cokelat hangat dan mengunyah roti cokelat, mataku tidak lepas dari layar laptopku, membaca beberapa artikel.
Tengah asik dengan tulisan di laptopku, hingga tidak ku sadari kalau jamaah solat Magrib sudah lama pulang. Dan aku tidak melihatnya. Tak apa, masih ada solat Isya, pikir benak ku.
"Kak Arla, temankan ke mini market dong", pinta Aira yang tiba-tiba muncul di hadapanku.
"Waduh, malas ah. Capek" jawabku menolaknya.
"kakaaaaak! Ayoolah. Bentar aja!" Ia mulai merengek.
Akhirnya aku mengalah, tak sanggup mendengar rengekan nya yang buat bising telinga. Ku kemas semua barang-barangku dan membawanya masuk ke dalam rumah.
"Ya udah, ayok.. Cepat ya, aku banyak kerjaan" ujar ku.
"Oke-oke" sahutnya sembari berlari menuju motorku.
Aira terlalu lama memilih barang yang akan ia beli, akhirnya kami pulang ketika solat Isya telah selesai, Musholla pun sudah ditutup oleh penjaga musholla. Aku kesal, lagi-lagi aku melewatinya.
Dua hari berlalu, aku tak lagi melihat Rama solat di musholla Al-Muttaqin ini. Entah dimana dia solat jamah. Meski begitu, kegiatan rutin, tetapku lakukan. Duduk di teras rumah, sembari menanti dirinya lewat. Meski tak jua ku dapati bayangnya.
__ADS_1
hari ini, tidak seperti biasanya, aku bahkan menunggunya di waktu solat Subuh. Tidak pernah aku bangun sepagi ini. Aku memang tidak keluar rumah, aku hanya menunggunya dari atas balkon kamarku, menunggu dia lewat. Mataku tidak berkedip memandang ke bawah, berharap dia lewat. Tapi tetap saya nihil. Batang hidungnya tidak jua muncul.
Rasa rinduku kini bercampur dengan rasa penasaran dan ribuan tanya dalam benakku. Kemana dia? Apa dia sakit? Atau pindah rumah? atau jangan-jangan meninggal? Beraneka pertanyaan yang tak ku temukan jawabannya berulang-ulang muncul dalam benakku. Sudahlah, ku tutup jendela kamarku, dan beringsut ke ranjang, melanjutkan tidur.
****
Pagi ini tidurku dikejutkan oleh suara bel yang dipencet-pencet oleh penjaga musholla.
Ting tong ting tong (bel pintu berbunyi)
"Assalamualaikum, Bu.." Teriak penjaga musholla di luar sana.
Enggan rasanya untuk bangkit dari kasur, aku masih menunggu seseorang yang membukakan pintunya. Berkali-kali penjaga musholla itu memencet bel.
"Wa'alaikumsalam, sebentar," sahutku dari dalam.
Ku buka pintu dan ku liat seorang bapak paruh baya berdiri di depannya.
"Ada apa ya, Pak?" tanyaku.
"Ini dek, Bapak mau ketemu sama ibu, ada?" Tanya bapak paruh baya itu
"Ibu ga ada pak, lagi keluar kota, ada apa ya? Sampaikan ke saya saja kalau ada keperluan," Jawabku dalam keadaan mengantuk.
__ADS_1
"Oh baik, begini musholla kita ini berniat untuk membangun tempat wudhu yang baru, sebab tempat wudhu yang lama sudah kurang layak pakai, jadi kemungkinan akan dibangun di samping sana, tetapi pohon mangga besar itu menghalangi. Kami bermaksud minta izin kalau boleh pohon itu ditebang" Jelas si bapak.
Aku terdiam sejenak, "Hmm.. begitu ya pak, ya sudah silahkan saja ditebang" Jawabku menyetujui.
"Berarti kami dapat izin untuk menebangnya? kalau begitu lusa akan kami kerjakan" Jawab si bapak
"Iya pak, silahkan. Oh ya Pak, Bapak kenal dengan jamaah yang namanya Rama?" entah mengapa mulutku melontarkan pertanyaan itu.
"Oh, nak Rama. Kenal sangat kenal. Anak itu baik, santun, ada apa ya dek?" tanya si bapak.
"Dia kemana ya pak? kok ga keliatan beberapa hari ini?" Tanya ku lagi.
"Oh dia pergi tabligh akbar ke luar kota bersama jamaah lain. Biasa begitu setiap awal bulan selama dua pekan" Tutur si bapak.
"Oow begitu", jawabku singkat.
"Ya sudah, kalau gitu saya pamit dulu. Terima kasih untuk izinnya", Jawab si bapak kemudian pamit.
Aku senang pertanyaan yang selama ini memenuhi benakku terjawab sudah. Artinya dalam dua pekan ini aku tidak akan melihatnya di musholla. Kan ku simpan rapat rasa rindu ini, agar nanti dapatku luapkan ketika melihatnya.
......****......
Jangan lupa tinggalkan komentar dan kritik untuk aku ya, sebagai perbaikan dan koreksi buat aku. Dan jangan lupa like setiap membaca episode nya. 😊😊
__ADS_1