
Kali ini hatiku sulit memaafkan Rama. Sudah dua kali ia berlaku kasar padaku. Berangsur rasa sayangku berkurang padanya, sebab ia tak seperti yang ku harapkan, ia jauh dari Rama yang ku banggakan pada orang tua maupun pada sahabatku. Namun, aku tak punya nyali untuk menceritakan semua yang ku alami pada orang terdekatku. Terlebih pada keempat orang tuaku, aku malu, sebab dari awal mereka sudah menentang hubungan kami, dan aku pun telah berjanji akan membuktikan kalau pilihanku lah yang terbaik. Tapi ternyata aku salah.
Rama datang mendekatiku yang tengah duduk membantu ibunya memotong sayuran. Dipandangnya wajahku lekat, aku pura-pura tak melihatnya, aku tetap fokus pada sayuran yang ku potong. Sisa tamparannya tadi malam masih membekas di wajahku, mata sembabku pun masih belum hilang.
"Sayang, maafkan aku", ujar Rama lirih.
Aku memilih untuk pura-pura tak mendengarnya dan tak memandangnya.
"Sayang, aku tahu kamu marah, kamu tersakiti, tapi aku lakukan semua itu sebab aku cemburu, aku tak mau kehilanganmu, aku khilaf", lanjutnya
Aku bergeming, tetap tak memandangnya.
"Setelah kau pukul dia, seenaknya saja mulutmu mengatakan maaf dengan alasan khilaf! Dimana otak mu Rama!" ujar ibu mertuaku pada Rama.
Rama hanya memandang ibunya sesaat. Aku tetap bergeming. Enggan mengeluarkan kata-kata.
"Sayang..." lanjut Rama sambil mencoba meraih tanganku.
Ku tepis tangannya, dan aku tinggalkan dia bersama ibunya. Sayupku dengar mertuaku berkata pada anaknya.
"Sudah seberapa sering kau memukulnya? Dia dibesarkan dengan baik oleh orang tuanya, sekarang sesuka hati kau pukul dia, tanpa kesalahan apapun, jangan kau seperti ayahmu Rama", ujar mertuaku padanya.
__ADS_1
Aku masuk ke kamarku untuk menonton TV.
"La, maafkan aku. Kamu boleh marah, tapi jangan diamkan aku", Rama masuk ke kamar dan membujukku kembali.
Aku pandang wajahnya. Hatiku kini mulai berubah, ada sedikit benci dalam hatiku ketika melihatnya.
"Maaf untuk apa Ma?" tanyaku cuek.
"Untuk yang ku lakukan tadi malam, aku khilaf"
"Sekali, mungkin memang khilaf, ini kedua kalinya kau menamparku, untuk hal yang tak aku lakukan"
"Maafkan aku sayang, aku janji, aku tak akan mengulangi lagi apa yang ku perbuat, kasihan bayi kita" ujar Rama sambil mengelus perutku.
...****...
Meja makan tampak sepi, meski kini kami tengah makan malam bersama. Tak ada cerita, tak ada gurauan. Mertuaku hanya memandang kami saling bergantian.
"Rumah tangga dengan adanya rasa cemburu itu wajar, sebab itulah tanda kalau pasangan memiliki rasa peduli dan kasih sayang", ujar mertuaku memecah keheningan.
Sontak aku menjawab, "Apa dengan pukulan Bu, untuk menunjukan rasa itu?"
__ADS_1
"Rumah tangga dengan kekerasan itu, akan menghancurkan ", jawab mertuaku dan memandang Rama.
"Kau ingat Rama mengapa kau tak dibesarkan oleh sosok seorang ayah? Tersebab wanita dan kekerasanlah mengapa semua begini", lanjut mertuaku dengan nada serak menahan tangis.
Kami hanya terdiam, aku tak tahu harus bersikap seperti apa, ku lihat mertuaku menahan bulir air mata agar tak jatuh membasahi pipinya.
"Laki-laki itu selalu memukuliku untuk melampiaskan emosinya. Dia berselingkuh. Aku tak tahan menahan semuanya, hingga akhirnya aku menyerah. Aku memilih untuk membesarkan mu sendiri. Aku berharap lebih padamu, agar kelak kau dapat menjadi laki-laki yang aku dambakan, bukan seperti dia. Tapi apa? Kau lakukan hal yang sama terhadap istrimu! Aku tak mau istrimu merasakan apa yang aku rasakan Rama" tangis mertuaku pecah di meja makan.
Aku hanya tertunduk, dalam hati aku merasakan betapa besar sayang mertuaku terhadapku. Rama segera mendekati ibunya dan memohon maaf, serta berjanji tak akan mengulangi lagi apa yang dia perbuat.
"Aku janji Bu, ini terakhir kalinya aku memukul Arla. Maafkan aku Bu, maafkan aku", peluknya bersimpuh di kaki ibunya.
Mertuaku enggan menyentuh Rama.
"Tak guna kau minta maaf padaku Rama, minta maaflah pada istrimu, ia rela meninggalkan kebahagiaan dari orang tuanya demi hidup dengan mu yang tak memiliki apa-apa, tapi seenak hati kau memukulnya"
Mertuaku berdiri dan meninggalkan Rama. Aku tetap terdiam di kursiku, hanya memandangi dua beranak itu. Rama menyusul ibunya menuju kamar tamu.
"Selagi kau tak dapat maaf dari istrimu, selama itu juga kau tak dapat maaf dariku" ujar ibu dan menutup pintu kamarnya.
Rama terdiam. Aku hanya melintas berlalu di depannya berjalan menuju kamarku.
__ADS_1
...****...
Jangan lupa tinggalkan komentar dan kritik untuk aku ya, sebagai perbaikan dan koreksi buat aku. Dan jangan lupa like setiap membaca episode nya. 😊😊