
"Semangkok mie ayam bakso dan segelas es jeruk buatan Mang Udin sangat cocok untuk cuaca yang tengah gerimis-gerimis manja ini. Yok makan yok!" Ajakku ke Tari teman kampusku usai jam belajar.
"Ga La, lagi diet." tolak Tari.
"Oh ya udah", jawabku lalu melangkahkan kaki menuju kantin Mang Udin yang terletak di sudut kampus.
"Hey mau kemana?" teriak Airin dari dalam kelasnya ketika melihat aku melintas di depan kelasnya.
"Ke Mang Udin, ikut yok!" sahutku dari pintu kelas.
"Ga ah, mager aku tu" Airin menolak.
"Sayang sekali Anda menolak, padahal aku ada cerita menarik dan seru" aku mulai membujuk sahabatku selangkah meninggalkan pintu kelas.
Airin berlari mengejarku.
"Ok..oke.. tungguin.. Tapi kamu traktir aku ya", rengek Airin.
Aku hanya mengangguk dan mempercepat langkah menuju warung Mang Udin, penghuni kampung tengahku sudah menuntut hak mereka.
***
Semangkok mie ayam bakso dan segelas es jeruk, kini terhidang di meja Arla dan Airin siap untuk disantap dua mahasiswi lapar itu.
"La, jadi gimana keputusan nikahmu? Jadi..?" tanya Airin disela-sela suapan baksonya.
Aku bergeming, terus saja melahap mie ayam bakso. Tidak menjawab, tidak menoleh sedikitpun pada Airin.
"Eh La.. Kalau udah makan ya, langsung pekak" lanjut Airin kesal.
"Iya, denger kok cuma ntar aja deh bahas itu, mau nikmati makan dulu", jawabku tetap fokus pada makanan.
Selesai mengeksekusi makanan, aku menceritakan semua yang terjadi soal rencana pernikahan, mulai dari awal Rama melamar ke Papa, hingga ke ayah yang menolak Rama soal pekerjaan.
__ADS_1
"Gitu Rin, aku bingung mesti gimana, ayah terlalu keras untuk dilawan. Beliau memang tidak melarang, tapi gak juga ngasi izin", jelasku.
"Iya, aku paham maksud ayah mu, dia ga mau dong. Anak semata wayangnya ini menderita setelah menikah", jelas Airin.
"Iya kamu benar, terus aku harus gimana? Ikhlasin gitu aja? Biarkan berlalu begitu aja? My first love", lanjutku.
"Eleeh, orang tua mana mikirin soal first love first love gitu, mereka pakai logika",
Aku hanya diam mendengar ucapan sahabatku.
"Ya udah gini aja, satu-satunya cara yang bisa kamu lakukan adalah berdoa, kalau memang dia takdirmu, semua akan dimudahkan. Tak ada siapapun yang bisa menghalangi. Tapi kalau dia bukan takdir mu, sedekat apapun pasti akan dijauhkan. Percayalah pada takdir." nasehat Airin panjang lebar.
Aku hanya menghembuskan nafas panjang. Semua yang dikatakan sahabatku benar.
****
Dua bulan sudah berlalu sejak pertemuan Rama dan ayah, tapi sepintas kata-kata yang diucapkan ayah masih terngiang di benaknya. Namun kini berbeda, bukan lagi berlarut dalam perih hati. Tapi sebagai pembakar semangat untuk memperjuangkan apa yang ingin ia capai.
Terik mentari siang ini semakin membakar semangat Rama untuk hilir mudik menenteng amplop cokelat berisi surat lamaran. PT demi PT ia kunjungi dan layangkan seberkas lamaran, tidak peduli sedang menerima lowongan atau tidak. Setidaknya ia sudah melakukan ikhtiar. Penat langkah menghantarkannya pada sebuah mesjid. Rama menyeret langkahnya menuju mesjid, tidak lupa ia mendirikan solat sunah dhuha dua rakaat dan solat hajat. Panjang munajat ia sampaikan pada Rabbnya, banyak curahan hati yang ia luapkan pada Rabbnya agar dapat kiranya berbelas kasih pada hambanya ini.
"Assalamualaikum, penat nampak nya?" Sapa orang tersebut.
"Eh, waalaikumsalam, iya pak" sahut Rama sembari memperbaiki duduknya.
"Habis dari mana?" tanya nya ramah.
"Biasa Pak, nyari lowongan, hehehe, Bapak dari mana?" tanya Rama.
"Oh, sama-sama nyari sih kita, cuma beda yang dicari, hehehehe"
"Kalau boleh tahu, Bapak mencari apa?" Rama penasaran.
"Saya lagi nyari catering yang menyediakan makan siang untuk karyawan di kantor saya, dari tadi keliling ga ada yang cocok" jelas si bapak.
__ADS_1
"Oh, kalau boleh tau seperti apa yang ingin Bapak cari", tanya Rama lagi.
"Ini, (Bapak paruh baya memberikan daftar menu)"
"Oh, kalau saya boleh tawarkan, kebetulan saya dan ibu saya bisa Pak", tawar Rama.
Bapak paruh baya terdiam sejenak. Memerhatikan Rama.
"Baik. Mulai besok bisa? Soalnya saya sudah penat kalau mau nyari lagi." Bapak paruh baya menyetujui.
Rama kaget, Ia tak menyangka Pencipta nya begitu cepat mengabulkan apa yang ia pinta. Tanpa ragu Rama menjawab.
"Baik Pak, siap"
"Oke. Ini kartu nama saya dan alamat kantor saya," ujar bapak paruh baya sembari menyerahkan kartu namanya.
Rama menerima kartu nama bapak tersebut, tertulis jelas namanya dan nomor teleponnya.
"Ini beneran Pak?" Rama meyakinkan.
"Insyaallah, ini tanda jadinya, sisanya menyusul sebulan setelahnya", Bapak paruh baya itu memberikan amplop berwarna coklat,
Rama ragu untuk menerimanya, ia masih tak percaya akan takdir yang Penciptanya berikan. Penciptanya menggerakkan hatinya untuk berisitirahat di teras mesjid sampai ia harus bertemu dengan bapak paruh baya itu. Begitu mengejutkan rahasia takdir yang Ia berikan kepada hambanya yang berserah diri pada_Nya.
"Ambil" bapak paruh baya menyalami amplop kepada Rama.
"Terima Kasih, Pak" sahut Rama.
"Oke, sampai ketemu besok. Jangan telat ya, sebelum jam makan siang sudah harus di kantor", ujar bapak itu sambil melangkah menuju tempat wudhu.
"Baik Pak, insyaallah", jawab Rama mengangguk.
...****...
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan komentar dan kritik untuk aku ya, sebagai perbaikan dan koreksi buat aku. Dan jangan lupa like setiap membaca episode nya. 😊😊