
Sudah dua hari aku tidak pulang ke rumah ayah atau pun ibu. Rasa kecewa terhadap ayah dan papa masih belum hilang dari hatiku. Aku masih tak menyangka kalau kedua orang yang selalu ku banggakan dan jadikan panutan ternyata adalah orang yang menoreh kecewa di hatiku. Air mata terus menetes kalau aku ingat kembali pembicaraan ayah dan papa waktu itu.
"La, sudahlah, jangan pikirkan negatifnya, pikirkan positif dari sikap ayah dan papa mu", ujar Airin sembari mengelus lembut punggungku yang tengah tidur menelengkup dengan air mata yang terus menetes membasahi guling.
"Aku bisa terima Rin, kalau mereka langsung menolak Rama dari awal dulu. Tapi ini.. Mereka yang mengajari aku untuk tidak memandang harta dalam bergaul, untuk tidak menomor satukan materi dalam hidup.. Tapi sekarang? Mereka jua lah yang menjadikan harta sebagai jurang pemisah", sahutku dalam isak.
Airin tak dapat menjawab apapun, ia hanya mampu mengusap-usap punggungku. Sebab, Airin pun menyadari bagaimana kecewa yang dirasakan itu. Aku sudah dua hari menginap di kontrakan Airin, aku memilih tak memberi kabar pada siapapun. Hanya Airin yang tahu keberadaanku.
Handphone milik Airin berdering.
"Hallo.. Assalamualaikum", Airin menjawab telponnya.
"Waalaikumsalam", sahut pemilik suara diujung sana.
"Siapa ni", tanya Airin sebab nomor si penelpon tak tersimpan di kontak handphonenya.
"Ini Aira kak", sahut pemilik suara.
Airin memandangku. Memberi kode kalau yang menelpon adalah adikku.
Aku bergeming.
"Hallo, kak Airin.. Kak Arlanya ada di sana kak?" tanya suara di ujung telepon.
"Oh ga ada dek, kenapa tu?" jawab Airin berbohong.
"Ga ada apa-apa Kak, ya udah ya kak. Assalamualaikum" Aira mematikan telepon.
Airin hanya bisa menghela nafas dan memandang sahabatnya. Aku bangkit dari tidur dan menghapus air mata, seolah baru mendapatkan ide. Bergegas aku mengambil handuk dan mandi. Airin hanya memerhatikan gerak-gerikku heran, namun enggan untuk bertanya. Lima menit kemudian aku selesai mandi.
"Rin, kamu siap-siap gih, temankan aku nemui Rama", ujarku yang tengah bersiap.
"Ketemu Rama? Ngapain?" tanya Airin.
"Jangan banyak tanya, cepat aja siap-siap", lanjutku
Airin terdiam, dan bergegas siap-siap, tak tahulah entah rencana apa yang ada di benakku
****
Sedan putih milik Airin melaju cepat menyusuri Jalan Sudirman, tentu saja atas permintaanku, menuju Pondok Fattah catering. Aku ingin menemui Rama. Lima belas menit perjalanan akhirnya kami sampai di depan Fattah catering, aku buru-buru keluar mobil, tanpa mempedulikan Airin. Airin hanya diam, dan memilih menungguku di dalam mobil.
"Assalamualaikum, Mas,", Sapaku pada seorang pemuda yang duduk di teras.
"Waalaikumsalam, ada yang bisa dibantu, Mba?" tanya pemuda itu ramah.
"Ramanya ada, Mas?" tanyaku kembali.
"Ada Mba, Mbanya mau pesan cateringan? Udah penuh Mba, sebab seminggu ini ada job ngisi acara nikahan", jelas pemuda tanpa diminta.
__ADS_1
"Bukan, saya hanya ingin ketemu Rama, bisa di panggilkan?" lanjutku.
"Oh, baik Mba, tunggu sebentar", jawab pemuda dan ke dalam.
Aku duduk di sebuah sofa, memandangi sekitar. Kumainkan ujung tali tas untuk melepas rasa grogi dan menyusun kata-kata yang akan ku sampaikan ke Rama. Lima menit kemudian Rama datang menemuiku.
"Assalamualaikum, La. Ada apa? Tumben ke sini?, sapa Rama.
"Waalaikumsalam, iya. Ada perlu" jawabku.
"Kenapa? kangen aku ya? hehehe", goda Rama.
Wajahku memerah mendengar candaan Rama. Meski sebenarnya ada rasa itu, namun aku harus menyembunyikannya.
"Idiih.. kepedean kamu",
"hahahaha.. becanda kok, ada apa tu?" tanya Rama lagi.
"Apa kamu mesan catering untuk pernikahan mu?" lanjut Rama.
Aku menyerengit, "pernikahan mu? aku mengulang kalimat Rama, "itu artinya kamu?" aku bertanya padanya. Kemudian menunduk.
Rama hanya terdiam, dan menghela nafas panjang. Kemudian duduk di sampingku.
Aku menjelaskan maksud kedatanganku hanya untuk memastikan apakah Rama sanggup dengan ajuan hantaran yang diajukan oleh keluargaku.
Rama menghela nafas panjang, ia bingung harus menjawab apa. Di satu sisi ia harus mengakui bahwa ia tak sanggup memenuhi permintaan itu, namun disisi lain ia harus berjuang sebab jika tidak, maka gadis yang dihadapannya saat ini harus rela ia lepaskan.
"Apa kamu benar-benar inginkan aku, Ma?" tanyaku langsung dengan jantung yang berdegup kencang.
Rama terdiam, ditatapnya lekat wajah gadis yang sedang duduk dihadapannya.
"Jawab Ma, apa kamu benar-benar ingin aku jadi pendamping mu?" tanyaku kembali.
Rama masih menatap wajah gadis itu, kini tatapan gadis itu mulai berbinar, ada luapan air mata yang tengah ia bendung di sana. Ingin rasanya Rama mendekap kepala gadis itu dalam pelukannya, agar ia tahu betapa besar rasa yang ia punya untuk gadis itu.
"Kalau memang tidak, aku pergi Ma", lanjutku dengan suara yang bergetar.
"Iya. Aku memang sangat ingin meminang mu, tapi dengan keterbatasanku, aku akan berusaha. Namun jika aku tak mampu, mau tak mau. Kamu harus ku lepas La," jawab Rama lirih.
"Lagi pula, aku yakin ini cara orang tuamu menolakku, dengan semua keterbatasanku. Mungkin semua ini demi kebaikanmu jua, La" lanjut Rama
Mendengar jawaban Rama, ku palingkan wajah. Air mata yang semula aku bendung dengan susah payah, akhirnya menetes. Air mata itu menetes membasahi pipi. Rama tidak tahu harus berbuat apa. Ia hanya dapat memandang gadis yang tengah berurai air mata itu.
"La, Aku akan usaha semampu ku La", ujar Rama lembut.
Ku hapus air mataku, "Ma, kalau kamu memang tak sanggup, sebab dikejar waktu, pakailah tabunganku. Kita bagi dua. Aku yakin pasti cukup", ujarku.
Rama hanya menghela nafas. Sebab tidak mungkin rasanya bila ia harus memakai tabungan Arla. Dimana letak tanggung jawabnya sebagai laki-laki.
__ADS_1
Aku meyakinkan Rama. "Kalau kamu memang inginkan aku, pakailah tabungan ku, Ma, ini dari aku, demi hubungan kita. Kalau kamu menolaknya, berarti kamu tak benar-benar inginkan aku", Kali ini air mataku menetes lebih deras dari yang tadi, entah mengapa hatiku begitu yakin pada lelaki yang tengah duduk di sampingku. Besar harapan yang akan aku gantungkan pada lelaki itu.
Rama tetap terdiam. Ia hanya memandang wajahku yang memandangnya dengan tatapan penuh harap.
"Ini pertanyaan aku terakhir Ma, iya atau tidak? kalau tidak berarti kamu tak sungguh-sungguh dengan aku. Sebab kamu tau keterbatasan kamu, dengan begitu aku bisa benar-benar lupakan mu. Dan ini pertemuan terakhir kita" ucapku dengan suara tertahan
"Baik La, aku mau. Tapi ini hanya pinjaman. Suatu saat akan aku kembalikan, meski saat itu kita sudah resmi sebagai suami istri. Itu janjiku" Rama akhirnya menyerah.
Terpancar senyuman manis nan bahagia merekah di wajah Arla. Rama bahagia melihat wajah nan tadinya murung berubah menjadi bahagia.
Aku pamit pulang, sepanjang perjalanan aku merasa bahagia. Senyum tak lepas dari wajah manisnya.
"La, kamu kenapa? Tadi pagi nangis, sekarang senyum-senyum?", tanya Airin.
"Ga kenapa-napa kok, Rin", jawabku singkat.
"Oh ya, tadi ngomong apa aja ama Rama? Kok sampai gitu amat pandangan Rama ke kamu?", lanjut Airin.
"Ngomongin masa depan", jawabku singkat.
"Hmmm.. baiklah kalau tak mau cerita",
Aku sengaja tidak ingin menceritakan pada siapapun apa yang telah aku lakukan. Biarlah cukup tuhan, aku dan Rama saja yang tahu.
****
Akhir minggu ini Rama dan keluarganya kembali datang berkunjung ke rumah ayah, dengan tujuan untuk mengantarkan hantaran yang diajujan oleh pihak keluargaku. Ayah dan papa tak menyangka kalau Rama bisa memberikan hantaran dengan jumlah yang lumayan besar itu dalam waktu yang kurang dari batas yang ditentukan. Kedatangan Rama dan keluarganya selain menyerahkan hantaran, juga sebagai penentuan tanggal pernikahan mereka. Bulan depan aku dan Rama akan menikah.
****
"Arla.. ", panggil Ayah
"Iya, Yah.. "jawabku singkat dengan pandangan tetap menatap televisi.
"Arla.. coba kamu ke sini dulu", panggil ibu.
Ayah, mama, papa dan ibu mereka tengah berkumpul di ruang keluarga. Aku sudah yakin ini artinya aku akan disidang oleh ke empat orang tuaku. Karena mereka tidak akan mungkin berkumpul di rumah bila bukan terkait masalah anak-anak. Jika hanya urusan bisnis biasanya hanya ayah dan papa saja.
"Arla... itu telinganya masih dipakai ga", ibu mulai emosi.
Aku mengingsut langkah menuju keempat orang tuaku.
"Hmm..", jawabku dan duduk bersandar di sofa.
Secara bergantian ayah, papa, ibu, mama mulai menasehatiku tentang sikap, tingkah laku dan sebagainya. Sebagai persiapan untukku kelak ketika sudah menjadi istri orang. Aku terdiam menyimak semua nasehat dari orang tuaku. Aku paham betul kalau keempat orang tuaku melepasku dengan hati yang sangat berat. Tak sepenuhnya mereka menyetujui pernikahanku dengan Rama, terlebih lagi ayah dan papa. Namun dalam hati, aku bertekad untuk membuktikan kalau laki-laki pilihanku adalah yang terbaik dan aku akan bahagia bersama laki-laki itu.
Semoga.
...****...
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan komentar dan kritik untuk aku ya, sebagai perbaikan dan koreksi buat aku. Dan jangan lupa like setiap membaca episode nya. 😊😊