HATI YANG MUSNAH

HATI YANG MUSNAH
ALLAH AKAN MUDAHKAN


__ADS_3

Rama duduk di pelataran rumahnya, ia rebahkan tubuh tegapnya dengan hati yang tengah dirundung gelisah. Ia pandangi gumpalan awan yang seakan berjalan perlahan karena tertiup angin sepoi-sepoi. Sebait kata yang terlontar dari ucapan ayahku masih terngiang-ngiang jelas di telinganya, mau dikasi makan apa anak kami. Ah.. kata-kata itu memang tidak hanya singgah di telinga Rama, namun seolah bersemanyam di dalam hatinya.


Lagi-lagi gumpalan awan yang tergantung indah berpadu dengan biru cerahnya langit siang itu membawa Rama ke dalam lamunan yang jauh. Hingga tanpa sadar bahwa ada sosok yang sedari tadi memperhatikannya.


"Nak, dari tadi melamun terus? Mikirin apa?" sapa Mala.


Mala adalah sosok tegar yang menyebabkan Rama hadir ke dunia ini. Mala berjuang sendiri untuk membesarkan putra semata wayangnya. Pasca ditinggal menikah oleh lelaki hidung belang yang tak pernah paham akan kata tanggung jawab. Sudahlah, tidak perlu lagi diulik luka borok yang sudah lama mengering di hati Mala.


"Eh, ga ada Bu, Rama hanya...", Rama tak melanjutkan ucapannya. Rama tak ingin ibunya tahu apa yang tengah ia risaukan.


"Kenapa? Oh iya, bagaimana dengan perempuan yang ingin kau lamar? Kapan ibu bisa melamarkannya untukmu? Bukannya kemarin kau akan bertemu ayahnya?" ujar ibu dengan sejuta pertanyaan.


Rama hanya diam dan menghela nafas panjang. Wajah emosi ayahku masih saja membayanginya.


"Apa kau ditolak?" tebak ibu.


Rama mengangguk.


"Karena kau belum bekerja? karena harkat keluarga kita yang terlalu rendah? Sesombong itukah mereka?" wajah Mala berubah sendu.


"Andai saja si pecundang itu bertanggung jawab atasmu, mungkin kau tidak akan terhina seperti ini", Mala mulai menyalahkan lelaki yang tak bertanggung jawab itu.


Rama memandang wajahnya ibu, menggenggam erat tangan ibunya yang dibalut kulit keriput, dipandangnya lekat-lekat wajah wanita yang dituakan oleh keadaan itu.


"Bukan, Bu. Mereka dari keluarga yang begitu baik. Mereka benar Bu", ujar Rama.

__ADS_1


"Maksudmu? Ibu tak paham"


"Rama salah, Aku ingin menikah sementara Aku tak punya pegangan, nantinya dia akan menjadi sepenuhnya tanggung jawab ku, tumpuan hidupnya", Rama menjelaskan.


"Lantas apa yang akan kau perbuat? Mencari kerja dengan hanya bermodal ijazah SMK sangatlah sulit, kau sudah berkali-kali mencobanya, sudahlah lupakan saja dia, carilah wanita yang benar-benar bisa memahami keadaanmu, bukan yang banyak menuntut, mestinya kau juga harus tahu diri, pandang dirimu, pandang dia", nasehat ibu pada Rama.


"Tapi Bu, itu bukan tuntutan, tapi tanggung jawab, orang tua mana yang percaya melepas anak gadisnya ke tangan lelaki tanpa pekerjaan, sedangkan ia dibesarkan dengan susah payah oleh orang tuanya terpenuhi segala kebutuhannya", jelas Rama pada ibunya.


Mala mengangguk, menatap anaknya dengan tatapan sendu, tergores hatinya melihat anak semata wayangnya tidak terpilih hanya karena kurangnya harta. Namun, apalah daya, penghasilan dari warung sarapan yang ia buka setiap paginya, hanya mampu untuk mencukupi kehidupan sehari-hari mereka, dan membayar cicilan hutang yang ditinggalkan suaminya dulu.


"Terserah mu saja, apapun usahamu ibu selalu mendukungmu".


***


Malam ini, usai makan malam seperti biasa kami berkumpul di ruang nonton, sekedar bersenda gurau. Hari ini aku menginap di rumah ayah, suasana di rumah ayah lebih heboh dibandingkan di rumah ibu. Dua orang saudara kembarku yang masih duduk di bangku SMP selalu berteriak-teriak, saling usil, sampai akhirnya salah satu dari mereka ada yang menangis, dan biasanya sedikit pukulan kecil dari ayah baru bisa menghentikan kehebohan mereka.


"Dheeeooo... Sakiiit," pekikku ketika dengan sengaja Dheo menarik kakiku.


"Ha..ha..ha.. Asik melamun ajaaa", ledek Dheo.


"Jomblo sih, ga ada yang ngapelin, hahahaha", timpal Dhio dengan usil melempariku dengan gulungan benang rajut ibu.


Belum sempat aku membalas ledekan mereka, ayah bangkit dan menyuruh mereka masuk kamar.


"Lah.. Lah.. Lah.. pai lalok kalian, anak padusi den digaduah-gaduah (udah..udah..udah.. pergi tidur, anak perempuan aku digangguin)" titah ayah pada duo kembarnya.

__ADS_1


Dheo dan Dhio langsung lari ke kamar mereka sambil cekikikan.


Ayah kembali duduk, dan memandangku, aku tau dari tatapan ayah, agaknya ada hal penting yang akan disampaikan ayah padaku. Sebab seketika itu jua mama menyelesaikan rajutannya dan mematikan TV.


"La, sudah dipikir masak-masak soal pernikahan itu?" tanya ayah padaku.


Aku hanya diam.


"Benar La, kamu udah kenal dengan dia? Sudah paham dengan sikapnya? Sebab pernikahan ini kalau bisa sekali seumur hidup sayang", nasehat mama lembut.


Aku masih terdiam, tidak tahu harus menjawab apa. Aku hanya menunduk.


"Dia belum bekerja", lanjut ayah.


"Iya Yah, Arla sudah siap untuk menikah, Arla juga bisa terima keadaannya, lagi pula Arla juga punya toko yang nantinya bisa kami kelola bersama. Biarkan Arla menentukan jalan hidup Arla, Yah.. Arla udah dewasa", ujarku.


Mama hanya dapat menarik napas panjang, memandang ayah yang tampaknya bingung dengan jawabanku. Sekilas mama seakan mengangguk pada ayah, seolah menyetujui ucapanku tadi.


"Ya sudah, kalau memang itu keputusan mu, ayah dan mama restui. Lagi pula jika memang kau ditakdirkan dengan nya Allah akan mudahkan segalanya", lanjut ayah.


Aku tahu ayah sebenarnya keberatan, hanya saja ayah terlalu sayang padaku, ayah selalu menuruti apa yang aku mau, meski kadang bertentangan dengan dirinya, selama aku masih bisa menyakinkannya bahwa pilihanku akan baik-baik saja. Ayah akan menyetujuinya.


Kalimat akhir ayah, yang membuatku menghilangkan ragu "Allah akan mudahkan".


...****...

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan komentar dan kritik untuk aku ya, sebagai perbaikan dan koreksi buat aku. Dan jangan lupa like setiap membaca episode nya. 😊😊


__ADS_2