HATI YANG MUSNAH

HATI YANG MUSNAH
PENGGENAP


__ADS_3

Enam bulan tak terasa sudah berlalu, aku tidak lagi melihat Rama, bukan karena hatiku yang berhenti berharap, tapi karena memang aku tidak lagi tinggal di rumah ibu. Ritual mengintai Rama pun tidak lagi aku lakukan. Aku memilih tinggal di tempat ayah, selain lebih dekat dengan kampus, juga agar ia tak lagi memikirkan Rama.


Aku aktif di organisasi kampus, sebagai anggota BEM mengharuskanku menghabiskan banyak waktu di kampus, terlebih lagi mendekati acara ulang tahun kampus. Pihak kampus berniat mengundang artis ibu kota sebagai memeriahkan HUT peraknya.


"Rin, bagian konsumsi udah oke belum?", tanyaku pada Airin sebagai seksi konsumsi.


"Udah oke bos!, aku udah pesan dari catering", jawab Airin.


"catering dimana? Yang biasa?" tanyaku


"Ga, ini rekomendasi dari temen arisan ibuku, Fattah Catering namanya", sahut Airin.


"Oh oke", lanjutku


"Semua perlengkapan panggungnya udah aman belum?" tanyaku pada Andre.


"Oke sudah" jawab Andre.


Aku super sibuk hari ini, sebab aku terpilih sebagai penanggung jawab acara ulang tahun perak kampus tercinta. Besok pagi acara akan di mulai, jadi aku harus memastikan seluruh persiapan sudah mantap. Malam ini agaknya seluruh panitia harus begadang dan menginap di kampus. Berjaga-jaga agar semuanya aman.


****


Pagi ini acara ulang tahun universitas dibuka dengan berbagai sambutan mulai dari Rektor universitas sampai kepada ketua panitia. Menjelang siang acara hanya diisi dengan hiburan-hiburan ringan yang taja oleh berbagai mahasiswa dari beberapa fakultas.


Aku tampak berbeda hari ini, lebih rapi dari hari biasa ke kampus. Kemeja putih lengan pendek, celana levis berwarna coklat muda serta sepasang sepatu kets putih bersih membalut kakiku sangat sesuai dengan kulit kuning langsatku. Rambut hitam yang dikuncir satu serta polesan make up minimalis menambah cantik parasku hari ini. Aku tengah fokus menyaksikan alunan musik melayu yang dibawakan oleh mahasiswa dari fakultas ekonomi.


"La, Arla.." Panggil Tata menghampiriku


"Aaa..", jawabku singkat dengan wajah yang bergeming tetap menatap panggung.


"Ada orang catering tu, ngantar makanan. Sekaligus minta bon" lanjut Tata.


"Loh kok aku? Kan PJnya Airin", jawabku.


"Airin keluar, tadi dia nitip ini ke kamu," Tata menyodorkan titipan Airin kepadaku


Aku hanya manyun, bangkit dari dudukku menuju petugas catering. Aku menghampiri petugas catering yang menggunakan baju t-shirt putih berkerah serta celana levis hitam.


"Maaf, Mas," sapaku kepada petugas catering.


Petugas catering membalikan badan ke arah suara yang memanggilnya. Tatapan mereka tertegun, petugas catering seakan terpesona dengan sosok yang memanggilnya. Begitupun denganku, wajahku yang semula hanya dilapis blush pink tipis, kini menjadi merah merona. Bagaimana tidak, cowok yang setelah enam bulan terakhir ini tidak pernahku lihat, kini tengah berdiri di depan mata. Jantungku seakan berdegup kencang.


"Assalamualaikum, La", sapa Rama ramah.


"Eh.. waalaikumsalam", Aku tergugup.


"Kuliah di sini, La?", tanya Rama.


"Iii.. iya, Ma" sahutku

__ADS_1


"Kamu yang ngisi cateringan acara ya?", lanjutku berusaha menetralkan suasana hati.


"Iya, La", jawab Rama.


Aku mengajak Rama duduk di depan panggung membahas soal catering sambil menikmati setiap acara agar terasa lebih santai. Sesekali Rama menatap wajahku yang duduk di sampingnya. Aku berkali-kali menunduk menyembunyikan wajah yang tengah merona merah karena malu. Saling melempar tawa, berbagi canda.


"La, aku mau tanya sesuatu, serius, boleh?" tanya Rama.


Seketika suasana berubah menjadi tegang.


"ii.. ya boleh", sahutku.


"La, kamu mau jadi penggenapku?" tanya Rama lirih.


"Maksudnya?" Aku balik bertanya.


"Ya, sebagai orang yang menemaniku hingga tua nanti, aku dulu pernah memintamu kepada ayahmu, namun... Ya kamu tau sendirilah.. Aku ditolak, sebab belum punya apa-apa, tapi kini aku sudah bisa bertanggung jawab, insyaallah. Aku akan buatmu bahagia", tutur Rama panjang.


Aku terdiam, aku pandang wajah Rama yang tengah menghadap ke panggung. Jantungku semakin berdegup kencang, seketika punggungnya terasa panas dingin mendengar ucapan Rama.


"La, aku butuh jawaban kamu, kalau memang kamu mau.. Aku akan berjuang.. lagi.. aku akan mengulang, memintamu pada ayahmu, tapi kalau memang kamu menolak, aku akan berhenti" jelas Rama kembali.


Aku menelan liur, "Iya Ma, aku mau", aku menundukkan wajah.


"Terima kasih jawabanmu, semoga Allah mudahkan" jawab Rama.


****


****


Malam ini rumah ayah kedatangan tamu, papa, ibu dan Aira. Pasti akan ada hal penting yang dibicarakan mengapa mereka berempat sampai berkumpul malam ini.


"waaah.. si anak manja datang", celetuk Dheo pada Aira.


Aira hanya manyun digoda Dheo.


"Manja.. yok aku ajari main PS.. Ayah baru beliin kemarin", ajak Dhio menarik tangan Aira.


Aira tersenyum, mengikuti Dhio. Aira memang lebih akrab dengan Dhio, Dhio lebih bersahabat kalau dengan perempuan, berbeda dengan Dheo. Dheo lebih sering usil.


Papa, ibu, ayah dan mama duduk di ruang keluarga, berbincang-bincang. Sementara aku tetap berkurung diri di kamar, tak berminat untuk bergabung dengan sesiapa.


"Arlaaaaa.... sini duluu", panggil mama.


Aku ngedumel kesal.


"Iya Ma, bentaar" sahutku.


Aku keluar kamar dengan wajah kusut baru bangun tidur, menghampiri ke empat orang tuaku. Ibu hanya menggeleng-geleng kepala melihat tingkah anak perempuannya itu. Aku duduk di samping mama, aku berasa seakan akan disidang, seolah telah melakukan kesalahan yang fatal. Tanpa menunggu waktu lama ayah membuka pembicaraan. Pembicaraan mengenai lamaran Rama.

__ADS_1


"Kalau ayah pribadi, sebenarnya ayah kurang setuju kamu dengan dia, entahlah.. berat saja hati untuk melepasmu dengannya", ujar ayah.


Aku menghela napas panjang.


"Ibu pun begitu La, masih terlalu muda untuk kalian menikah, lagi pula kita tidak tahu latar belakang keluarga mereka. Kita tak mengenal mereka." lanjut ibu.


Aku semakin menghela nafas, sebab orang tua kandungku tak menyetujui. Aku memandang papa, mengharap papa dapat membujuk hati orang tuaku.


"Bagaimana menurut Pak Ardi?" tanya yah pada apa.


Papa memandangku.


"Kalau saya, pun kurang setuju, sebab Arla masih kuliah, dan menurut info yang saya tahu dari tetangga, Rama itu tak memiliki ayah, bukan meninggal. Tapi pergi tanpa kabar",


"Dan biasanya sifat orang tua akan menurun pada anaknya, mau tidak mau, sadar tak sadar" lanjut ibu.


Aku sedikit emosi mendengar perkataan ibu, sebab tak selamanya begitu. Mama menggenggam tanganku, menenangkan hatiku.


"Kalau kamu sendiri bagaimana?" tanya mama.


"Arla mau. Arla yakin dengan dia", jawabku.


"Lagi pula, awalnya dia ditolak karena tak punya harta, sekarang dia sudah bekerja dan punya usaha sendiri. Berarti sudah dapat dibuktikan bahwa dia pekerja keras. Perkara dia dari keluarga brokenhome, lantas apa bedanya dia dengan Arla..? Arla pun dari keluarga yang tak sempurna. Hanya saja berbeda bentuk" tuturku.


"ARLAAA... MULUT KAMU!!!" Ibu emosi mendengar perkataanku.


Aku terdiam sejenak.


"Kenyataan Bu, Ibu dan Ayah bercerai dan menikah lagi, itu sudah cukup membuktikan kalau ibu dan ayah gagal dalam rumah tangga, hanya saja bedanya, ibu atau ayah menemukan pasangan baru, ibu Rama tidak" jawabku lantang.


PLAAK.. ibu melayangkan tangannya tepat di wajahku, aku terdiam.


"Lancang mulut kamu La, hanya karena laki-laki itu", ujar ibu emosi.


Aku terdiam, ku sembunyikan wajahku di pundak mama. Mama hanya mengelus tanganku.


Pertentangan dan adu mulut pun terjadi. Aku berusaha memperjuangkan apa yang aku mau dan menyakinkan ke empat orang tuaku.


"Arla tetap ingin menikah, dari pada Arla berbuat yang macam-macam. Apa itu yang Ayah, Ibu, Mama, Papa mau...?" ancamku dalam isak tangis.


"Oke.. Kalau memang anak itu juga yang kamu mau, Ayah restui, tapi kalau suatu saat terjadi sesuatu dengan pernikahan kalian, itu tanggung jawab kalian. Jangan mengadu pada kami", tegas ayah. Ibu hanya mengangguk membenarkan kata ayah.


"Baik ayah, Arla janji, apapun yang terjadi sama kami nanti Arla tak akan mengadu. Arla akan buktikan kalau pilihan Arla tidak salah." tegasku.


Akhirnya keempat orang tuaku menyetujui pernikahanku dan Rama. Walau dengan berat hati.


...****...


Jangan lupa tinggalkan komentar dan kritik untuk aku ya, sebagai perbaikan dan koreksi buat aku. Dan jangan lupa like setiap membaca episode nya. 😊😊

__ADS_1


__ADS_2