
Rama baru saja selesai melafaskan munajat nya pada Pemilik langit, dilipatnya sajadah yang sengaja ia bawa dari rumah. Solat Ashar berjamaah baru saja selesai. Satu persatu jamaah meninggalkan mesjid, beberapa masih tampak khusuk dalam rapal harapan kepada Sang Maha Pemberi. Papa pun selesai dengan kalimat-kalimat permohonannya, Ia pun berniat menghampiri Rama yang perlahan berjalan menuju serambi mesjid, Rama biasanya akan duduk barang sejenak di serambi, memerhatikan anak-anak kecil yang bermain di serambi.
"Assalamualaikum, Ma", tegur papa.
"Waalaikumsalam, Pak" Jawab Rama.
"Lagi apa?" tanya papa.
"Ga ada Pak, liatin adik-adik ini main aja Pak"
"Oh, bisa kita bicara sebentar?" tanya papa kembali.
"Oh tentu, Pak. Ada apa Pak?" lanjut Rama.
Papa memulai pembicaraan dengan menanyakan berbagai kegiatan Rama, tentang usahanya, sekedar basa-basi sebagai pembuka cerita. Sebelum masuk ke pembicaraan inti.
"Jadi begini, soal lamaran kamu ke ayah Arla bulan lalu," papa menghentikan ucapannya.
Rama memandang papa, menunggu kelanjutan ucapan papa. Namun papa tetap diam, Rama tak sabar.
"Iya, jadi gimana Pak", tanya Rama antusias.
"Kamu.. mengharapkan saya menjawab apa?" seloroh papa.
Rama menghela nafas, "Harapan saya, jawaban yang membahagiakan kedua belah pihak, Pak"
Papa tersenyum, "Kamu kami terima, silahkan datang kapan kamu bisa untuk lanjut lamaran, ya itupun kalau kamu sudah benar-benar siap".
Bukan kepalang bahagia hati Rama mendengar ucapan Papa. Ingin rasanya ia berteriak dan menyuarakan isi hatinya. Tapi tak mungkin itu dia lakukan.
"Alhamdulillah. Terima kasih, Pak", hanya jawaban itu yang keluar dari mulut Rama. Papa hanya tersenyum dan mengangguk lalu bangkit dan meninggalkan Rama dengan senyum bahagia yang masih merekah di wajahnya.
****
Buru-buru Rama pulang ke rumah, dan menceritakan semuanya pada Mala, ibunya. Mala turut bahagia mendengar cerita anak semata wayangnya. Namun dalam hati Mala sedikit bersedih, sebab dengan begitu ia harus berjuang sendiri, Rama sudah akan berkeluarga, tentu saja waktunya untuk dirinya akan berkurang, ia akan disibukan dengan istri dan anaknya kelak. Tapi tak mengapa, sebab bagi Mala, kebahagiaan Rama adalah hal yang nomor satu.
"Jadi kapan rencana kamu mau melamar, siapa.. siapa nama calon menantu ibu itu?" tanya Mala.
"Arla Bu, aku belum tahu Bu kapan. Menurut ibu?" tanya Rama kembali.
"Akhir minggu ini saja, kita juga harus mempersiapkan sesuatu yang akan dibawa ke sana" saran Mala.
__ADS_1
"Baik Bu, Aku serahkan semuanya pada Ibu, aku ngikut saja. Yang terbaik menurut Ibu, insyaallah baik untukku", ujar Rama pada Ibunya.
Mala mengangguk.
****
Siang ini di rumah ayah seluruh anggota keluarga tampak tengah repot mempersiapkan segala macam sesuatu. Malam ini aku akan dilamar oleh lelaki pilihan hatiku. Lamaran sekaligus penentuan tanggal pernikahan kami. Bukan main bahagianya hatiku hari ini, bahagia sekaligus rasa tak percaya bahwa sebentar lagi akan menjadi istri orang.
"La, ga nyangka ya, akhirnya kamu nikah juga sama Primus itu", ledek Airin.
"Primus?" tanyaku heran mendengar Airin menyebut Rama primus.
"Iya, Pria Musholla. Hahahaha", gelak Airin.
Aku manyun dan menyipitkan mata ke Airin.
"Ciee.. yang kesel babangnya diledekin", canda Airin.
"Gimana sih rasanya La?", lanjut Airin lagi.
"Deg degan aku tu Rin, rasa ga percaya kalau bentar lagi aku bakal jadi bini orang. Pagi-pagi nyiapin sarapan, ngurusin dia, kalau aku stres bisa manja-manja. Waaah... ga sabarnya", aku mulai berangan.
"Dasar otak mesum", kesalku.
"Yok ke salon, dandan. Biar tampil beda nanti di depan calon suami", ajak Airin.
"Wokee.. Yuk".
****
Sementara Mala tengah sibuk memilih perhiasan berbentuk cincin dan gelang untuk calon menantunya nanti, negosiasi harga, hingga akhirnya Mala dapat memboyong sebentuk cincin belah rotan dengan bersematkan permata berwarna merah muda, seuntai gelang berkait beberapa permata berwarna merah muda. Cantik sungguh ketika di tata dalam kotak perhiasan.
Lepas membeli perhiasan, Mala mencari pakaian untuknya dan anak semata wayangnya, pokoknya di hari yang spesial ini aku dan Rama harus tampil berbeda, pikirnya. Berbagai parcel-parcel berupa buah, perlengkapan make up dan lain sebagainyapun tak lupa dipersiapkan oleh Mala. Tak kalah sibuk dengan orang-orang di rumah papa.
****
Usai solat Magrib, tamu-tamu mulai berdatangan ke rumah ayah, tak banyak, hanya keluarga dekat saja. Begitu pun dengan keluarga Rama. Hanya ada Rama, Mala, Pak Uwo, Mak Uwo, dan adik bungsu Mala. Hanya itu keluarga yang mereka punya di Kota Pekanbaru ini. Malam ini Rama tampak berbeda, Ia mengenakan kemeja putih polos yang dilapisi dengan jas berwarna maroon, serta celana senada dengan jas nya, rambut tersisir rapi dengan potongan pompadour sangat sepadan dengan wajah ovalnya nan rupawan.
Mala pun tak kalah cantik malam ini, lama sudah Mala tidak menyapukan make up ke wajahnya yang beberapa waktu lalu sempat menua tergerus pahitnya hidup, blush tipis berwarna merah muda, polesan lipstick berwarna merah, ditambah polesan bedak minimalis, mengembalikan wajah asli Mala yang cantik sesungguhnya, cantiknya semakin memesona dikarenakan kebaya maroon yang ia kenakan. Sengaja ia memilih warna senada dengan putra semata wayangnya.
Kedatangan mereka disambut hangat oleh keluarga kami, papa, ibu, ayah dan mama menyalami tetamu dari pihak Rama. Sapa, obrolan ringan, dan sesekali gelak tawa terurai dari masing-masing rona wajah keluarga, yang saling berkenalan.
__ADS_1
Sesekali Rama memandang perempuan yang malam ini tengah duduk tersipu di antara ke empat orang tuanya, perempuan yang terlihat begitu anggun dengan balutan gaun berwarna silver berhiaskan taburan manik-manik putih, wajah ayu dengan polesan make up minimalis, rambut panjang yang dikepang bagai putri-putri kerajaan dalam dongeng, serta senyum manis yang terpancar di wajahnya, membuat Rama serasa enggan tuk memalingkan pandangan.
Malam ini lamaran sekaligus penentuan hari pernikahan mereka. seserahan dari pihak Rama telah diterima oleh pihak keluargaku. Di awal acara berjalan lancar, hingga akhirnya keluargaku meminta uang hantaran yang sedikit memberatkan keluarga Rama. Pak Uwo Rama seakan keberatan dengan permintaan keluargaku.
"Maaf, pihak keluarga kami sedikit keberatan dengan jumlah yang keluarga Bapak ajukan, dan saya rasa kita tak perlu membuat pesta semewah itu, apa tidak mubazir..?" ujar Pak Uwo
"Oh tidak bisa. Anak saya ini anak pertama. Saya ingin yang terbaik untuk anak saya", bantah ayah.
"Iya benar, lagi pula itu bukanlah jumlah yang terlalu besar, sebab kita bagi dua jumlah itu", papa menambahi.
"Ya sudah, bagaimana dengan kamu Rama?" tanya Pak Uwo pada Rama.
Rama menghela nafasnya, "Baik Insyallah saya penuhi", jawabnya mantap meski tergores raut keraguan di wajahnya. Sekilas ia menatapku yang melemparkan senyum ke arahnya. Dalam hati Rama tak yakin mampu memenuhi permintaan keluargaku, meski ia memiliki usaha catering, namun tidak akan cukup dalam satu bulan mengumpulkan dana sekian banyak, bila dalam sebulan tidak ada maka keluargaku membatalkan. Perjalanan pulang Rama terus berpikir, ini bukan cinta Sangkuriang, yang sanggup memenuhi keinginan Dayang Sumbi dalam satu malam dengan bantuan jin, pikirnya.
"Sudahlah, Ma, kau lepas saja perempuan itu", ujar Mala ketika sampai di rumah.
"Betul itu, Pak uwo rasa itu cara halus keluarga mereka untuk menolak mu," Timpal Pak uwo
"Ia benar, mereka tahu ketidakmampuan mu, keterbatasan kita. Makanya mereka ajukan hal begitu", Mak Uwo menambahkan.
Rama hanya diam tak berkomentar apapun, ia hanya duduk tertunduk memandangi ujung kakinya.
*****
"Saya rasa, Bang, dia ga sanggup memenuhi yang kita minta, biaya dari mana, sementara mereka baru merintis usaha", Ujar papa ke ayah.
"Iya, Saya yakin sekali begitu, dalam setahunpun belum tentu tercukupi dana segitu banyak. Biarlah dia tahu kalau keluarga kita sebenarnya memang tak sebanding dengan mereka", sahut ayah.
"Baguslah kalau begitu, dengan begitu tak jadi dia menikah dengan Arla, sebetulnya saya keberatan Arla harus menikah muda, masih banyak cita-cita yang dapat ia kejar ke depannya", lanjut papa.
"Ia kamu benar, aku hanya menghargai cara laki-laki itu." jawab ayah.
Mereka mengobrol di teras sambil menikmati rencana licik mereka yang berhasil. Hingga tak menyadari kalau aku sudah lama berdiri di belakang mereka,
"Jadi seperti ini cara Ayah dan Papa mematahkan hati Arla? Dengan berpura-pura menyetujui, kemudian kalian buat rencana yang secara tak langsung seolah menjatuhkan orang lain. Memang dia tidak sekaya keluarga kita, oleh sebab itu kalian sangat yakin dia tidak mampu memenuhi keinginan kalian. Arla kecewa. Arla tidak menyangka kalau Ayah dan Papa sesombong ini, kalian angkuh dengan semua harta yang kalian punya. Arla yakin Rama sanggup memenuhi apa yang kalian mau" ujarku dengan tetesan air mata yang terus menetes membasahi pipi yang berbalur make up.
Ayah dan papa kaget, tak mampu mereka berkata apa-apa, hanya saling menatap.
...****...
Jangan lupa tinggalkan komentar dan kritik untuk aku ya, sebagai perbaikan dan koreksi buat aku. Dan jangan lupa like setiap membaca episode nya. 😊😊
__ADS_1