HATI YANG MUSNAH

HATI YANG MUSNAH
LEPASKAN RASA


__ADS_3

Dua pekan sudah aku tidak melihat Rama. Jika dilihat dari lamanya dia pergi tabligh akbar, seharusnya dia sudah kembali, tapi tadi ketika jam solat Zuhur aku tidak melihatnya. Ya sudahlah mungkin berakhir sudah perburuan cintaku. Mungkin lebih baik aku lepas saja perasaanku ini. Tak lagi lah aku menantinya di depan teras.


Ku kemas laptopku, ku ayunkan langkah gontaiku ke kamar, entahlah bisa-bisanya aku merasa kecewa, sedih tak dapatlah aku ungkapkan rasa yang ku rasa ini. Hanya karena aku tidak melihat dia beberapa hari ini. Mungkin rindu, mungkin, mungkin, mungkin.. Ah.. Aku hanya dapat menghela nafas panjang atas segala kemungkinan yang bergelayut di benakku.


***


Magrib telah berlalu, aku dikejutkan oleh suara cempreng Aira yang tak henti berteriak memanggil dan mengetuk pintu kamarku.


Tok.. tok.. tok (pintu diketuk)


"Kaaaak.. Kak Arlaaaa... Kaaak.. Kak Arla," pekik Aira dari luar kamar.


Terganggu, sangat terganggu. Rasa inginku benamkan Aira ini ke dalam tanah. Tapi apalah daya, sayangku telah tertumpah ruah pada gadis berjasad mungil itu. Dengan jengkel aku buka pintu kamarku. Tampang tidak bersalahnya tersenyum saat pintu aku buka.


"Apaan? Sedetik aja kamu ga ganggu kakak, bisa ga?" Tegasku padanya.


"Kakak ni, Maghrib malah tidur, bukannya solat", sahutnya manja.


"Cuti", Jawabku singkat.


"Ohh.. Ibu suruh makan tu," Lanjut Aira sambil berlalu ke ruang makan.


Kebetulan cacing di perut ku minta dinafkahi. Langsung saja aku ikuti langkah Aira menuju ruang makan.


"Ya Allah, anak gadis jam segini baru bangun, belum juga mandi langsung duduk di meja makan, masih muka bantal, iler berserak dimana-mana", Repet ibu ketika melihatku.


"Ya ampun Bu, santai aja kali. Yang penting pondasinya kokoh. Jadi mau gimanapun tetep cantik," sahutku sembari mengambil piring dan menyendok nasi.


"Ya.. Tapikan kak cantik sih cantik. Kalau jorok mana ada yang mau," celetuk Aira.


Aku tak komentar apa-apa aku nikmati saja hidangan yang ada dihadapanku. Nenek hanya tersenyum melihat tingkahku.


Tengah menikmati santap malam, seseorang memanggil dari luar. Suara lelaki, entah siapa.

__ADS_1


"Assalamualaikum.. Permisi.. Pak Ardi," Teriak lelaki itu.


Kami yang di meja makan hanya saling berpandangan dan saling kode agar ada yang bangkit dan membukakan pintu. Pandangan mata ibu langsung tertuju ke arahku. Aku hanya bergeming. Namun mata ibu yang melotot memaksaku untuk bangkit dan beringsut menuju pintu ruang tamu.


"Wa'alaikumsalam", Sahutku sambil membukakan pintu.


Alangkah kaget bukan kepalang aku melihat laki-laki yang bertamu dan mengganggu makan malamku itu. Aku tertegun memandangnya.


"Mba, bapaknya ada", tanyanya membuyarkan lamunan ku.


"Eh Rama.. Papa ga ada. Keluar kota, ada apa", jawabku.


"Oh, ini mau menyerahkan undangan rapat, lusa ada rapat di Musholla terkait pembangun tempat wudhu," Jelas Rama padaku.


Mataku tak lepas dari wajahnya. Aku pandangi setiap inci wajahnya sembari berkomentar sendiri dalam benakku, alisnya tebal juga ya, matanya bening.


"Mba.. bisakan ya sampaikan undangannya ke Pak Ardi," ulangnya.


"Oh bisa..bisa" jawabku.


"Sebentar," panggilku menghentikan langkahnya.


"Ya Mba,"


"Boleh aku tanya sesuatu?" lontar mulutku.


"Tafadhol" jawabnya


"Maksudnya," Tanyaku tidak paham dengan ucapannya.


Ia tersenyum, "Silahkan".


"Salah ga kalau aku suka kamu," Kata-kata itu terlontar tanpaku rencanakan sebelumnya.

__ADS_1


Rama terdiam beberapa saat, sesekali dia memandangku. Ia tersenyum, senyum yang membuat jantungku berdebar seakan hampir copot. Aku pun terdiam sembari menggigit bibirku, menanti apa reaksi dia.


"Tak salah, itu hak setiap umat manusia, disukai dan menyukai" jawabnya.


Aku masih terdiam, hanya mengangguk saja.


"Ada lagi yang ingin ditanyakan? Kalau tak ada saya pamit, sebab sudah mau masuk waktu Isya," Lanjut Rama.


"Tak ada, iya silahkan", jawabku singkat.


"Assalamualaikum" Ucapnya dan berlalu.


"Wa'alaikumsalam", jawabku sembari menutup pintu.


Aku kaget bukan kepalang, saat pintu ditutup. Dua anak beranak itu ternyata menguping pembicaraan kami.


"Hmmm..Salah ga kalau aku suka kamu" Ujar ibu pada Aira.


"Tak salah, hanya saja kamu agresif" jawab Aira.


Aku masih berdiri memandang tingkah dua beranak yang memperagakan caraku tadi.


"Ciee.. Anak ibu udah pandai cinta-cintaan. Nekat banget kamu La, langsung bilang," guyon ibu.


"Kalau ibu dulu sama ayah kamu, sok jual mahal. Gak mau bilang, gengsi dong" lanjut ibu.


"Kak Arla ini Bu, bukan cewek cemen", sahut Aira sembari gelendotan di tanganku.


"Apa siih... Udah ah.. ni undangan buat Papa," ketusku dan berlalu.


"Cieee, ada yang malu... Tapi jawabannya masih ngambang itu," teriak Ibu.


Ku rebahkan badanku di kasur, sembari berpikir, mengapa aku bisa senekat ini? Agresif, betul juga ucapan Aira. Tapi kalau tidak aku sampaikan, aku tak akan pernah tau jawabannya. Tak apalah yang penting rasa itu telah lepas. Airin harus tau apa yang terjadi, lama juga aku tak nongkrong bareng tu anak. Besok aku harus ke kampus, untuk berbagi cerita dengan itu anak.

__ADS_1


...****...


Jangan lupa tinggalkan komentar dan kritik untuk aku ya, sebagai perbaikan dan koreksi buat aku. Dan jangan lupa like setiap membaca episode nya. 😊😊


__ADS_2