
Semenjak berbadan dua, aku menjadi lebih manja dari biasanya. Lebih malas bergerak, segala kebutuhan harus dipenuhi oleh Rama. Aku tak mau jauh dari Rama walau hanya sebentar. Sementara Rama, tengah disibukan dengan seluruh aktivitas cateringnya semakin hari semakin berkembang pesat.
"Sayang, kayaknya aku harus keluar kota deh, soalnya ada orderan di daerah sana, Kamu ga papa ya tinggal di rumah dulu", ujar Rama pada Arla.
Aku manyun mendengar ucapan Rama.
"Hmmm... Ga mau.. Maunya ikut"
"Aku cuma bentar Sayang, cuma dua hari. Itu pun aku sibuk banget, sekalian mau cari lokasi, karena berniat mau buka cabang di sana" jelas Rama.
"Buka cabang? Beneran?" aku riang.
"Iya sayang, Alhamdulillah.. Usaha kita lancar. Dan di daerah sana belum ada cateringan, jadi aku pikir, ini peluang besar buat kita buka cabang di sana." Rama menjelaskan.
Aku hanya mengangguk.
"Jadi.. Kamu ga papa kan tinggal dulu? Nanti kamu nginap di rumah ibu atau ayah aja ya.. Nanti aku antar", pujuk Rama.
"Iya deh. Aku mau di rumah ayah aja.
****
Rama pergi ke luar kota untuk urusan cateringnya sekaligus mencari lokasi yang tepat untuk membuka cabang barunya. Aku terpaksa tinggal di rumah ibu, sebab ayah dan mama keluar kota untuk mengurus bisnis mereka. Tak mungkin aku hanya tinggal bersama dua adik kembarku yang usil itu dalam keadaan hamil muda.
"La, kamu bantuin ibu masak sini!" panggil ibu dari dapur.
Aku yang terbaring di depan TV hanya diam bergeming.
"ARLAAAA, kamu ga denger ibu", pekik ibu.
"Kak Arlanya pura-pura tidur Buuuu." teriak Aira.
Aku langsung mencubit lengan Aira yang mengadu.
"Aduh.. Sakit tau.." Aira mengelus-elus lengan bekas cubitanku. Aku berdiri malas menyeret kaki menuju dapur menemui ibu.
"Apa sih Bu..? Arla tu lemes banget." keluhku.
"Halah La, La.. Bukan kamu aja yang hamil di dunia ni. Tapi cuma kamu doang yang hamil pemalasnya ampuuun gini" repet ibu.
"Arla bukan buat-buat Bu, Arla memang lemes", elakku.
"Ga ada, ga ada. ibu tau kamu. Sekarang kamu iris-iris ni sayuran dan bawang", sodor ibu padaku.
Aku manyun, kuraih sayuran dengan enggan. Sementara ibu terus berceloteh. Melontarkan nasehat demi nasehat kepada anak sulungnya ini.
"La, ibu mau tanya", ujar ibu dengan wajah serius.
"Apa Bu?"
__ADS_1
"Yang waktu itu, luka dibibir mu, itu Rama yang buatkan?" tanya ibu.
Aku hanya terdiam, terus saja mengiris-iris bawang merah.
"La.. coba jujur. Aku ibu mu, Aku tahu apa yang terjadi pada mu", lanjut Ibu.
"Engga Bu, ga mungkin Rama buat begitu ke Arla", jawabku berbohong.
Ibu mendekati wajahku. Dipandangnya mataku lekat.
"Kamu bohong Nak", singkat Ibu.
Aku terdiam. Tak dapat menjawab ucapan ibu, sebab aku paling tak pandai untuk berbohong. Dan ibu akan selalu tahu setiap kebohongan yang ku buat.
"Kalaulah memang Rama yang melakukannya, pasti ada hal yang membuatnya seperti itu", Ibu melanjutkan.
"Hanya cemburu Bu", akhirnya aku menjawab. Aku menjelaskan detail kejadian mengapa Rama sampai melayangkan tamparan itu ke wajahku.
"Tapi Bu, di samping itu, Rama suami yang baik Bu, ia tak pernah menuntut Arla untuk melakukan pekerjaan rumah apapun. Semua Rama yang kerjakan, kalaupun Rama pernah memukul Arla itu semua karena Arla yang tak pandai menjaga amanah dia", aku membela Rama.
Ibu hanya menyimak apa yang kusampaikan.
"Ayah mu pun dulu begitu La, Ibu hanya tak ingin kamu merasakan apa yang ibu rasakan dulu. Hidup dengan lelaki yang suka main tangan itu, rugi dua kali La. Fisik kita terluka, batin kita tersiksa", lanjut ibu.
"Jadi.. ayah begitu Bu? Apa itu yang menyebabkan Ibu bercerai? Lantas mengapa mama dapat bertahan dengan ayah?" Aku menanyakan segala hal yang baru kutahu.
Ibu mengangguk dan berkata, "Ratna itu penyabar dan tegas. Hingga dia dapat membuat ayah mu tunduk. Sementara Ibu, ibu orang tak suka dibatasi dan diatur laki-laki, jadi selalu tak ada kecocokan diantar ibu dan ayah mu. Ibu lebih memilih bercerai dari pada harus menahan hati dalam rumah tangga yang bagaikan bara api" jelas ibu.
"Kamu sebagai istri, ga bisa biarkan semua hal rumah dilakukan oleh suami mu. Jangan sampai itu jadi bumerang buat kamu nantinya, kamu juga punya tanggung jawab atas suamimu, bukan hanya soal urusan ranjang", lanjut ibu.
Aku hanya mengangguk dan diam menyimak nasehat Ibu. Sudah lama aku mengenal ibu, dan baru kali inilah aku melihat ibu berbicara dengan begitu serius ketika bersama. Itu artinya ada harapan besar yang Ibu harapkan padaku.
"Iya Bu, Arla akan buktikan pada semuanya, kalau suami pilihan Arla adalah suami yang terbaik, dan Arla bisa menjadi istri yang baik", jelasku.
****
Malam ini Rama pulang dari luar kota, aku sengaja pulang lebih dulu ke rumah, menyiapkan segala macamnya, beberes rumah yang sudah dua hari tak dihuni. Aku juga memasak rendang daging kesukaan Rama. Aku berniat mengubah sikap setelah mendengar nasehat ibu. Aku takut nanti suatu saat Rama menemukan wanita yang lebih dariku dan meninggalkanku.
"Assalamualaikum", panggil Rama dari luar.
Aku tergopoh-gopoh membukakan pintu buat Rama.
"Waalaikumsalam", sahutku dari dalam rumah.
Kubukakan pintu untuk Rama, ku sambut Rama dengan senyuman manis.
"Eh, kok seger banget istri aku?" tanya Rama heran
Aku hanya tersenyum, dan mengikuti Rama dari belakang.
__ADS_1
"Eh ini minum buat aku?" tanya Rama ketika melihat secangkir susu coklat hangat di atas meja makan.
"Iya sayang," sahutku singkat.
"Kamu kenapa Sayang?" tanya Rama lembut.
"Aku cuma ingin meladeni mu, layaknya seorang istri", jawabku.
Rama tersenyum melihatku. Dalam hati ia begitu bahagia ada perubahan oleh ku.
Selepas Solat Maghrib berjamaah, aku dan Rama makan malam dengan menu yang sudah kusiapkan. Tiga bulan menikah, inilah kali pertama Rama mencicip masakan yang dibuat oleh istrinya. Rendang daging yang dibuat oleh Arla sebenarnya masih belum matang, bumbu yang diracikpun kurang pas, tapi Rama berusaha untuk menikmatinya, ia takut Arla kecewa dan tak mau lagi mengerjakan untuk selanjutnya.
"Enak sayang?" tanyaku.
"Hmm.. enak kok", pandai juga ya kamu masak ternyata sayang.
"Selera kamu payah sayang", jawabku singkat.
"Kok gitu?" Rama heran.
"Ini itu ga enak"
"Enak kok sayang, ni aku nambah lagi" lanjut Rama.
"Aku tahu kamu bohong, kamu cuma mau nyenangin aku aja"
Rama terdiam, ia lanjut menyuap nasi ke mulutnya.
"Ini itu sengaja aku buat gini, mau tau respon kamu gimana. Dagingnya juga sengaja dibuat ga terlalu mateng, bumbunya ngasal aja, tapi kamu malah bohong. Bilang ini enak" Lanjutku.
Rama terdiam, ia berhenti makan.
"Sayang, aku sengaja. Agar kamu tak kecil hati, aku ga mau kamu kecewa. Aku tau kamu masak ini dengan susah payah" ujar Rama.
Aku hanya tersenyum. Hatiku bahagia.
"Oh iya, aku jadi buka cabang di sana. Lokasinya udah dapat. Dan kamu tau..? Aku dapat lima pelanggan tetap di sana, pesanan untuk catering karyawan", ujar Rama.
"Waaah.. Alhamdulillah ya Sayang, semoga lancar terus usaha kamu"
"Kita sayang. Bukan kamu" sahut Rama.
Aku mengangguk, "Eh berarti aku jadi sering ditinggal dong"
"paling cuma sehari aja, nanti kadang-kadang kamu aku ajak liat proyeknya"
Aku mengangguk.
...****...
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan komentar dan kritik untuk aku ya, sebagai perbaikan dan koreksi buat aku. Dan jangan lupa like setiap membaca episode nya. 😊😊