
Kring Kring...
Bell istirahat berbunyi bertanda hukuman Livia sudah berakhir,Livia langsung berjalan menuju kelasnya untuk menghampiri para sahabatnya.
Sesampainya di kelas Livia disambut oleh ketiga sahabatnya yang memang sedang menunggunya.
"Udah selesai Yaa"tanya Neisya dibalas anggukan oleh Livia,Livia langsung mendudukan dirinya dikursi samping Neisya.
"Kasian dedek Via jadi cape"ledek Zahra.
"Gue penasaran kok Pak Rizal bisa tau ya kalau Livia tadi telat padahal kan Livia masuk waktu tu Guru keluar"heran Anggun.
"Ada yang cepu kali"singkat Zahra mendapat anggukan dari Neisya.
Livia yang semula menutup mata langsung duduk tegak mendengar kata cepu.
"Dih mainnya ngadu caper banget"kesal Neisya.
"Kira kira siapa ya"tanya Anggun membuat sahabatnya yang lain ikut berpikir.
"Bentar,tadi pas gue masuk si Clara keluar terus Clara masuk kembali berbarengan dengan Pak Rizal,apa dia ya?"perkataan Livia membuat sahabatnya langsung mengetahui siapa dalangnya.
"Nah nah itu yang gue pikirin dari tadi,waktu dia masuk bareng Pak Rizal gue udah ngerasa aneh"jawab Neisya.
"Gak salah lagi sih"sambung Zahra.
"Iya apalagi dia kan emang suka nyari gara gara ke Livia,kesempatan dia ini mah"kata Anggun mendapat anggukan yang lain.
"Udahlah nanti kita bicarain lagi,gue laper kantin kuy"ajak Livia.
"Yoklah"mereka berjalan beriringan untuk keluar kelas hingga sampai dipintu kelas mereka berpapasan dengan Clara dan sahabatnya yaitu Michel dan Lisya,Neisya yang terlanjur kesal dengan Clara menghentikan langkah Clara.
"Maksud lo apa ngaduin Livia ke Pak Rizal"tudung Neisya.
"Apasih"kesal Clara karna Neisya menghalangi jalannya.
"Hallah soksokan gak tau sigala lagi"tambah Neisya.
Melihat Neisya sudah mulai emosi Livia pun maju menghentikan Neisya.
"Udah Syaa biar gue aja"kata Livia dituruti Neisya.
"Kalian gak ada kerjaan ya pake ngehalangin jalan orang sigala"marah Clara.
"Gak kebalik ya,kita atau lo yang gak ada kerjaan pake cepuin gue ke Pak Rizal"skakmat Livia membuat Clara terdiam.
"Lain kali kalau mau caper ke Guru,jangan ngelibatin orang lain,ngerti"sambung Livia.
__ADS_1
"Maksud kalian apa sih,cepu cepu apaan gue gak ngerti"Clara masih dengan dramanya.
"Gue tau lo gak sebodoh itu sampai gak ngerti apa maksud gue Clara"Livia mulai terpancing.
"Oh gue paham sekarang,soal lo yang terlambat tadi ya, hahah gimana enak gak kena hukum"tantang Clara.
"Kalau soal hukumannya gue udah biasa cuman ya gue gak suka aja sama orang yang cepu kayak lo"balas Livia.
"Lagian ya gue heran deh sama lo,kok lo suka banget sih nyari masalah ke gue,bisa gak sehari aja lo gak ngurusin hidup gue"kesal Livia.
"Gak bisa,gue jamin hidup lo gak akan tenang"balas Clara tersenyum Licik.
"Sampai kapan"tanya Livia.
"Sampai gue ngerasa puas"jawaban Clara membuat Livia memijat kepalanya.
"Udahlah ya,ngapain ngomong sama orang stres gak akan pernah beres gue jamin,mending ngantin yok"kata Zahra membuat Livia melihat kearahnya,Zahra langsung membawa pergi Livia diikuti sahabatnya yang lain.
"Enak aja!,GUE NORMAL YA!"marah Clara dikatain stres tidak diperdulikan oleh mereka.
Livia dan sahabatnya berjalan beriringan ke kantin sambil mengobrol santai sampai suara seorang Guru menghentikan pembicaraan mereka.
"LIVIA LADIBA!"
Livia yang mendengar namanya terpanggil reflek menghentikan langkahya.
"MAMPUS"setelahnya Livia langsung berlari meninggalkan para sahabatnya yang menatapnya heran.
"LIVIA LADIBA MAU KEMANA KAMU HAH"Pak Basri ikut lari mengejar Livia dan sekarang Guru dan Siswi itu berlarian dikaridor kelas XII.
"LIVIA BERHENTI KAMU"
"GAK MAU PAK"
Mereka melanjutkan aksi kejar kejaran tidak memperdulikan tatapan siswa/siswi lain yang lewat hingga sampai dikaridor kelas XI Livia melihat seseorang yang dikenalnya langsung saja dia bersembunyi dibalik cowo tersebut yaitu Iqbal.
Iqbal terkejut melihat Livia tiba tiba bersembunyi dibelakangnya.
"Eh eh kenapa kak"heran Iqbal.
"Tolongin gue Ball plis"
Iqbal yang tidak terbiasa berdekatan dengan cewe sedikit risih karna Livia berada tepat dibelakangnya apalagi Livia bersembunyi dengan memegang bahunya,ingin melarang pun Iqbal tak enak.
"Hufh hufh hadeuh,Livia kamu gak sopan membuat saya cape seperti ini"keluh si Bapak.
"Saya kan gak nyuruh Bapak lari,lagian Bapak ngapain ngejar ngejar saya"bela Livia.
__ADS_1
"Kalau gak perlu saya gak akan mau ngejar kamu,sekarang kasih tau dimana kamu sembunyikan sepatu saya"
"Gak mau"Livia menggelengkan kepalanya.
"Livia tidak sopan sekali kamu menjahili orang tua,cepat katakan dimana"geram si Bapak.
"Gak mau,Livia ngembek sama Bapak"
Si Bapak memegang kepalanya pening menghadapi murid seperti Livia.
"Iqbal kasih tau kakak kelasmu,suruh dia ambil sepatu Bapak,Bapak udah cape ngomong sama dia"kata si Bapak nyerah,Iqbal melihat kearah Livia.
"APA! salah sendiri si Bapak bikin gue kesel duluan"cemberut Livia melihat Iqbal melihat kearahnya padahal Iqbal tidak mengatakan apapun.
Iqbal hanya tertawa melihat respon Livia.
"Bapak marah marah sama kamu karna kesalahan kamu juga Livia,dimana sepatu Bapak"sabar si Bapak Livia hanya menggelengkan kepalanya.
"Oh Kamu mau nilai kamu Bapak kosongkan iya?"ancam Pak Basri.
"Bapak kok jahat banget sih"kesal Livia.
"Salah kamu sendiri,Gimana mau?"tawar si Bapak.
"Iya iya"pasrah Livia keluar dari belakang Iqbal,sebenarnya dia tidak terlalu mempermasalahkan soal nilainya berkurang tapi ini dikosongkan,habis dirinya sama Bunda nanti.
"Nah bagus ayo"ajak Pak Basri.
"Tapi janji jangan kosongin nilai saya ya pak"
"Iya,udah cepat"kata Pak Basri tidak sabar dia ingin istirahat karna lelah menghadapi Livia.
"Bentar pak"tahan Livia membuat Pak Basri kembali kesal.
"Apalagi sih Livia ladiba"geram Pak Basri.
"Bentar Pak pamit dulu"cengir Livia,Livia melihat kearah Iqbal.
"Dek gue pergi dulu ya,doain kakakmu ini selamat"kata Livia dibalas kekehan oleh Iqbal.
"Ketawa mulu heran,dijawab kek tapi gapapa karna ganteng gue suka"kekeh Livia,Iqbal hanya tersenyum menanggapi.
"Udah?,ayo cepat"frustasi Pak Basri melihat keduanya.
"Si Bapak mah sirik ae"
"Dadah dedek"senyum Livia sambil melambaikan tangannya dibalas anggukan Iqbal.
__ADS_1