
Selesai dengan urusannya bersamaan Pak Basri Livia menuju ke kantin karna dia mendapat pesan dari sahabatnya mereka sudah berada di kantin.
Livia berjalan dengan santai sesekali tersenyum bila ada yang menyapanya.
Sesampainya dikantin Livia mengedarkan pandangannya untuk menemukan meja tempat sahabatnya berada setelah menemukan Livia langsung pergi menghampiri mereka.
"Hola guys"sapa Livia.
"Dateng juga,dari mana lo,tadi juga kenapa tiba tiba dipanggil pak Basri,terus kenapa lo lari,kenapa juga Pak Basri ngejar lo"cerocos Neisya membuat Livia menatapnya datar.
"Udah?, kalau nanyak bisa satu satunya gak"sabar Livia.
"Hehe, abisnya gue penasaran"cengir Neisya.
"Kenapa Pak Basri ngejar lo"tanya Zahra.
"Gue sembunyiin sepatunya"kekeh Livia.
"Pantesan"keluh sahabatnya.
"Ya salah sendiri ngasih hukuman gak manusiawi berdiri dari jam pertama sampai istirahat"jelas Livia,tangan Livia hendak mengambil minum tapi gak jadi.
"Loh alpukat gue kok gak ada"heran Livia menatap sahabatnya.
"Alpukat gak ada stok jadi kita bingung mau pesen apa yaudah gak jadi"jelas Neisya.
"Jadi gue harus pesen sendiri nih"tanya Livia diangguki sahabatnya.
"Gak rugi loh Yaa lo pergi,liat noh di stan mie ada siapa"tunjuk Neisya,Livia pun ikut melihat setelahnya mereka berdua tersenyum.
"Mari kita menjalankan tugas"kata Livia.
"Semangat besti"kekeh Neisya,Livia pun segera bangkit dan berjalan ke stan minuman yang kebetulan berdekatan dengan stan penjual mie.
"Pak teh manis dingin tanpa gula satu"perkataan Livia membuat Iqbal yang berada tepat disampingnya menatap Kearahnya.
"Gimana neng"si Bapak keheranan.
"Teh manis dingin tanpa gula Pak"
"Oh Bapak pikir salah denger,ditunggu neng"Livia hanya tersenyum.
Livia melihat kearah Iqbal terlihat Iqbal menunggu pesanan sambil bermain HP,merasa diperhatikan Iqbal menoleh kearah Livia.
"Halo Iqbal"senyum Livia.
"Hy kak"dibalas senyum Iqbal lalu Iqbal kembali fokus dengan HP nya sedangkan Livia menanti minumannya jadi.
__ADS_1
"Ini neng minumannya"kata si Bapak penjual.
"Makasih Pak"senyum Livia.
"Iqbal"panggil Livia membuat Iqbal melihat kearahnya sambil senyum.
"Ya kak?"mendapat respon dari Iqbal Livia meminum teh nya.
"Manis"ucap Livia sambil melihat kearah Iqbal.
"Apanya neng yang manis,tehnya gak saya kasih gula loh"heran si Bapak mendengar perkataan Livia.
"Tehnya jadi manis pak karna ngeliat senyum si adek"senyum Livia menatap si Bapak membuat si Bapak tertawa.
"Si paling bisa si neng mah"kekeh si Bapak,Livia ikut tertawa lalu melihat kearah Iqbal dia ingin tau bagaimana respon Iqbal.
Melihat Livia melihat kearahnya Iqbal tersenyum lalu kembali fokus dengan HP nya.
"Kok reaksinya biasa aja sih apa gombalan gue kali ini garing ya"Livia bertanya tanya dalam hatinya hingga tak sadar Iqbal sudah pergi dari sana.
Livia yang kembali sadar melihat kesampingnya Iqbal sudah tidak ada,Livia pun juga pergi dari sana menuju ketempat sahabatnya.
"Gimana Yaa teh tanpa gulanya,manis ya?"ejek Zahra.
"Yakali teh tanpa gula manis Ra,yang ada makin hambar karna dapat respon yang gak memuaskan"keluh Livia.
"Tau dari mana lo kalau tu anak kalem"tanya Livia.
"Gue udah dapat infonya loh Yaa,gue udah nanyak nanyak sama adek kelas"bangga Neisya sepertinya dendam Neisya sudah tertutup dengan ketertarikan Neisya terhadap si Iqbal.
"Segitunya lo,lo beneran suka sama si Iqbal"heran Livia.
"Hallah,cowo ganteng yang mana sih yang gak disukain Neisya"kata Zahra.
"Tapi Yaa, kayaknya misi kali ini tuh agak sulit deh,soalnya menurut info yang gue dapet Iqbal tuh orangnya kalem, pendiem gitu dan juga jarang berdekatan dengan cewe jangankan siswi lain siswi dikelasnya aja jarang direspon kalau ada yang mau ngedeketin dia"
"Iya kah?, tapi orangnya ramah tuh gue liat"heran Livia mendengar penjelasan Neisya.
"Iya,mereka bilang juga gitu,ramah suka senyum ya cuma itu,kalau ngobrol sih jarang makanya menurut penilaian mereka tuh dia tu anaknya kalem"
Livia menyimak memang benar dia tidak pernah melihat Iqbal duduk bareng cewe paling dia cuma senyum doang waktu sapa, waktu bicara sama Livia juga Iqbal cuma merespon seadanya aja,Livia menganggukkan kepalanya.
"Bener kan info gue"kata Neisya melihat anggukan kepala Livia.
"Ya ya bener"
"Makanya gue bilang kita butuh persiapan extra agar berhasil"perkataan Neisya diangguki Livia.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Parkiran sudah terlihat agak sepi karna Bell pulang sudah berbunyi sejak tadi,Livia saat ini sendiri diparkiran karna para sahabatnya sudah pulang duluan.
Livia sibuk mengorek ngorek tas nya mencari kunci mobil tapi tidak ditemukan sedari tadi.
"Haduhh mana sih"keluh Livia geram sendiri.
"Hoi"tepukan tiba tiba dibahu Livia membuat Livia terkejut dan langsung berbalik melihat siapa pelakunya.
"Ji sumpah kalau lo kesini cuma mau ganguin gue mending lo pergi"kesal Livia sedangkan Zidan sudah tertawa.
"Kenapa sih ha,sibuk banget gue liat"kekeh Zida,tidak ada jawaban dari Livia.
"Nyari apa sih"sambung Zidan.
"Kunci mobil"Livia menjawab tanpa melihat kearah Zidan dia masih sibuk dengan tas nya.
"Disaku coba disaku"saran Zidan,Livia langsung merongoh saku baju.
"Gak ada"panik Livia.
"Rok coba"Livia mengikuti merongoh saku roknya dan benar saja kunci mobilnya ada di saku rok.
"Nah kan,penyakit pelupa nya gak ilang ilang heran"kata Zidan membuat Livia nyengir.
"Mau gimana lagi udah mendarah daging ini"jawab Livia,tiba tiba Livia melihat Iqbal berjalan melewatinya tidak menyia nyiakan kesempatan dia pun menjalankan aksinya.
"Halo Iqbal"sapa Livia mendapat balasan senyum oleh Iqbal.
"Mau pulang dek"basa basi Livia.
"Iya kak"senyum Iqbal.
"Motor lo dimana"tanya Livia ke Iqbal.
"Sebelah sana kak"tunjuk Iqbal.
"Oh, euhmm gue,gimana ya ngomongnya"Livia jadi gelagapan sendiri karna tidak tau lagi mau bahas apa.
"Ya gak usah ngomong"nyambung Zidan membuat Livia menatapnya tajam.
"Apa!"tantang Zidan,Livia kembali melihat Iqbal.
"Sorry ya dek dia emang suka gitu, hehe"cengir Livia.
"Iya kak gapapa,yaudah gue pamit dulu"pamit Iqbal.
__ADS_1
"Ah iya iya, hati hati ya"kata Livia dibalas senyum Iqbal.