He'S My Junior

He'S My Junior
Chapter(6)


__ADS_3

Bell pulang sekolah berbunyi membuat siswa/siswi di kelas XII MIPA 6 bersorak gembira,pelajaran Sejarah di jam terakhir membuat mereka menjadi ngantuk,rasa kantuk yang mereka rasakan pun langsung hilang ketika mendengar bell pulang sekolah.


Livia dan sahabatnya langsung membereskan alat tulis,setelah selesai mereka langsung keluar kelas.


"Hoam"Livia menutup mulutnya.


"Masih nguap aja lo,tadi aja waktu bunyi bell semangat bener"kata Neisya.


"Biasa Syaa masih setengah sadar"Kekeh Zahra,Livia tak memperdulikan mereka dia masih sibuk mengucek ngucek matanya.


"Tapi jujur sih gue tadi juga ngantuk banget cuma gak berani tidur"keluh Anggun.


"Hallah itu aja gak berani"santai Livia.


"Pelajaran Sejarah di jam terakhir tuh bukan ide yang baik"kata Neisya diangguki sahabatnya.


"Tu Guru ngejelasin tapi rasanya tuh kayak lagi nyanyiin lagu tidur"kekeh Anggun.


Sekarang mereka berempat sudah sampai di parkiran.


"Kita duluan guys,yok Anggun"kata Zahra menarik tangan Anggun dan menuju mobilnya,hari ini Anggun dan Zahra pulang bersama.


"Ok hati hati yee"kata Neisya,Livia melambaikan tangannya sambil senyum.


"Mobil lo markir dimana Syaa"tanya Livia.


"Diujung gue hari ni"kata Neisya menunjukkan mobilnya paling ujung.


"Hahah,kasian diujung"ejek Livia.


"Emang mobil lo dimana"


"Dibelakang mobil lo"jawab Livia santai.


"Si tai,itu lo diujung juga pinter"ujar Neisya melas membuat Livia tertawa.


"Yok lah kita kembali melangkah pulang"ajak Livia mendrama.


"Eh eh stop"Livia yang akan melangkahkan kakinya tidak jadi karna tiba tiba melihat Iqbal tak jauh dari mereka.


"Kenapa"bingung Neisya.


"Iqbal"jawab Livia sambil melihat kearah Iqbal,Neisya pun mengikuti arah pandang Livia.


"Kesempatan gak sih"kata Neisya dibalas senyum oleh Livia.


"Mari kita laksanakan tugas negara"semangat Livia.


"Gaskeun"mereka berdua pun mulai melangkah mendekati Iqbal yang kini sedang mengambil helm di motornya.

__ADS_1


"Halo dek"sapa Livia dengan senyum sambil melambaikan tangannya dibalas senyum oleh Iqbal membuat Livia terdiam.


"Kok ganteng" batin Livia.


Livia sempat terpesona lalu dia tersadar dan menggelengkan kepalanya sesaat.


"Gak gak, inget tujuan utama lo Yaa,dia itu musuh,lagian buat apa ganteng kalau mulutnya suka ngatain orang"Livia mencoba kembali fokus.


"Udah mau pulang ya"basa basi Livia.


"Iya kak"Iqbal masih bertahan dengan senyumnya.


"Aah ndee ndee"Livia menganggukkan kepalanya.


"Kenapa ya kak"tanya Iqbal penasaran.


"Lah gue ngomongin apa nih masa langsung ngegombalin anak orang aja"Livia mencoba berpikir.


"Eum,gue cuma mau minta maaf soal kemarin kemarin"senyum Livia karna langsung mendapatkan ide.


"Oh,iya kak gapapa"


"Aduh baik banget sih,makasih ya"Livia berusaha tetap tersenyum demi misi.


Iqbal menganggukkan kepalanya.


"Ok,hati hati ya"si Iqbal pun langsung pergi meninggalkan Livia dan Neisya.


"Ish,lo kok gak ngomong apa apa sih"kesal Livia.


"Yaa,ini gue yang baru sadar apa gimana,tu anak aakhh kok ganteng banget sih mana adem gitu senyumnya"Livia menatap Neisya cengo.


"Jadi tadi lo gak ngomong karna terpesona sama dia gitu?"tanya Livia mendapat anggukan kepala dari Neisya.


"Gak tau,seketika gue gak bisa berkata kata"lebay Neisya,Livia menepuk keningnya.


"Jangan bilang lo suka sama dia"tunjuk Livia.


"Gimana ya,orangnya ganteng sih gak mungkin sih gue gak suka"tawa Neisya.


"Dahlah serah lo,gue sih gak akan terpesona sama cowo kaya gitu"kata Livia.


"Hallah,sekarang iya lo gak suka liat aja lama lama lo gak akan tahan sama tu pesona si adek kelas gue jamin"kekeh Neisya membuat Livia menatapnya malas.


"Pulang pulang"putus Livia berjalan kearah mobilnya.


"Yaa tungguin"Neisya mengejar Livia yang sudah berjalan duluan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


Livia sampai dirumah dengan selamat,setelah memarkirkan mobilnya dia langsung masuk kedalam rumahnya.


Saat sampai diruang keluarga Livia melihat 2 cangkir dengan isi tinggal sedikit dan beberapa toples kue.


"Lah ada tamu kah?"kata Livia heran.


"Oh sudah pulang rupanya putri Bunda"suara seseorang dibelakang mengejutkan Livia,Livia langsung berbalik dan mendapati seorang wanita paruh baya yang sangat dia cintai.


"BUNDA!"Livia langsung memeluk Bundanya karna tidak bisa dipungkiri dia sangat merindukan sang Bunda.


"Bunda kapan sampenya"tanya Livia.


"Duduk dulu yuk,kasian kamu pasti kecapean"kata Bunda diangguki Livia.


"Bunda baru nyampe juga tadi"kata Bunda sambil mengelus rambut Livia.


"Ayah mana Bun"tanya Livia.


"Masih di atas lagi istirahat,Via ganti baju dulu ya"


"Siap bunda ratu"Livia berlagak hormat membuat bundanya tertawa.


"Yasudah sana"Livia pun bangkit dan langsung menuju kamarnya.


Bunda dan Ayah Livia memang jarang ada di rumah,sering kali Livia ditinggal sendiri karna urusan pekerjaan orang tuanya tapi Livia tidak pernah mengeluh soal itu karna dia paham mereka bekerja untuk dirinya juga.


Lagipula Livia tidak kekurangan kasih sayang sedikit pun meski sering ditinggal karna setiap ada waktu luang mereka akan selalu pulang dan menemani Livia.


Selesai berganti baju Livia turun dari kamarnya menuju lantai bawah karna dia belum bertemu dengan Ayahnya siapa tau Ayahnya sudah bangun.


Benar saja setelah sampai di ruang tamu dia mendapati orang tuanya sedang duduk mengobrol dia langsung berlari dan duduk ditengah mereka.


"Lagi bicarain apa sih seru banget kayaknya sampe Livia gak diajak"manyun Livia membuat Ayahnya gemas dan menarik hidungnya.


"Ini urusan orang pacaran,kamu jomblo jadi gak diajak"kekeh Ayah Livia.


"Makanya cari pacar biar ada temen ngobrol"kata Bunda Livia ikutan membuat Livia semakin manyun.


"Kalian mah jahat ih masa ngatain anak sendiri"keluh Livia.


"Kita gak ngatain tapi ngasih saran biar kamu gak kesepian lagi"nasihat Bunda.


"Livia gak kesepian Kok,Via kan punya Neisya, Anggun,sama Zahra"kata Livia.


"Pacar sama Sahabat itu beda sayang"kata Ayah membuat Livia menganggukkan kepalanya.


"Iya iya,liat aja Livia sekalinya punya cowo bukan pacar tapi suami"kata Livia disambut kekehan oleh orang tuanya.


Mereka pun melanjutkan sesi melepas rindu mereka dengan mengobrol ringan entah sampai kapan itu akan berhenti,yang penting mereka menikmati setiap moment mereka bertiga.

__ADS_1


__ADS_2