
Zidan datang dengan Iqbal menghampiri teman sekelasnya.
"IQBAL SINI"teriak Livia saat melihat Iqbal dari kejauhan,Livia menepuk kursi kosong disampingnya.
Zidan duduk di kursinya yang tadi disamping kiri Livia sedangkan Iqbal duduk di kursi yang ditunjuk dikanan Livia karna tidak enak menolak.
"Ini kapan kita mulainya sih"kata Alif sudah jengah melihat kelakuan yang lain.
"Eh ada Alif juga ternyata"kata Livia pura pura syok sambil menutup mulutnya dengan tangan.
"Alif sebesar itu masak gak kelihatan sih Yaa"kekeh Neisya.
"Iyaloh, abis si Alif diam aja sih dari tadi kek patung"kata Livia mendapat tatapan tajam dari Alif.
"Hehe sorry Lif"Livia mengangkat dua jari sambil nyengir.
Alif tidak memperdulikan Livia.
"Udah udah,kita mulai aja yok"tengah Neisya mendapat persetujuan dari mereka semua.
"Kertas Folio nya mana Yaa?"tanya Zidan tak melihat kertas Folio diatas meja.
"YAAMPUN"pekik Livia.
"Jangan bilang lo lupa"kata Neisya mendapat cengiran dari Livia.
"YA ALLAH LIVIA, YA ALLAH AMBIL AJA HAMBAMU YANG SATU INI HAMBA IKHLAS"pekik Zidan kepalang kesal.
"Heh sembarangan"kata Livia.
"Ya gak guna juga kalau hidup cuma jadi beban aja"
"Enak aja jadi beban,kalau misalnya gue meninggal Kasian dong yang jadi jodoh gue nanti gak ada jodohnya"kata Livia melihat kearah Iqbal,Iqbal yang menyadarinya dia hanya terkekeh pelan.
"Helleh"eleh Zidan membuat Livia memeletkan lidahnya kearah Zidan.
"Sekali lagi kalian debat gue pulang"kata Alif membuat mereka terdiam.
"Terus ini gimana kita ngerjainnya folio aja gak ada"tanya Zidan.
"Udahlah gue mau keluar"mendengar itu Livia buru buru menahan tangan Zidan.
"Mau kemana,jangan marah"rengek Livia merasa tak enak membuat Zidan kesal.
"Siapa yang marah,gue cuma mau keluar mau beli kertas folio"jelas Zidan membuat Livia kembali tersenyum.
"Makasih"kata Livia mendapat ucapan dikepala oleh Zidan.
"Iya sama sama"
__ADS_1
Begitulah Livia dan Zidan,meski terlihat tidak pernah akur tapi mereka sebenarnya sangat dekat bahkan sudah saling menganggap seperti saudara.
Zidan pergi meninggalkan mereka yang lain,sembari menunggu Zidan membeli kertas folio mereka melakukan apapun yang bisa dilakukan terlebih dahulu.
Ditengah kesibukan yang lain Livia malah hanya menatap Zidan yang sedang memainkan HP nya.
"Iqbal"panggil Livia,Iqbal melihat kearahnya sambil menaikkan alis.
"Ya allah nikmat mana lagi yang kau dustakan"kata Livia menatap Iqbal sambil menompang dagu.
Iqbal hanya tersenyum lalu kembali melihat HP nya.
"Ish lo liat apa sih segitunya"kesal Livia karna diabaikan oleh Iqbal.
"Kenapa kak?"tanya Iqbal.
"Iqbal tau gak persamaan Iqbal sama bendera merah putih"kata Livia mendapat gelengan dari Iqbal.
"Sama sama harus diperjuangkan"Jawab Livia dengan senyumnya,Iqbal tersenyum lalu menunduk.
"Mulaiii"Keluh Neisya.
"Uu Iqbal yang digombalin gue yang baper"kata Ayu membuat mereka tertawa minus Alif yang hanya terkekeh pelan.
Livia menatap kearah Iqbal yang masih menunduk.
"Ni anak salting kah?,kok lucu ya ngeliat dia salting gini,gemes"Livia terkekeh sendiri melihat Iqbal.
"Ji ji lo tau gak,tadi sepupu lo di kardusin Livia tau"kekeh Neisya.
"Hati hati aja yee Ball,dan banyakan sabar"kekeh Zidan.
"Hati hati pala lo,gue bukan tikungan tajam ya"kesal Livia.
"Tikungan tajam memakan banyak korban"kata Neisya membuat Livia cemberut.
"Iqbal belain gue dong, lo sebagai calon pacar harus gercep dong"rengek Livia kepada Iqbal.
"Udahlah bang,mulai aja kasian kak Livia"kata Iqbal kepada Zidan merasa kasihan dengan Livia.
"Udahlah lepas tangan gue kalau udah dibelain pawangnya"kata Zidan.
"Yok mulai"ajak Alif.
Mereka pun mulai mengerjakan kerja kelompok mereka,meski ada yang bekerja dan ada yang tidak,seperti Livia yang sekarang hanya menatap Iqbal yang sedang membantu menjelaskan apa yang dia ketahui kepada kakak kelasnya.
Mereka selesai jam 4 sore,mereka beristirahat sebentar disana,mereka sedang memakan camilan yang disediakan oleh pembantu Zidan.
"Weh pulang yok udah setengah 6 ini"kata Alif.
__ADS_1
"Eum,yaudah yok lah"Neisya bangkit dari duduknya.
Mereka semua pun kembali masuk kedalam dan menuju pintu depan untuk keluar.
"Gue duluan yaa"kata Ayu pergi duluan.
"Yee hati hati"saut yang lain.
Alif hanya mengklekson motornya.
"Iyee broo"kata Zidan melambaikan tangannya.
"Yok Yaa"ajak Neisya.
"Iya duluan aja"Neisya pun pergi mobilnya.
"Duluan yaa"kata Neisya lalu keluar dari gerbang rumah Zidan.
"Apa lagi, lo gak pulang"tanya Zidan pada Livia.
"Maunya sih gitu soalnya ada Iqbal disini Hehe, tapi gak deng nanti Bunda ratu khawatir"kekeh Livia Iqbal hanya tertawa menanggapi kata kata Livia.
"Yaudah sana balik"kata Zidan.
"Bentar dulu ih pamitan dulu sama calon pacar"
"Calon pacar aja bangga"ejek Zidan.
"Biarin"
"Ball gue pulang ya"kata Livia.
"Iya kak"balas Iqbal tak ketinggalan senyumnya.
"Ngeliat senyum lo tuh bawaannya adem gitu, pengen ngurung terus nyuruh lo senyum terus"kata Livia.
"Heh main kurung kurung anak orang aja"kesal Zidan.
"Hehe,dikurung dihati gapapa lah yaa"jahil Livia.
"Kalau itu sih gapapa"jawab Zidan membuat Livia menatap Iqbal.
"Denger gak Ball,udah dikasih lampu ijo sama abang lo"kekeh Livia Iqbal ikut terkekeh.
"Udah cukup pulang sana"Zidan mendorong bahu Livia.
"Iya ish sabar napa,Bal gue pulang ya"pamit Livia lagi hanya mendapat anggukan dari Iqbal.
"Papay, Ji jagain calon gue yaakk!"teriak Livia lalu memasuki mobilnya.
__ADS_1
"Harap maklum ya bal,sabar aja"Zidan menepuk nepuk bahu Iqbal.
"Iya bang,udah biasa"kata Iqbal mendapat kekehan dari Zidan.