
Livia paham lalu mata melihat kearah meja,di atas meja tepat didepan Zidan terdapat beberapa obat obatan yang membuat Livia penasaran.
"Zidan lagi sakit apa?"
Zidan yang menyadari Livia melihat obat obatan didepannya dia buru buru mengemasi obat obatan itu,Livia hanya diam melihat apa yang dilakukan Zidan.
"Lo sakit apa?"tanya Livia yang sudah sangat penasaran dan khawatir.
"Ah,biasa gue cuma,semalam gue demam jadi langsung dicariin obat sama bokap"jawab Zidan.
Livia memegang dahi Zidan.
"Kok gak panas"kata Livia.
"Yaa kan udah dari semalam pasti udah turun lah panasnya"jawab Zidan mendapat anggukan dari Livia.
"Oh,gak ada yang lain kan? mau cek kerumah sakit dulu gak?"Livia terlalu khawatir meskipun Zidan sudah menjelaskan kalau dia hanya demam biasa tapi Livia masih tidak tenang.
"Gak,Gue gak papa Yaa,udah ah lebay banget"kekeh Zidan.
"Bukan lebay,gue gak mau lo sakit"kata Livia lesu.
"Ututu sayang dek Livia,hahah udah ah gue yang sakit lo yang lemes kayak anak kurang gizi"ejek Zidan mendapat pukulan dibahu dari Livia,Zidan hanya terkekeh.
"Btw lo ngapain kesini, tumben"Zidan menatap Livia penasaran.
"Tamu dateng bukannya disuruh duduk kek, ditawarin minum atau apa gitu ini malah diintrogasi"kesal Livia melihat sahabatnya.
"Hallah kek tamu penting aja lo, duduk ya tinggal duduk udah biasa juga"kata Zidan.
Livia pun duduk dikursi samping Zidan.
"Lo sendiri?"tanya Livia tidak melihat orang tua Zidan di dalam rumah.
"Iya,nyokap bokap lagi keluar kekondangan anak sahabatnya"
"Ciee yang gak diajak"ejek Livia.
"Diajak pun gue gak mau pergi"santai Zidan.
"Dih sok banget"Livia menatap Zidan jengkel.
__ADS_1
"Lo sendiri tumben kesini gak bilang bilang dulu,gak kayak biasanya,ada apa?"tanya Zidan.
"Gak ada yang penting sih, gue males aja nanti sendiri dirumah soalnya ortu gue lagi pergi"kata Livia.
"Oh gitu tah,terus kenapa kepikiran sampe mau kesini, kangen sama gue yak"kekeh Zidan.
"Pd gile,gue tu kesini mau ketemu Iqbal yaa,siapa tau kan dia kesini"kekeh Livia menaik turunkan alisnya.
"Ah elah,salah alamat lo kalau mau ketemu dia ya kerumahnya lah,ini mah rumah gue"kekeh Zidan.
"Jadi dia gak kesini"tanya Livia.
"Gak,biasanya dia kalau bosan dirumah baru kesini jarang sih"kata Zidan.
"Gitu ya,padahal gue udah berharap ketemu dia loh"kata Livia pasrah.
"Emangnya mau ngapain lo ketemu dia,lo suka ya sama dia,kangen yaaa"Zidan tersenyum jahil ke Livia.
"Apaan nggak ya!"reflek Livia merasa dituduh yang tidak tidak,tapi setelah sadar dia malah menutup mulutnya terkejut karna kecerobohannya.
"Lah terus ngapain lo berharap ketemu dia"ekspresi Zidan berubah jadi penasaran.
"Nggak maksudnya-"
Livia hanya diam tidak tau harus menjawab apa karna dia tidak biasa berbohong kepada Zidan yang selalu mendengar keluh kesahnya,bahkan tidak ada yang ditutupinya selama ini dari Zidan.
"Oh gitu sekarang udah main rahasia rahasian sama gue"kata Zidan.
"Aish iya iya, gue jujur"pasrah Livia dia emang tidak bisa menutupi apapun dari Zidan.
"Jadi sebenarnya tu gue ngedeketin Iqbal selama ini tu karna mau balas dendam ke dia"kata Livia membuat Zidan mengerutkan keningnya.
"Balas dendam?"tanya Zidan diangguki Livia.
"Yaa salah dia sendiri yang ngatain bias kita duluan"adu Livia,Zidan masih terlihat bingung dengan penjelasan Livia.
"Bantar,Iqbal ngatain kalian?"tanya Zidan seolah tak yakin mendapat anggukan dari Livia.
"Masa sih"Zidan masih tidak yakin karna dia tau Iqbal itu orangnya seperti apa.
"Jangan mentang mentang Iqbal sepupu lo,lo belain dia ya,pake gak percaya sama gue lagi"kesal Livia melihat respon Zidan.
__ADS_1
"Gak maksudnya gini,gue tau Iqbal itu orangnya gimana,dia itu anaknya pendiem, kalem,gak suka berdekatan sama cewe karna dia tu berasal dari keluarga yang menjunjung tinggi keagamanaan jadi rasanya gak mungkin Iqbal nyari masalah ke kalian apalagi kalian ini cewe"jelas Zidan membuat Livia jadi memikirkan perkataan Zidan.
Melihat ekspresi bingung dari Livia Zidan mencoba menjelaskan secara rinci.
"Gini Yaa,selama lo kenal Iqbal lo perlahan udah tau kan gimana sifatnya,gimana respon dia ke lo waktu lo deketin, menurut dari penilaian lo selama ini ke Iqbal apa mungkin dia akan ngelakuin hal kayak gitu"
"Iya juga ya,soalnya setiap gue gombalin dia tu responnya gak kayak cowo cowo lain, waktu awal awal gue deketin juga dia bahkan gak peduli sama sekali paling cuma senyum doang,ya meski sekarang dia udah agak banyak omong"jelas Livia.
"Nah kan,makanya gue gak yakin dia ngatain kalian,lo nya direspon aja nggak kan"kata Zidan.
"Sebenarnya gue sama Neisya juga gak tau pasti sih kalau Iqbal apa bukan yang ngatain kita karna waktu itu kita berdua cuma ngeliat mereka itu sekilas doang tapi vibes cowo yang ngatain kita tu kayak Iqbal"
"Tuh kan, kayaknya kalian salah orang deh"kata Zidan membuat Livia terkejut.
"Masa sih salah orang"keluh Livia.
"Ya menurut kesimpulan yang gue ambil dari cerita lo kalian emang salah orang"Livia kembali memikirkan perkataan Zidan.
"Gini aja,biar gak jadi kesalah pahaman lagi gimana kalau gue telfon Iqbal kesini nanti coba gue pancing dia nanyak masalah ini,kita liat jawabannya gimana"saran Zidan,Livia yang sudah pusing pun kembali pasrah dia menyerahkan masalah ini kepada Zidan.
"Yaudah deh boleh"kata Livia.
"Nanti lo diam aja ok, soalnya lo bocor orangnya"kata Zidan Livia yang pasrah pun hanya mengikuti apapun perkataannya.
"Bentar gue telfon dulu"Zidan mengambil HP nya dan menelpon Iqbal menyuruh Iqbal kerumahnya.
"Halo Ball"sapa Zidan.
"Iya bang,kenapa"tanya Iqbal disebrang sana.
"Lagi sibuk gak"balik tanya Zidan.
"Gak sih"
"Main kesini lah ngapain dirumah,gue sendiri ini"kata Zidan sambil terkekeh.
"Ok lah bang"
Sambungan telfon pun terputus.
"Gimana"tanya Livia tak sabaran.
__ADS_1
"Ok katanya"balas Zidan diangguki Livia mereka pun menunggu kedatangan Iqbal.