He'S My Junior

He'S My Junior
Chapter(8)


__ADS_3

Mereka pun kembali berbincang,tak lama kemudian Pak Rizal kembali masuk diikuti Clara dibelakang Pak Rizal.


"Assalamualaikum anak anak"Sapa pak Rizal.


"Waalaikum salam Pak!"kompak mereka.


Pak Rizal pun duduk di kursinya dan mulai mengabsen siswa/siswi kelas XII MIPA 6,setelah selesai Pak Rizal membuka Buku dan menjelaskan materi hari ini.


"Nah sudah faham?"tanya Pak Rizal.


"Sudah Pak"


"Ok,kalau sudah paham kerjakan soal yang ada di halaman selanjutnya"putus Pak Rizal membuat para siswa/siswi mengeluh tapi tidak dihiraukan Pak Rizal.


"Livia,kamu ikut bapak"kata Pak Rizal membuat Livia menatapnya bingung.


"Kemana pak"tanya Livia.


"Jangan banyak tanya ayo"Pak Rizal berdiri dari duduknya sedangkan Livia masih tetap dikursi.


"Apa jangan jangan"Livia menutup mulutnya memasang ekspresi terkejut.


"Bapak,jangan bilang Bapak mau nembak saya"tebak Livia sok tau.


"Jangan mengada ngada Livia,ikut saya sekarang"tegas Pak Rizal.


"Ah elah becanda pak"kekeh Livia.


"Sudah?,ayo"


"Ayok"Livia terlihat semangat mengikuti Bapak Rizal padahal dalam hatinya sudah dagdigdug pasalnya dia tau ini pasti ada sesuatu yang membuat Pak Rizal memanggil dirinya.


Livia mengikuti Pak Rizal menyusuri karidor entah menuju kemana,beberapa menit berjalan Livia melihat ruangan keramat berada tidak jauh dari dirinya.


"jangan jangan"batin Livia.

__ADS_1


"Pak pak,jangan bilang bapak mau bawa saya ke BK"kata Livia was was.


"Tumben pinter"kekeh Pak Rizal,Livia melebarkan matanya,bukan terkejut karna hendak dibawa ke ruang BK tapi terkejut kenapa Pak Rizal bisa tau kalau Livia telat,Livia hendak bersuara tapi dihentikan Pak Rizal.


"Sudah,nanti silahkan kamu menjelaskannya disana"perkataan Pak Rizal membuat Livia cemberut.


Tak lama kemudian Livia dan Pak Rizal sampai di depan BK,Pak Rizal mengetok pintu.


"Assalamualaikum"salam Pak Rizal.


"Waalaikum salam,masuk"jawab Guru didalam ruangan.


Pak Rizal melangkah masuk diikuti Livia,Livia terlihat santai karna sudah terbiasa dengan tempat ini.


"Ada apa Pak Rizal"tanya Guru yang bernama Pak Basri.


"Saya mengantarkan seorang siswi yang bermasalah Pak,Livia terlambat masuk kelas"perkataan Pak Rizal membuat Pak Basri melihat Livia yang berada di samping Pak Rizal.


"Oh Livia rupanya kenapa harus diantar,sudah lupa jalan menuju BK apa gimana?"sindir Pak Basri.


"Si Bapak mah gitu sukanya nyindir"keluh Livia.


"Yasudah Pak saya pamit dulu masih ada jam ngajar,Livia saya serahkan untuk Bapak"kata Pak Rizal.


"Enak aja serahkan serahkan dipikir gue berang apa"kesal Livia tidak diperdulikan kedua Bapak Bapak itu.


"Iya Pak silahkan"perkataan Pak Basri diangguki Pak Rizal,Pak Rizal pun keluar dari ruang BK tinggallah Livia bersama Pak Basri.


"Masalah apa lagi kali ini Livia?"tanya Pak Basri.


"Saya gak dipersilahkan duduk dulu nih Pak, kaki saya pegel loh berdiri terus"belum apa apa Pak Basri sudah memijit kepalanya.


"Yasudah yasudah, silahkan duduk"pasrah Pak Basri,Livia langsung duduk di kursinya depan Pak Basri.


"Nah gini kan enak,jadi gimana pak?"tanya balik Livia.

__ADS_1


"Kamu ya gak ada sopan sopannya sama Guru!"kesal Pak Basri.


"Hehe maaf Pak becanda"bukan tidak sopan,Livia memang suka sekali menjahili orang apalagi orang tersebut sudah akrab dengannya.


"Jadi kenapa lagi kamu telat,jangan bilang kamu terlambat bangun lagi,saya bosan dengan jawaban itu"sabar Pak Basri untung udah biasa menghadapi Livia.


Tidak ada jawaban apapun membuat Pak Basri menatap Livia bingung.


"Kenapa diam"heran Pak Basri.


"Lah tadi kata Bapak kalau alasan saya telat karna terlambat bangun tidur gak boleh bilang"polos Livia membuat Pak Basri naik darah.


"Bukan begitu maksud saya Livia ladiba!"tekan Pak Basri.


"Terus gimana,ya emang itu alasannya"kata Livia kembali membuat Pak Basri menghela nafas.


"Sudah saya cape bicara sama kamu,mending sekarang kamu keluar dan hormat bendera sampai jam istirahat"putus Pak Basri.


"Lah kok lama banget pak,biasanya juga sampai jam pelajaran kedua"kesal Livia.


"Ini karna kamu tadi masuk secara diam diam itu sama saja dengan menipu Guru Livia"tegas Pak Basri.


"Kurangin lah pak"rayu Livia.


"Gak"


"Bapak mah gitu,gak kasian sama saya"cemberut Livia masih berusaha,bayangkan saja diterik matahari dia harus hormat bendera sampai bell istirahat yakni jam 11 gimana gak kesel.


"Kamu juga sering banget bikin Bapak pusing plus darah tinggi kamu gak kasian sama Bapak"


"Aduh Bapak hebat banget sih udah bisa ngelawak"Livia masih berusaha menghibur si Bapak agar mengurangi hukumannya meski dalam hatinya sudah sangat kesal.


"Saya gak ngelawak Livia ladiba atau mau saya tambahkan hukumannya"perkataan itu membuat Livia membungkam mulutnya sambil menggelengkan kepalanya.


"Yasudah silahkan keluar"Livia pun bangkit dengan perasaan kesal,setelah keluar melewati pintu ruang BK Livia mengambil sepatunya dan memakainya di kursi samping pintu.

__ADS_1


Livia memasang sepatu dengan perasaan kesal terhadap Pak Basri,selesai dengan sepatunya Livia tidak sengaja menemukan sepatu Pak Basri di samping kursi yang dia duduki,melihat itu Livia mempunyai ide.


Langsung saja Livia mengambil sepatu Pak Basri dan menyembunyikannya selesai dengan misinya Livia lari menuju lapangan dengan sedikit tertawa moodnya telah kembali,menjahili orang adalah mood bosternya.


__ADS_2