
Hari ini hari terakhir ujian,
Oh cepatnya waktu berlalu ujian demi ujian telah berhasil kami lalui.
Kini tinggal menunggu waktu kelulusan.
Ada rasa bahagia karena telah sampai pada saat ini.
Namun, ada juga rasa duka karena sebentar lagi pertemuan kita akan segera usai.
Hanya aku dan karin yang memutuskan untuk satu kampus.
Sedangkan Elma akan pindah ke Bandung bersama Eyangnya.
Dani ?
Kata Karin Dani akan kuliah di LONDON menyusul kakaknya.
Ardan ?
Ia selalu berkata pada ku bahwa ia akan kuliah di jakarta bersama ku.
Tapi, sepertinya keinginannya tidak akan terwujud karna Papanya meminta dirinya untuk kuliah Di Kairo.
Tak pernah terbayang oleh ku apa jadinya hidup ku tanpa mereka.
Mereka sudah menjadi bagian dari hari-hari ku.
Tiada hari tanpa canda tawa mereka.
Karena hari ini, hari terakhir ujian aku dan sahabat ku membuat rencana untuk hangout bersama.
Kami memilih pergi ke puncak.
Ide itu dari Dani, kebetulan keluarga Dani memiliki vila di sana.
Sore ini aku menyiapkan segala keperluan untuk pergi.
Aku sudah meminta ijin pada Bunda untung saja Bunda berbaik hati memberi ijin dengan catatan Bang Iyan harus ikut.
Kabar baiknya Bang Iyan ada cuti 3 hari.
Bukan hanya Bang Iyan saja yang ikut serta pergi.
Om Raga, ahh maksud ku Kak Raga juga ikut.
Kami semua berkumpul akan di rumah ku.
Setelah semua berkumpul kami pun berangkat.
Sambil menunggu Elma dan Karin datang, kami Sholat Magrib berjamaah.
__ADS_1
Kak Raga yang menjadi imam kami,
Yang ku tahu darinya ia seorang pria yang berpegang teguh dengan agamanya.
Dia juga seorang calon imam idaman para kaum hawa , bagaimana tidak agamanya baik, akhlaknya baik, parasnya tampan, dia juga seorang CEO muda yang bijaksana. Kata Karin memuji nya habis-habisan.
Aku membenarkan semua kata Karin.
Hanya saja dia tipe orang yang dingin.
Kak Raga duduk di kemudi setelah perdebatan antara empat orang laki-laki yang sama-sama tak mau menjadi supir akhirnya kak Raga mengalah dengan catatan di setengah perjalanan Bang Iyan mau bergantian, di sampingnya bang Iyan.
Kursi belangkangnya aku, Karin dan Elma.
Dan kursi paling belakang Ardan dan Dani.
Kami memilih perjalanan malan karna selain kedua orang sibuk itu hanya memiliki waktu luang tiga hari, esok pagi kami ingin menyaksikan sunrise di puncak kebun teh.
Di perjalanan Kak Raga menghentikan mobil tepat di depan Masjid.
Adzan Isya menggema di seluruh penjuru masjid itu.
Kak Raga turun di susul Kak Iyan.
" Ayo Syha ajak temen-temen kamu sekalian " ucap Bang iyan sebelum turun dari mobil.
Aku segera mencari mukenah di tas yang tadi telah ku siapkan " Ma, Rin , Ar, Dan ayo " ajak ku
" Aku udzur Syha " jawab Elma
" Ayo Syha " ajak Ardan
" kamu nggak ikut Dan ? " tanya ku
" ikut lah ayo ! Gue kan calon imam idaman " ucap Dani sembari keluar mobil
Aku berjalan di samping Ardan , Dani telah berjalan terlebih dahulu di depan kami.
Saat sudah mendekati Serambi Masjid.
Kak Raga menatap kami dengan tatapan yang sulit di artikan, lebih tepatnya menatap ku.
Dani yang sudah berada di depannya menatapnya dan berkata " woy Kak liatnya gitu amat , jangan bilang Kak Raga cemburu ya ? "
Kak Raga hanya bergeming dan segera pergi untuk mengambil wudhu.
Aku pun sama ,aku berjalan ke arah tempat wudhu akhwat.
Setelah selesai berwudhu aku memasuki masjid.
Terdengar imam mulai bertakbir.
__ADS_1
Tunggu dulu sebentar, bukan kah ini suara Kak Raga ? . tanya ku dalam hati.
Benar saja, ini benar suara Kak Raga yang menjadi imam shalat isya.
Lantunan Al-fatihahnya sama persis yang ku dengar tadi saat shalat Magrib, indah juga menenangkan.
Selesai shalat kami kembali ke mobil untuk melanjutkan perjalanan.
" Kak beneran ya lo tu keren banget " ucap Dani memecah keheningan sembari mengacungkan dua jempolnya
" Emang Kak Raga udah keren dari lahir " ucap Karin
" Keren kenapa emangnya teh ? " tanya Elma yang juga ikut penasaran.
" Kak Raga jadi imam shalat isya di Masjid tadi. Bayangin aj dia ngimami banyak makmum. Kalo gue yang di suruh udah jatuh pingsan." ucap Dani menjawab pertanyaan Elma
" Masyaa Allah akhynya neng Karin. Duh Aku mau loh kak jadi calon maklum dan bidadari surga mu. " ucap Karin. Ku lihat Kak Raga hanya menyimak sembari sesekali menatap dari sepion, setelahnya kembali fokus mengemudi tanpa ingin ikut serta dalam pembahasan yang membicarakan tentangnya. Dingin. Batin ku
Dani menepuk pelan kepala Karin " Ehhh mana mau Kak Raga sama yang modelan kayak lo. Ya kalo yang kayak Elma atau Alisyha sih masuk kriteria lo. Sadar diri oyyy." ucap Dani
Karin tampak kesal dengan ucapan Dani barusan " ehh cowok lemes denger ya. Justru itu karna gue modelannya kayak gini nih gue cari yang baik, biar bisa bimbing gue jadi yang lebih baik .
Ya kalo gue tipenya milih modelan kayak lo gitu ga kebayangkan makin gak ada akhlak anak-anak gue kelak. "
" Sadar diri woyy yang baik kagak mau sama yang buruk kayak lo. Gue aja kagak mau apa lagi Kak Raga auto ogah. " ucap Dani
" Ehh--- " baru Karin hendak bicara Ardan memotong ucapannya ya. "Lo berdua bisa diem nggak. Pegel telinga gue dengernya. " ucap Raga sembari menumpuk keduanya dengan kantung plastik makanan ringan. Keduanya diam dan memakan Makanan ringan yang dari di lempar Ardan. Dasar
Bang Iyan hanya diam menahan tawa sembari geleng-geleng kepala. Sedangkan, Kak Raga fokus menyetir sembari sesekali memperhatikan kursi belakang. Ada yang aneh ! Aku merasa setiap kali ia melirik kebelakang ia memperhatikan ku, atau hanya perasaan ku saja.
Setelah suasana kembali tenang Elma mulai tertidur dengan kepala menyandar ke jendela. Bang Iyan pun sama karna setelah ini ia akan dapat giliran menyetir. Karin dan Dani sibuk memakan sanacknya. Ardan ?
Ia terlihat lebih diam setelah kembali dari masjid. Setelahnya ia tertidur mungkin ia kelelahan.
Kak Raga memutar lagu, lagu yang di putar nya adalah lagu dengan nada yang tenang membuat Karin dan Dani ikut mengantuk. Kemudian tertidur.
Tinggal aku dengan Kak Raga yang terjaga.
Aku tak bisa memejamkan mata ku.
Aku tak bisa tidur dengan posisi seperti ini.
Ya, aku duduk di tengah di antara Karin dan Elma.
Kak Raga menatap ku dari balik sepion.
" nggak bisa tidur ? " tanyanya saat mengetahui aku tak bisa tidur. Bisa bicara juga ternyata. Batin ku
" Enggak Om. eh maksudnya kak " ucap ku sengaja menyebutnya dengan sebutan itu. Tak tau kenapa aku senang melihat wajah kesalnya itu, saat mendengar panggilan dari ku.
" Kita bisa berhenti di masjid sebentar kalo kamu mau tidur " tawar nya. Aku terkejut mendengar ucapannya barusan
__ADS_1
Aku menggeleng " nggak perlu kk lagi pula kalo berhenti kapan nyampenya. "
" yasudah " ucapnya. Setelahnya hanya keheningan yang ada di antara kami.