Hijrah Cinta Di Sepertiga Malam

Hijrah Cinta Di Sepertiga Malam
Chapter 28


__ADS_3

Seminggu telah berlalu sejak kepergian Ardan yang entah kemana. Alisyha masih saja tampak murung, tatapannya masih sering kosong. Ya wanita ini benar-benar kehilang sosok pria itu. Tidak ada yang tahu kemana pria itu pergi, bahkan Dani sahabatnya sekalipun juga tidak tahu kemana Ardan pergi.


Bunda berdiri di depan pintu kamar Alisyha. Ia menatap lekat putrinya yang tengah duduk di balkon kamarnya dengan tatapan kosong. Bunda tak kuasa menahan air matanya, melihat putri kesayangannya begitu terluka. Bunda paham betul bagaimana persaan putrinya saat ini. " Bahkan dia belum mampu membuat putri ku bahagia, namun sudah berhasil membuatnya terluka". Guman Bunda sembari menghela nafas pelan.


" Alisyha sedang apa Bun ? ". Tanya Ayah yang datang dengan Karin. Bunda hanya menghela nafas sembari menunjuk ke arah Alisyha. Ayah mengusap pundak Bunda dan menghapus jejak air matanya. " Biar Karin yang coba bicara sama Alisyha Bun ". Ucap Karin sembari berjalan ke arah Alisyha.


Karin menepuk pundak Alisyha pelan. Tepukan Karin membuyarkan lamunan Alisyha. " Udahlah Syha, cowok kayak gitu nggak pantes buat lo !. Kalo aja dulu gue nggak nyaranin buat nerima dia, pasti lo nggak akan kayak gini sekarang. Maafin gue ya Syha ". Ucap Karin, sembari memeluk sahabatnya.


" Pada akhirnya gue pahan Rin, nggak ada jatuh yang indah, sekalipun itu jatuh cinta. Pada akhirnya cinta hanya tentang kepada siapa kita siap untuk patah. Tapi kenapa Rin ?. Kenapa dia harus pergi gitu aja tanpa sepatah kata. Dia pergi tanpa ngasih tau gue harus tetep menunggunya atau harus melupakannya. Hkkss...hikss...". Ucap Alisyha, setelah seminggu ia hanya terdiam.


" Gue tahu perasaan lo sekarang. Lupain dia Syha, hidup harus harus tetap berlanjut. Ada ataupun nggak ada dia !. Gue tahu kok lo pasti bisa, gue bakalan selalu temenin lo ". Ucap Karin.


" Biar lo bisa lega, mending lo tulis semua isi hati lo di kertas ini. Habis itu lo lempar jauh-jauh kertas ini bersama semua kenamgan pahit itu ". Ucap Karin lagi, sembari menyodorkan kertas dan pena pada Alisyha. Alisyha menerimanya dan mulai menggoreskan pena ke dalam kertas kosong itu.

__ADS_1


Terima kasih atas rasa bahagia yang pernah engkau berikan. Meski pada akhirnya kepahitan kehilangan mu yang harus ku rasakan. Terima kasih , telah memberikan senyuman terbaik mu pada ku, meski kini hanya tinggal bayangan.


Entah keadaan atau takdir, yang membawa kita pada perpisahan. Di mana kamu pergi tanpa sepatah kata.


Katakan pada ku !.


Harus ku jawab apa ?.


Tatkala hati bertanya ?.


Tetap setia menunggu mu atau beranjak pergi mencari kebagiaan baru ku ?.


Kepergian mu membuat ku ambigu. Apa benar jatuh cinta pada mu adalah sebuah kesalahan ?

__ADS_1


Jika benar kesalahan akan ku perbaiki, aku masih berharap kita di pertemukan oleh takdir di masa yang akan datang.


Mungkin ini cara Tuhan untuk mengembalikan kita pada jalan yang benar. Tak apa jika kali aku harus patah, aku paham. Aku yang salah menaruh harapan. Mungkin Ia (Allah ) tengah cemburu , perihal aku yang terlalu mencintai mu.


Mungkin kah ini ujian ?.


Hmm , entah lah aku berharap yang terbaik pada-Nya.


Setelah menulis dalam kertas itu, Alisyha merobek kertasnya dan melemparkannya ke bawah. Air matanya kembali tumpah.


" Kenapa mencintai mu harus sesakit ini Ar ? ". Batin Alisyha.


Karin yang paham akan keadaan sahabatnya, langsung memeluk.

__ADS_1


" Sabar ya Syha. Semngatt !!. Lo pasti bisa ngelewati masa patah hati ini ". Ucap karin sembari menunjukan cengiranya, membuat Alisyha terhibur.


" Terima kasih Allah, telah memberi ku sahabat seperti Karin " Batin Alisyha.


__ADS_2