
...Ingin sekali berjalan beriringan, namun takdir meminta kita untuk tegar sendirian....
...Jarak yang menjadi sekat diantara kita mungkin ingin memberi pelajaran bagi kita....
...Bahwa rindu itu tidak akan pernah ada jika aku dan kamu bersama....
...~ Alisyha ~...
4 TAHUN KEMUDIAN....
Aku telah Wisuda setahun yang lalu. Dan kini aku bekerja sebagai seorang penulis.
Menjadi seorang penulis adalah mimpi sekaligus cita-cita ku sedari kecil.
Menulis adalah seni. Seni mengungkapkan perasaan lewat kata-kata. Mungkin terlihat sederhana menulis itu, nyatanya sama sekali tak mudah. Untuk dapat menciptakan sebuah tulisan yang bernanfaat bagi pembacanya perlu ilmu , juga kreativitas untuk memilh kosa kata yang mudah di pahami dan di mengerti. Untuk menciptakan sebuah kata yang mengandung makna sana sekali tak mudah.
Aku kembali berada di depan laptop ku, berfikir keras apa yang harus ku tulis hari ini. Oh, iya aku lupa. Hari ini ada teman ku yang meminta ku di buatkan puisi untuk calon kekasih halalnya yang jauh. Jauh di mata dekat di doa katanya. Jari jemari ku mulai mengetik kata demi kata. Sampai jadilah sebuah puisi.
Untuk Kasih Ku...
Ingin sekali ku sandarkan kepala ku pada pundak mu,
Berharap akan hilang kekhawatiran dalam pikiran ku.
Kasih, sesekali ingin berada dalam dekap mu sembari mengeluhkan duka ku.
__ADS_1
Menceritakan tentang bagaimana jahatnya dunia memperlakukan ku.
Aku tau ini tak mudah bagi ku, atau bahkan tak mudah juga bagi mu ?
Ingin sekali berjalan beriringan, namun takdir meminta kita untuk tegar sendirian.
Jarak yang menjadi sekat diantara kita mungkin ingin memberi pelajaran bagi kita.
Bahwa rindu itu tidak akan pernah ada jika aku dan kamu bersama.
Tak mengapa jika hari ini harus jalan terpisah,
Bukankah kita sama-sama memiliki tujuan yang sama ?
Semoga takdir berbaik hati membawa kita pulang kerumah yang sama.
Semoga kelak tangan mu lah yang menjadi bantal tidur ku.
Dan semoga kelam telinga mu lah yang akan mendengarkan cerita sebelum tidur ku.
Entah kenapa tiba-tiba aku teringat pada Ardan. Apa kabar ia ?.
Sudah lama sekali aku tak tahu tentangnya. Ardan. Dia laki-laki pertama yang berhasil membuat ku jatuh cinta. Dia juga orang pertama yang berhasil membust ku patah hati. OH Rob, mengapa sulit sekali melupakannya. Aku telah mencoba untuk melupakannya begitu lama. Ahh, nyatanya aku masih berharab dia yang akan membawa ku pulang ke rumahnya. Oh,, Rob. Bolehkah aku berharap tentangnya. Bertahun-tahun aku menyimpan rindu untuknya.
Suara ketukan pintu membuyarkan lamunan ku. " masuk ! ". Tenyata Bunda yang mengetuk pintu kamar ku.
__ADS_1
" Syhaa. Kamu benerin khimar kamu, lalu turun ke bawah. Ada yang ingin bertemu dengan mu ". Ucap Bunda.
" Siapa Bun ? " Tanya ku.
Bunda tersenyum pada ku " Ada seorang pria yang datang bermaksud meminang mu. Ia tengah bercengkrama dengan Ayah. Dan sekarang Ayah keminta Bunda untuk memanggil mu, sebaiknya kamu turun terlebih dahulu dan menemuinya ". Ucap Bunda sembari mengelus khimar ku. Setelah itu Bunda turun ke bawah. Ku benarkan khimar ku, lantas turun ke bawah. Dengan kepala tertunduk, pelan-pelan ku turuni satu persatu anak tangga. Jantung ku berdetak tak karuan, sedang hati ku bertanya-tanya ?. Siapakah gerangan pria itu. OH Robb, aku masih mengharapkan ia yang datang untuk mengkhitbah ku. Lalu bagaimana jika yang datang bukanlah orang yang selama ini kita sebut namanya dalam doa, melainkan orang lain.
Setelah sampai di ujung anak tangga Ayah memanggil ku " Kemari nak ! ". Titah Ayah, membuat ku mendongak. Pria itu tengah duduk membelakangi ku membuat ku tak mengetahui siapa pria itu. Apakah aku mengenalnya ?. Aku berjalan menuju ayah. Sesampainya di samping Ayah aku mendongak menatap pria yang tengah duduk di depan ayah ku. Dan alangkah terkejutnya aku. Pria itu adalah Kak Raga, Kakaknya Ardan. Di sini bukan hanya ada Aku, Ayah, Bunda, dan Kak Raga. Melainkan ada Bang Iyan juga. Aku menatap mereka dengan tatapan tak mengerti , apa maksud dari semua ini. Dan siapa yang sebenarnya hendak mengkhitbah ku ?. Apakah Kak Raga ?.
Seperti tahu aku yang tengah bingung, Bang Iyan memulai pembicaraan " Syha maksud kedatangan Raga kemari---" ucapan Bang Iyan terpotong. " Izinkan saya yang menjelaskan pada Alisyha ". Ucap Kak Raga.
" Syha, maksud kedatangan saya kemari berniat untuk mengkitbah mu. Untuk saya jadikan sebagai istri sekaligus ibu dari anak-anak saya nanti. Sebenarnya saya telah lama menyimpan rasa pada mu dalam diam. Namun, saya sama sekali tak berani untuk mengatakannya kepada kamu. Karna saya tahu mencintai sebelum pernikahan itu ujian. Saya telah lama beristiqoroh dan jawabannya adalah kamu. Jadi, di depan semua keluarga kamu saya berniat untuk mengkhitbah mu. Jika kamu bersedia, saya akan segera bawa keluarga saya kemari. Namun, jika kamu tak bersedia insyaa Allah saya tetap akan ikhlas. Apapun jawaban mu saya akan menerimanya dengan lapang dada ". Deg !. Ucapan Kak Raga barusan membuat jatungku berdegub tak karuan. Apa katanya barusan ?.
Dia telah lama menyimpan rasa pada ku ?
Kenapa aku sama sekali tak tahu, bahkan aku sama sekali tak menyadarinya.
" Bagaimana Syha ? . Apa kamu bersedia menerima pinangannya Raga atau tidak ?. Jawabannya sepenuhnya ayah berikan kepada mu nak. Karna bagaimana pun kamu yang akan menjalani kehidupan bersamanya. Namun seperti yang sudah kamu ketahui , Raga ini baik dari segi agama dan akhlaknya. Ayah tidak ada pilihan selain menerimanya. Karena Abu Hurairah mengabarkan bahwa Rasulullah pernah bersabda:
إِذَا خَطَبَ إِلَيْكُمْ مَنْ تَرْضَوْنَ دِيْنَهُ وَخُلُقَهُ فَزَوِّجُوْهُ، إِلاَّ تَفْعَلُوا تَكُنْ فِتْنَةٌ فِي الْأَرْضِ وَفَسَادٌ عَرِيْضٌ
“Apabila seseorang yang kalian ridhai agama dan akhlaknya datang kepada kalian untuk meminang wanita kalian, maka hendaknya kalian menikahkan orang tersebut dengan wanita kalian. Bila kalian tidak melakukannya niscaya akan terjadi fitnah di bumi dan kerusakan yang besar.” (HR. At-Tirmidzi no. 1084, dihasankan Al-Imam Al-Albani t dalam Al-Irwa’ no. 1868, Ash-Shahihah no. 1022)
Namun, semuanya kembali lagi ayah serahkan kepada mu nak ". Ucap Ayah lembut kepada ku. Memang benar Kak Raga bisa di katakan calon suami yang perfect, idaman dunia akhirat. Namun apa iya aku harus menerima pinangannya. Aku harus jawab apa sedangkan hati ku masih berharap yang datang kemari adalah adiknya. Oh Rob , mengapa hamba harus berada dalam sebuah pilihan yang sama sekali tidak hamba inginkan. Takdir apa yang tengah engkau siapkan untuk ku Ya Allah.
Mereka semua yang berada di ruangan ini menatap ku. Menunggu jawaban ku. Oh Rob, aku harus jawab apa ?. Aku benar-benar tak bisa memberikan jawaban. Hati ku masih bingung tak karuan. Ku tarik nafas dalam " Maaf sebelumnya Kak , saya tahu maksud Kak Raga datang kemari dengan niatan baik. Alisyha hargai kedatangan Kak Raga. Tapi mohon maaf sekali lagi ".Ucap ku terhenti ku tatap wajah mereka satu persatu-satu, tampak raut wajah kekecewakan pada mereka apa aku salah berucap ?. " Alisyha mohon maaf belum bisa jawab sekarang, Alisyha mohon di beri waktu untuk sholat istiqoroh mohon petunjuk pada Allah. Insyaa Allah 3 hari lagi Alisyha akan memberikan jawabannya ". Ucap ku sembari keputusan , aku sempat melihat Kak Raga tersenyum walaupun lamat-lamat melihatnya. Namun, senyumannya ternyata manis sekali. Setelahnya Kak Raga ijin untuk pulang.
__ADS_1