Hinaanmu ku jadikan cambukan kesuksesanku, mas!

Hinaanmu ku jadikan cambukan kesuksesanku, mas!
bab 12..


__ADS_3

"cih, kalo cuma begitu aku juga bisa kali mbak. ngga usah lah dipamerin distatus kaya begitu, kaya ngga pernah makan enak aja."


tulisan pesan dari ririn membuatku menyunggingkan senyum kecil.


"dari siapa sih mbak, kok senyumnya kaya gitu banget?" tanya Ryan, aku pun langsung mengalihkan pandangan menatap adik lelakiku yang duduk disebelah ayah.


"Ririn" jawabku singkat.


"oohh, apa kabar dia? masih suka buat ulah?" tanyanya sambil memakan makanan yang ada dipiringnya.


"hmm ya seperti itu lah" jawabku menaruh ponsel ke dalam tas yang aku bawa. kemudian aku pun juga ikut memakan makanan yang ada diatas meja dengan antusias.


"enak ya nak?" tanya ayah pada Nauval yang hanya tersenyum.


"habiskan ya?" lanjut ayah yang masih menyuapi Nauval dengan lobster.


"jangan terlalu banyak ayah, nanti dia bisa kekenyangan" kataku membuat ayah mendelik tak suka.


"CK, sudahlah biarin sesekali. toh kalian juga jarang kesini, ayah jarang bisa memanjakan Nauval" jawab ayah dengan nada tak suka dengan aku yang melarangnya memberikan lobster terlalu banyak pada Nauval.


"Sinta akan sering kerumah ayah setelah ini" jawabku dengan menundukkan kepala.


ayah dan juga Ryan pun saling berpandangan, kedua nya pun seperti merasa heran dengan perkataan ku yang terlalu tiba-tiba.


"hmmmm, kalo begini nih biasanya lagi berantem nih" kata ryan menebak.


"hust kamu ini, ikut campur aja" kata mama menegur Ryan.


"bener yang dibilang Ryan sin?" tanya ayah melayangkan tatapan tajam padaku, aku pun menganggukan kepala sebagai jawaban.

__ADS_1


"biasalah yah, masalah rumah tangga. pasti kan ada aja, iyakan?" kata mama menjawab perkataan ayah dengan pertanyaan.


"iyaa tapi apa masalahnya, kayanya selama ini kalian baik-baik aja. bahkan ayah ngerasa ngga ada masalah sama Rendi, dia juga bekerja kelas untuk kalian. lalu masalahnya dimana?" tanya ayah yang mulai banyak pertanyaan.


"masalahnya,,,,,," ketika aku mau menjawab pertanyaan ayah suara dering ponsel ku pun berbunyi, tertera nama mas Rendi menghubungiku. mungkin dia sudah pulang dan saat ini ada dirumah.


"sebentar ayah, aku angkat telpon mas Rendi dulu" kataku pada ayah yang langsung menganggukan kepala. aku pun sedikit menjauh, hingga keluar tak jauh dari ruangan VIP dimana tadi aku berada.


"yaa assalamualaikum mas" kataku ketika sudah mengangkat telpon dari mas Rendi.


"kamu kerumah mama dan ayah kenapa ngga bilang sama aku dulu dek?" tanya mas Rendi tanpa membalas salam ku.


"jawab dulu salam ku mas, baru keluarkan pertanyaan kamu" jawabku sedikit ketus.


"waalaikumsalam, sekarang jawab pertanyaan aku dek. kenapa kamu ngga izin ke mas kalo kalian mau kerumah ayah?" kata mas Rendi mengulangi pertanyaannya.


"aku lupa bilang sama kamu mas, lagian tadi juga aku dadakan kesini. kamu telpon aku cuma mau menanyakan itu?" tanyaku pada mas Rendi disebrang telpon.


"loh, apa ibu kamu belum menceritakan semua nya sama kamu mas?" tanyaku pada.mas Rendi.


"cerita apa dek? belum ada tuh gan ibu cerita, karna mas baru aja sampe rumah dan belum kerumah ibu dek" jawaban mas Rendi pada akhirnya membuatku menganggukan kepala.


"oohh gitu, lebih baik kamu pulang kerumah ibu kamu mas. karna semua barang-barang kamu sudah berada disana" jawabku dengan nada santai.


"barang-barang? barang apa dek, bukannya barang mas semuanya ada didalam kontrakan kita. kok bisa ada dirumah ibu?" tanyanya berderet.


"iyaa tanya aja alasannya, oiyaa satu lagi ya mas. uang yang semalem kamu berikan ke aku sudah aku berikan sama ibumu, jadi aku ngga ada sedikitpun pegang uang hari kamu setelah hari ini" kataku yang langsung menutup telpon dari mas Rendi tanpa mendengarkan perkataannya lebih dulu.


kesal rasanya punya suami yang tak bisa tegas pada adik dan juga ibumu, apalagi lemah dengan kata durhaka. meskipun nyatanya sikap mas Rendi selama ini menunjukan jika dia membela ku, tapi dibanyak kesempatan dia selalu seolah tidak punya ketegasan pada ibu dan juga adiknya.

__ADS_1


"sudah telponnya?" tanya mama ketika melihatku yang kan duduk tepat disebelahnya.


"udah kok ma, lagian cuma sebentar. ga penting" kataku dengan tersenyum kecut.


"terus tadi apa yang mau kamu katakan sama ayah sin?" tanya ayah yang masih mempertanyakan penjelasan ku.


aku pun menjelaskan seperti apa yang aku jelaskan pada mama, berbanding terbalik dengan respon yang mama perlihatkan. ayah justru begitu marah mendengar ceritaku, bahkan ia pun sampai mengemetukkan giginya.


"dasar lelaki ngga tegas, apa dia itu ga ngerti agama. memang lelaki baktinya masih pada ibunya karna surganya ada ditelapak kaki ibu, tapi bukan seperti itu juga caranya. kalo begitu cerita sebaiknya kamu tinggal aja dirumah kami, buktikan pada Rendi jika dia tidak bisa tegas pada keluarganya maka dia yang harus menegaskan mau dibawa kemana rumah tangga kalian" kata ayah membuatku kaget atas keputusannya.


"ta-tapi yah,,,,,"


"tapi apa lagi, laki-laki yang ngga bisa menepati perkataannya itu berarti bukan lelaki gantel. apalagi macam Rendi yang plin-plan ngga punya ketegasan begitu, kalo kamu terus bersama dia bagimana nasip cucu ayah nanti. dia akan dinomer dua kan setelah ibunya dan juga adiknya, okelah kamu bisa bertahan dan mengalah tapi anaknya? belum tentu, namanya juga anak-anak. iyakan?" kata ayah yang aku benarkan dalam hati.


"Sinta harus gimana ayah?" tanyaku pada ayah.


"begini saja, kamu menginap lah beberapa hari dirumah biar nanti kamu pulang ayah antar sekalian sama mama dan juga Ryan. kita akan menginap dirumah kamu juga untuk melihat bagaimana perlakuan mertua kamu dan juga adik ipar kamu itu, sekalian nanti biar adik kamu pasangkan cctv didalam rumah. iyakan Ryan?" tanya ayah langsung pada Ryan yang seketika menganggukan kepala.


"nah kalo cctv nya udah terpasang, mau dipakai buat apa ayah? lagian rumah itu kan cuma rumah kontrakan yah" kataku pada ayah.


"yaa ngga apa-apa dong, kan kita juga mau mengawasi mertua kamu juga ipar kamu itu. biar cepet selesai urusan dengan mereka sekaligus membuat mereka kapok, ayah udah punya rencana sendiri" kata ayah membuatku menatapnya penuh tanya.


"ayah jangan macam-macam ah, mama ngga suka" kata mama mengancam ayah.


"tenang aja ma, ayah ngga akan macam-macam kok. ayah cuma mau memberikan pelajaran pada mereka yang sudah terang-terengan menghina putri ayah, seolah dia ini perempuan dan istri yang ga berguna. kalo aja mereka tau jika kita bahkan bisa langsung mengambil putri kita ini langsung dari kehidupan mereka, apa masih bisa mereka bersikap seperti itu?" kata ayah yang sudah diselimuti kemarahan terhadap ibu mas Rendi.


"tapi pastikan kalo mas Rendi dan keluarganya masih ngga tau kalo perusahaan ayah saat ini belum berkembang, alias masih stuck disitu aja. Ryan ngga rela nanti jika dia tau semuanya, dia justru mempertahankan mbak Sinta" kata Ryan berbisik ketelinga ayah namun aku masih bisa mendengarnya.


ayah pun menganggukan kepala sebagai jawaban dari perkataan Ryan.

__ADS_1


bersambung..


__ADS_2