Hinaanmu ku jadikan cambukan kesuksesanku, mas!

Hinaanmu ku jadikan cambukan kesuksesanku, mas!
bab 27.


__ADS_3

"sebentar pak, biar saya yang turun" kata Ryan di angguki oleh supir kantor tersebut.


"mau apa lagi kamu menghadang jalan kami?" tanya Ryan setelah turun dari mobil untuk menghadapi mas Rendi.


"apa maksudnya semua ini, kenapa kalian membawa pergi istri dan juga anakku?!" teriak mas Rendi dihadapan Ryan yang hanya memicingkan mata.


"istri? calon mantan istri hey!!" teriak Ryan sambil menunjuk kening mas Rendi.


"apa maksudmu?" tanya mas rendi memelankan suara nya.


"apa maksudku? oh, apa ibu mu itu ngga menceritakan jika mbakku sudah menggugat cerai kamu kepengadilan agama? bukankah tadi dia baru aja kerumah kami dan pulang setelah mendapatkan kabar itu!" kata Ryan membuat mas Rendi menggerakkan giginya.


"sintaaaaa, keluar kamu! jangan jadi istri durhaka dengan kurang ajar pada suamimu!!" teriak mas Rendi membuat beberapa tetangga turut menyaksikan kejadian memalukan ini.


akhirnya ayah pun keluar dari mobil dan menatap mas Rendi dengan tatapan yang sangat tajam.


"apa maksudmu berteriak seperti itu pada anakku? dan apa tadi kamu bilang, durhaka karna kurang ajar sama suami sepertimu? cih, seharusnya sebelum bicara kau harus berkaca ren. kamu siapa memangnya, hah?!" jawab ayah membantak mas Rendi begitu keras hingga terdengar kedalam mobil.


"aku gak peduli ayah, yang aku pedulikan adalah Sinta harus kembali padaku beserta anak kami. ayah gak bisa menghalangi itu, karna secara hukum dan agama Sinta masih sah menjadi istriku!" kata mas Rendi dengan berani menatap ayah yang saling pandang dengan Ryan, sedetik kemudian keduanya pun tertawa kencang hingga membuat pak supir itu melongo dibalik kemudi melihat kelakuan ayah dan juga Ryan.


"hei, kemana aja kamu selama ini? kamu bukan hanya tidak menampakkan batang hidung tapi juga tak pernah memberikan nafkah untuk mbak Sinta dan Nauval, ngga malu kamu bicara seperti itu didepan kami?" kata Ryan memandang remeh mas Rendi yang ku lihat tangannya sudah mengepal akibat hinaan yang keluar dari mulut Ryan.


"jaga mulutmu, jangan sampai aku mengatakan perkataan yang tidak pantas aku keluarkan. kamu hanya anak kemarin sore yang bahkan tidak tau apapun tentang rumah tangga!!" kata mas Rendi dengan suara tertekan.


"yaaa, kamu benar. tapi anak kamaren sore ini tau bagaimana menghormati wanita dan membuatnya bahagia, sedangkan kamu? usia boleh tua, tapi sayang masih hidup dalam bayang-bayang orangtua!" jawab Ryan membuat mas Rendi hendak melayangkan tangannya pada Ryan.

__ADS_1


"sekali kamu berani memukul anakku, aku pastikan kamu akan mendekam dalam penjara!!" teriak ayah dengan sangat kencang.


aku pun memutuskan untuk keluar dari mobil dan menghentikan pertikaian antara ketiganya.


"udah kamu disini aja sih, bahaya. orang kaya Rendi itu pasti anak nekat sampai apa yang dia mau tercapai" kata mama memegang lengan tanganku.


"tapi ma, kalo aku diam aja. masalah ngga akan selesai dan kita gaakan segera pergi dari tempat ini" kataku berusaha membujuk mama agar memperbolehkan ku keluar dari mobil.


"percaya saja sama ayah dan juga adik kamu, mereka pasti bisa menyingkirkan Rendi dengan cara mereka" kata mama kembali menyuruhku duduk ditempat ku semula.


pertikaian masih terus berlanjut hingga akhirnya pak RT ditemani salah satu tetanggaku datang dengan terburu-buru.


"permisi, ada apa ini?" tanya pak RT terdengar jelas ditelingaku.


"saya RT disini, jadi ini ada apa? kenapa ribut-ribit ditengah jalan seperti ini, apa ngga malu jadi tontonan tetangga. dan bapak dan juga adik ini siapa? kenapa cekcok dengan mas Rendi" tanya pak RT membuat ayah dan juga Ryan saling berpandangan.


"kami keluarganya Sinta, saya ayahnya dan ini adiknya Sinta namanya Ryan. mohon maaf pak RT kami sebetulnya tidak bermaksud membuat keributan, tapi si Rendi ini yang tiba-tiba menghalangi jalan kami" jawab ayah melirik mas Rendi yang terlihat tak suka dengan perkataan ayah.


"itu semua karna kalian mau membawa istri dan anakku, kalo aja kalian gak membawa mereka aku pun gaakan melakukan hal seperti ini" jawab mas Rendi dengan suara lantang.


"maaf pak, mas apa betul apa yang dikatakan mas Rendi jika kalian mau membawa mbak Sinta dan juga dek Nauval dari rumah mereka?" tanya pak RT yang langsung diangguki oleh ayah.


"betul, itu pun ada alasannya pak RT. tapi saya rasa pak RT tidak perlu tau ataupun ikut campur karna ini adalah urusan rumah tangga anak dan juga menentu saya, pak RT hanya cukup tau jika Sinta anak saya sudah melayangkan gugatan cerai pada lelaki ini" kata ayah menunjuk wajah mas Rendi dengan jari telunjuknya.


"tidak, saya tidak akan pernah menyetujui perceraian ini. tidak akan pernah, apapun alasannya!!" teriak mas Rendi yang langsung mendapatkan bisikan dari para tetangga.

__ADS_1


"ngga mau dicerai tapi kok ngga ngasih tanggung jawab sebagai suami, lelaki macam apa itu. egois!" suara ibu-ibu yang aku tau pasti itu suara ibu Ida.


"diam kamu! saya tidak bicara dengan kamu, jangan ikut campur urusan rumah tangga orang urus aja rumah tanggamu sendiri!!" kata mas Rendi memandang kesal kearah Bu Ida.


"sudah jelas kan pak RT, bahkan tenagga disini saja tau bagaimana kelakukan Rendi dan keluarganya pada anak saya. bukan menjadi rahasia umum lagi jika setiap saat anak saya selalu menjadi bahan hinaan bagi ibu mertuanya, andai itu anak pak RT apa pak RT akan tetap mengizinkannya bersama lelaki seperti itu?" kata ayah membuat pak RT bungkam. sementara orang-orang saling berbisik dan menatap mas Rendi dengan tatapan mencemooh.


"mohon maaf pak, apa lah tidak bisa dibicarakan baik-baik. biar bagaimana pun nak Rendi ini masih menanti sampean dan juga suami dari anak perempuan sampean,,,,"


belum juga pak RT menyelesaikan kalimatnya sudah dipotong oleh Ryan yang berdiri sambil mendekap tangan didada.


"tidak ada yang perlu dibicarakan baik-baik lagi pak RT, mohon maaf tapi kami sudah memberikan kesempatan pada lelaki pengecut ini untuk bicara selama satu Minggu ini. tapi jangan kan bicara, menghadap pun tidak pernah. tadi saat kami sedang membereskan barang yang akan kami bawa ini, justru ibu nya yang datang dan membuat keributan dan sekarang anaknya. bukankah ibu dan anak sama saja, senang membuat keributan" kata Ryan membuat mas Rendi mengeram marah karna Ryan justru menyalahkan ibu kandungnya.


"sialaan,,,,,"


"maaf pak RT, tolong bawa lelaki ini pergi karna kami harus segera melanjutkan perjalanan" kata ayah yang langsung masuk mobil diikuti oleh Ryan, sementara mas Rendi masih berteriak dan mengetuk kaca mobil.


"jalan pak" kata ayah menyuruh supirnya memulai perjalanan.


"ta-tapi pak, lelaki itu,,,,"


"sudah gak perlu dihiraukan lagi, jalan saja kalo dia ngga mau minggir tabrak aja sekalian" jawab Ryan membuat supir itu langsung menyalakan mobilnya dan berjalan dengan kecepatan sedang.


aku pun menghela nafas karna berhasil lolos dari hadangan mas Rendi yang sepertinya sudah mulai gila akibat perbuatannya sendiri.


bersambung....

__ADS_1


__ADS_2