
malam harinya, mas Rendi benar-benar menepati janjinya untuk menemui ayah dan juga mama dirumah kontrakan kami. suasana sangat horor karna mas Rendi seperti orang ketakutan menatap mama dan juga ayah.
"Rendi, sebelumnya ayah mau tau sama kamu. boleh kan?" tanya ayah membuat mas Rendi mendongak.
"boleh kok ayah, silahkan!" jawab mas Rendi menatap ayah.
"bisa kah kami sedikit tegas pada ibumu?" tanya ayah membuat mas Rendi melirik kearahku.
"tegas yang bagaimana maksud ayah?" tanya mas Rendi dengan lembut.
"bisa kah kamu membuat ibumu tak membuat onar seperti tadi? atau kamu senang setelah dipulangkan Sinta kerumah ibumu?" tanya ayah yang langsung dijawab gelengan kepala oleh mas Rendi.
__ADS_1
"mana ada begitu ayah, mana mungkin aku senang saat rumah tanggaku diujung tanduk. tapi aku harus bagaimana ayah, biar bagaimana pun ibu ku tetap ibuku seburuk apapun beliau yang terpenting aku masih bisa melindungi istriku. iyakan ayah?" jawab mas Rendi membuat ayah menganggukan kepala.
"betul, kamu sangat betul. ayah bangga mempunyai menantu seperti kamu yang begitu menghormati ibumu, tapi ren. kamu tau bukan jika ada perasaan seorang istri yang wajib kamu jaga, jika kamu tidak bisa membuat ibumu berbuat lebih baik pada Sinta setidaknya jauhkan keduanya" jawab ayah membuat mas Rendi membelalakan mata.
"maksud ayah?" tanya mas Rendi meminta penjelasan sekali lagi pada ayah.
"tinggallah berjauhan dengan ibumu, dengan begitu kamu tidak zalim dengan istrimu yang setiap hari harus merasakan caci maki dari ibu kandungmu dan dengan begitu kamu pun tak durhaka pada ibumu jika terus melawan karna membela istrimu" jawab ayah memperjelas perkataannya.
"ibu dan adikmu sudah dewasa ren, mereka bisa menentukan jalan mereka sendiri. begitu juga dengan kalian yang sudah berumah tangga, jujur saja ayah sakit hati dengan perkataan ibumu pada Sinta tadi. bahkan meskipun saat ini ayah bangkrut, tapi ayah masih mampu menafkahi anak ayah dan menghidupinya jika kamu tidak mampu lagi untuk melakukannya" kata ayah membuat mas Rendi semakin membelalakan mata.
"ap-apa? bangkrut!" kata mas Rendi kaget.
__ADS_1
"iyaa ayah bangkrut, semua aset disita. makanya ayah meminta izin sama kamu untuk tinggal dirumah ini bersama Sinta, apakah boleh?" tanya ayah membuat mas Rendi menatapku lagi. aku pun hanya diam dan sangat penasaran dengan apa yang dikatakan mas Rendi.
"tinggal dirumah ini? maaf ayah, tapi ayah kan tau jika keadaan kami seperti ini. beban dirumah ini jadi bertambah jika ayah, mama dan juga Ryan tinggal dirumah ini" kata mas Rendi yang sudah mulai tak enak menjawab perkataan ayah.
"beban? kamu menganggap kami beban! ren, kami hanya minta izin tinggal disini bukan meminta kamu menanggung biaya hidup kami. sudah ayah bilang bukan, meskipun kami bangkrut tapi kami masih bisa mencari sendiri untuk sekedar makan." jawab ayah dengan nada yang mulai agak meninggi.
"tau kamu ren, kami ngga seperti ibu kamu yang akan mengerong-rong anaknya. kami hanya butuh tempat tinggal aja, untuk masalah makan nanti kami akan cari sendiri" kata mama yang nampak kesal dengan jawaban mas Rendi.
"yasudah kalo begitu, terserah kalian aja. dek, kita harus bicara" kata mas Rendi padaku. aku pun beralih pada mama dan juga ayah yang sedikit menganggukan kepala, kemudian mas Rendi pergi menuju kamar kami tanpa meninggalkan sepatah kata untuk kedua orangtuaku.
"astaga ngga ada sopan santunnya sekali ternyata dia sama mertua sendiri, begitu ternyata sifat asli dia" kata Ryan dengan wajah tak suka dengan kelakuan mas Rendi.
__ADS_1
bersambung