Hinaanmu ku jadikan cambukan kesuksesanku, mas!

Hinaanmu ku jadikan cambukan kesuksesanku, mas!
bab 7.


__ADS_3

Esok pagi nya aku pun mengerjakan aktivitasku seperti biasa, aku kembali membuat mas Rendi sarapan dan juga kopi. aku bukan matre, tapi aku realistis. bukan juga karna aku pelit karna tak meminjamkan uang untuk keperluan mas Rendi, tapi aku hanya ingin mas Rendi bisa membedakan mana kebutuhan skunder dan juga kebutuhan premier. apalagi motor itu beluk terlalu dibutuhkan untuk Ririn yang memang masih sekolah, terlebih lagi aku paling tidak suka jika ada orang yang bergaya tak sesuai kemampuan.


"masak apa hari ini dek?" tanya mas Rendi yang sudah rapih menggunakan seragam tempat kerjanya.


"ini mas untuk sarapan aku buatkan nasi goreng pakai sosis dan ayam suwir, dan juga telur dan naget untuk pendampingnya" jawabku membuat mata mas Rendi berbinar.


"kamu masak banyak dek hari ini, jangan sering-sering ya kalo bisa ditabung sedikit-sedikit untuk keperluan kita kedepannya" kata mas Rendi membuatku tersenyum kecil.


"iyaa mas gapapa kok, lagian ini sebenarnya aku beli kemarin-kemarin dan masih ada sisa dikulkas mas. jadi, daripada mubazir mendingan diolah kan. kemarin aku badmood aja sama kamu makanya ga aku olah" jawabku dengan mengerucutkan bibir.


"maafin mas ya dek" kata mas Rendi yang langsung aku angguki.


"udah, mas makan dulu sarapannya. aku mau mandiin Nauval dulu ya" kataku yang langsung diangguki oleh kas Rendi, sedari bangun aku belum sama sekali membuka pintu. ntah kenapa rasanya sangat malas sekali.


aku pun memandikan Nauval yang sudah terbangun sejak tadi, kemudian aku pun juga mandi sementara Nauval dijaga mas Rendi sambil disuapi makan.


"sudah selesai dek?" tanya mas Rendi yang melihatku sudah rapih berganti pakaian.


"sudah mas, aku sarapan dulu ya mas. gapapakan? kamu belum mau berangkat kan mas?" tanyaku yang diangguki mas Rendi.


"lima belas menit lagi dek, kamu makan lah dulu. ini Nauval juga udah abis makannya" jawab mas Rendi membuatku langsung bergegas memakan sarapanku.


selesai menyuapi Nauval, mas Rendi pun menggendong Nauval dihalaman rumah. tak lama terdengar salam suara ibu mertua.


"assalamualaikum"


"waalaikumsalam" jawab mas Rendi.


"ibu, ada apa pagi-pagi udah kesini?" tanya mas Rendi pada ibu mertua sambil masih tetap menggendong Nauval.

__ADS_1


"ibu mau minta uang ren buat belanja hari ini" kata ibu mertua.


"uang? kan Rendi udah kasih kemarin sore, kenapa ibu minta lagi? Rendi ngga ada uang lagi lah Bu" jawab mas Rendi yang masih bisa aku dengar.


"uangnya terpakai sama adikmu untuk mengerjakan tugas ren, masa untuk hari ini aja ngga ada si ren" kata ibu mertua kembali memberi alasan.


"rendi udah gaada uang Bu, semua uang udah dipakai Sinta untuk belanja kebutuhan dapur kami. lagian Rendi kan sudah bagi juga untuk uang jajan Ririn Bu, bahkan rasanya uang tiga ratus ribu untuk satu Minggu bagi anak SMA itu lebih dari cukup loh bu untuk sekedar mengerjakan tugas" jawab mas Rendi membuat ibu mertua berdecak kesal.


"yaa ibu ngga tau ren, pokoknya ibu minta uang lagi untuk belanja. ibu ngga ada uang sama sekali ren" kata ibi mertua lagi dengan merengek


"Rendi ngga ada Bu, ini tinggal dua puluh ribu untuk beli bensin Rendi nanti nganter paket. kalo ibu mau silahkan bilang sama Sinta, itu pun kalo Sinta masih pegang uang" jawab mas Rendi menyerahkan semuanya padaku.


aku yang mendengar pun seolah tak mendengar apa yang dikatakan mas Rendi dan tetap melanjutkan memakan sarapanku.


"dek, udah belum sarapannya? mas udah mau berangkat nih dek" teriak mas Rendi dari halaman depan.


"sebentar mas, aku cuci piring bekas kita makan dulu sebentar" jawabku juga dengan berteriak.


"sini mas nauvalnya kalo mas Rendi udah mau berangkat" kataku pada mas Rendi, mengambil alih Nauval yang masih dalam gendongannya.


"dek, ibu mau minta uang lagi untuk masak hari ini. kamu masih ada uang kan dek?" tanya mas Rendi padaku.


"katanya udah mas kasih uangnya sama ibu, kok masih minta lagi?" tanyaku dengan nada kesal.


"uang nya dipakai Ririn mengerjakan tugas dek, mas serahkan ini sama kamu ya dek. kalo masih ada uang kasih ibu ya dek, kalo memang ngga ada ya gapapa tapi bilangnya tolong baik-baik ya" kata mas Rendi berbisik di telingaku.


aku pun menganggukan kepala sebagai jawaban.


"Bu, aku berangkat dulu ya" kata mas Rendi berpamitan.

__ADS_1


"loh ren terus gimana uang belanja ibu?" tanya ibu mertua membuat mas Rendi menghentikan langkahnya.


"nanti dikasih Sinta Bu kalo ada, kalo ngga ada tolong jangan memaksa ya Bu" jawab mas Rendi sambil menyalakan motornya.


"mana uang Rendi, cepat kasihkan ke ibu" kaya ibu mertua setelah kepergian mas Rendi.


"nanti Bu setalah aku selesai belanja kebutuhan dapurku" jawabku sedikit agak ketus.


"terus maksudmu, aku kamu kasih sisa belanjamu begitu?" tanya ibu mertua membuatku memicingkan mata.


"udahlah Bu, ngga perlu berpura-pura. sebetulnya uang yang diberikan mas Rendi untuk Ririn mengerjakan tugas itu hanya alasan ibu aja kan biar bisa mendapatkan uang lebih dari mas rendi?" kataku menatap ibu mertua yang membelalakan mata.


"jangan sok tau kamu ya, lagian itu uang anakku. mau aku apakan ya bukan urusan kamu, cepat sini kasihkan uang Rendi sama ibu! cepat!!' bentaknya dengan sedikit berteriak.


"tidak, dan tidak akan pernah. kalo ibu mau, silahkan tunggu aku selesai belanja kalo ngga mau ya silahkan pulang" jawabku yang segera berlalu memasuki kamar untuk mengambil dompet serta uang yang semalem diberikan mas Rendi yang masih tersimpan didalam laci.


"dasar menantu gatau diri, kamu sengaja kan bicara yang ngga-ngga sama Rendi biar Rendi ngga menambahkan uang belanja ibu!! heh Sinta, kurang ajar!!" bentak ibu mertua yang mengikutiki keluar dari rumah. melihat ibu mertua hang ikut keluar, aku pun segera mengunci pintu.


"loh, loh kok dikunci. siniin kuncinya!!" kata ibu mertua mencoba mengambil alih kunci rumah yang ku pegang.


"ibu, apa apaan si Bu!! jangan kaya anak kecil Bu, kita udah sama-sama diberikan uang belanja sama mas Rendi Bu. lebih baik ibu gunakan sebaik-baiknya uang yang diberikan mas Rendi itu. kami juga harus menabung Bu untuk membayar sewa kontrakan, bukan terus mengikuti kemauan ibu yang ngga ada habisnya itu!!" kataku yang sudah terlanjur kesal dengan perlakuan ibu mertua.


"kurang ajar!! berani-beraninya ya kamu bicara begitu padaku, memangnya kamu fikir kamu itu siapa hah!! kami itu hanya orang lain yang kebetulan dinikahi oleh anak saya!!" teriak ibu mertua ku memancing para tetangga berkumpul didepan rumahku.


"aku memang orang lain dikehidpan keluargamu Bu, tapi ingatlah jika aku adalah perempuan yang dipilih anakmu untuk menjadi istri. dan aku lah hang melahirkan keturunan bagi anakmu Bu, kalo ibu merasa menyesal dengan menikahkan anak ibu pada ku kenapa tidak ibu nikahi saja anak ibu sendiri agar tetap bisa memenuhi kebutuhan ibu tanpa memikirkan untuk memenuhi kebutuhan anak dan juga istrinya" jawabku dengan panjang lebar membuat para tetangga berbisik membicarakan pertengkaran kami.


"menantu kurang ajar!! bisa-bisanya kamu bicara seperti itu pada mertuamu, apa yang diajarkan orangtuamu hei Sinta sampai kamu ngga bisa menghormati mertuamu sendiri!!"


bersambung.

__ADS_1


####


hayoooo, menegangkan nih. semoga suka ya sama ceritanya☺️


__ADS_2