
"betul, seperti yang kamu pikirkan. ngga salah sedikit pun, ayah akan membuat Rendi menyesal telah menyia-nyiakan kamu sebagai istrinya" kata ayah dengan tatapan kosong, aku tau sekali kekecewaan ayah sebagai seorang ayah yang begitu menyayangi putrinya.
"apa ayah yakin? Sinta ngga mau ayah justru dicap jelek nanti nya karna mempermainkan menantu sendiri" kataku pada ayah yang menganggukan kepala dengan mantap.
"iyaaa, kamu tenang aja sin. ayah akan lakukan apapun untukmu, selama ini kamu sudah cukup menutupi semua perlakukan Rendi dan juga keluarganya. ayah fikir dia lelaki baik dan bertanggung jawab, tapi nyatanya kamu bisa lihat sendiri kan? ayah benar-benar ngga nyangka soal itu" jawab ayah dengan mata memancarkan kekecewaan terhadap mas Rendi.
"iyaa ayah Sinta tau, maaf kan Sinta yang membuat ayah jadi seperti ini" kataku menatap ayah dengan sorot mata berkaca-kaca.
"tidak nak, kamu ngga salah. hanya saja memang Rendi dan keluarganya yang gak bisa bersyukur dengan ada nya kamu dalam keluarga mereka" jawab ayah membuatku menganggukan kepala.
"iyaa ayah, Sinta juga sudah memutuskan untuk tidak meneruskan pernikahan ini. untuk masalah Nauval, biar lah dia Sinta yang urus. justru dengan usia Noval yang sekarang, dia masih belum mengerti apapun dan Sinta juga tidak terlalu sulit untuk menjelaskan nantinya" jawab ku yang juga dibenarkan oleh ayah.
"iyaa kamu benar sin, tapi seperti yang kamu bilang tadi. kamu harus membuat dia menyesal karna sudah berani menyia-nyiakan kamu" kata ayah membuatku tersenyum dan menganggukan kepala.
"iyaa ayah itu pasti" jawabku.
aku pun berpamitan pada ayah untuk masuk.kedalam rumah dan menaruh wadah tempat buah tadi, dengan langkah pasti aku pun memasuki rumah ternyata disana Nauval sudah sedang mandi oleh mama.
"anak mama mandi sama uti ya? seger ya sayang" kataku.
"iyaa dong mama" suara mama menirukan suara anak-anak seolah Nauval yang menjawab perkataanku.
aku pun tersenyum, kemudian menaruh wajah itu ketempat cucian piring dan mencucinya satu persatu.
"udah selesai semua di depan di? ngga ada yang berserakan lagi?" tanya mama.
"yaa masih ma berserakan didepan, itu loh kulit-kulit gitu. nanti biar Sinta sapu pake sapu lidi, setelah selesai ini" kataku yang langsung dijawab anggukan kepala oleh mama.
__ADS_1
"yaudah kalo begitu, mama mau pakaikan baju Nauval dulu" kata mama ku jawab dengan anggukan kepala sebagai respon.
beruntungnya aku karna memiliki seperti ayah, mama dan juga Ryan yang begitu sangat menyayangiku dan selalu mensyuport apapun yang aku lakukan selagi itu positive.
setelah selesai mencuci wajah bekas buah, aku pun kembali kedepan tetapi berhenti ketika mendengar suara ayah yang terdengar tengah mengobrol.
"iyaa begitu lah pak, makanya saya minta tolong jika ada seseorang yang melamar pekerjaan atas nama yang saya sebutkan tadi untuk diterima. yaa dipermudah lah segalanya, bapak tau sendiri kan bagaimana saya sangat tidak suka dengan orang yang sangat semena-mena seperti itu. saya hanya ingin memberikan pelajaran untuknya" kata ayah yang begitu jelas terdengar ditelingaku.
"baik, terimakasih banyak pak kalo begitu. assalamualaikum" kata ayah mengakhiri telpon.
aku pun kembali melangkah kan kaki keluar rumah untuk menyapu halaman depan, ketika sampai didepan ayah beliau pun menghentikan langkahku.
"Sinta?"
"iyaa ayah, ada apa? Sinta sambil nyapu ya" kataku pada ayah yang tersenyum.
"jelas lah pasti dibantu ayah, jelas karna pemiliknya itu ayah. coba kalo ayah bukan pemiliknya, mana mungkin mereka mau bantu yah" kataku dengan sedikit terkekeh.
"yaa gapapa lah setidaknya mereka memang mau membantu, ayah jadi bisa melepaskan rasa kesal ayah dengan cepat. dan kamu juga jika ingin pisah dengan Rendi, kamu harus cepat bertindak jangan sampai kamu justru lebih lama dalam lingkup keluarga Rendi yang seperti itu. oiya pasti kamu akan kaget jika tau tentang adiknya Rendi yang bernama Ririn itu" kata ayah membuatku menyeritkan kening.
"Ririn? kenapa emangnya ayah?" tanyaku yang hanya dijawab dengan kekehan dan gelengan kepala.
"suatu saat kamu pasti tau sendiri, oiyaaa kapan kita akan pindah ke Menteng? ayah sudah menyuruh orang untuk membersihkan kamar-kamar kita dirumah sana" kata ayah membuatku menghentikan sejenak pekerjaanku.
"aku terserah ayah saja bagaimana baiknya, lagi pula untuk apa aku kelamaan disini ayah toh seperti nya mas Rendi memang sudah tidak peduli padaku juga Nauval" kataku menundukkan kepala dengan sedih.
tentu saja aku merasa sedih, biar bagaimana pun aku bersama mas Rendi lebih dari dua tahun dan itu begitu membekas dihatiku.
__ADS_1
"sudahlah jangan sedih seperti itu sin, orang seperti Rendi itu tidak pantas kamu tangisi. masih banyak laki-laki diluar sana yang akan menerima kamu apa adanya" kata mama yang tiba-tiba keluar dengan menggendong Nauval dibahunya.
"eehh cucu Akung sudah ganteng, sini sama Akung sayang" kata ayah mengambil alih Nauval dari tangan mama.
"kamu denger kan apa yang mama bilang sin? lagian sampai kapan kamu mau hidup satu lingkungan dengan keluarga toxic itu, sementara kita sendiri memiliki tempat yang nyaman dan jauh dari mereka. sudah lah, sebaiknya kita percepat saja kepindahan kita kementeng. untuk rencana kita, nanti akan kita lanjutkan jika sudah waktunya tepat" kata mama yang juga diangguki oleh ayah.
"betul apa yang mama mu bilang sin, ayah setuju. bagaimana kamu weekend ini? tapi bagaimana dengan pasukan mama, nanti mereka pasti mencari" kata ayah memandang mama dengan wajah sinis, sementara yang dipandang pun hanya tersenyum kecil.
"tenang aja kalo itu, kita kan bisa mengorek informasi dari mereka nantinya. iyakan sin?" kata mama dengan santai.
"mengorek informasi untuk apa lagi?" tanya ayah dengan dahi menyerit.
"yaa tidak untuk apa-apw, sekedar hiburan aja. kayanya sennag dan seru kalo lihat orang itu susah, iyakan?" kata mama membuat ayah menggelengkan kepala.
"jangan begitu ma, nanti malah kita yang dikira kepo dengan kehidupan mereka" kata ayah sambil menggelengkan kepala.
"ah ayah ini gak asik deh, apa salah nya loh liat ekspresi mereka nanti saat tau kenyataan yang sebenarnya. lagian mama juga pengen tau gimana respon mereka kalo tau sebetulnya kita ini ngga bangkrut" kata mama dengan senyum licik.
"ah sudah lah terserah kamu aja lah ma, yang penting ayah sudah kasih tau mama." kata ayah pada akhirnya.
mama pun hanya mengerucutkan bibir mendengar perkataan ayah, setelahnya ayah pun menggendong Nauval berjalan-jalan didepan rumah dimana banyak anak tetangga bermain.
"mau kemana ayah?" teriak mama ketika ayah sudah berjalan menjauh.
"jalan dulu sama nauval, paling kewarung mentoknya" jawab ayah juga dengan berteriak.
mama pun menganggukan kepala sebagai jawaban, ayah pun kembali melangkah menjauh dari halaman rumah bersama Nauval dalam gendongannya.
__ADS_1
bersambung...