Hinaanmu ku jadikan cambukan kesuksesanku, mas!

Hinaanmu ku jadikan cambukan kesuksesanku, mas!
bab 9.


__ADS_3

setelah selesai berkemas, aku hanya sibuk membaca novel dari penulis lain yang sedikitnya bisa ku jadi referensi untuk bab novelku selanjutnya. tepat setelah aku sholat Zuhur, Nauval pun terbangun. aku segera merapihkan Nauval kembali lalu memesan taksi online untuk membawa kami kerumah ibuku, setelah berhasil mendapatkan pengemudi aku pun mengunci pintu rumah dan menunggu taksi online ku dihalaman kontrakan.


"nti,,,,??" kata Nauval yang memang sudah pandai memanggil ibuku dengan sebuatan uti.


"iyaaa kita mau kerumah uti ya nak, kita lagi nunggu taksi onlinenya buat kerumah uti" jawabku mengelus rambut kepala Nauval dengan sayang.


tak sampai lima menit aku duduk, taksi online yang aku pesan pun sampai didepan halaman rumah. aku pun segera memasuki taksi online setelah memastikan taksi itu betul pesanan ku.


"sesuai alamat ya mbak?" tanya supir taksi online itu padaku.


"iyaa pak, sesuai alamat yang saya taruh diaplikasi." jawabku tersenyum, supir taksi online itu pun menganggukan kepala.


"maaf mbak, boleh saya tanya?" kata supir taksi online tadi memecah keheningan.


"boleh pak, silahkan" jawabku.


"mbak tinggal didaerah sana apa kenal sama orang yang bernama Asti?" tanyanya padaku. aku yang mendengar nama yang disebutkan oleh supir taksi online itu pun membelalakan mata, karna merasa itu ada lah nama ibu mertua ku.


"Asti, Asti siapa ya pak?" tanyaku penasaran.


"Asti, ibu nya Ririn mbak. apa mbak kenal?" tanyanya lagi kembali membuatku terkejut, namun aku berusaha menutupi keterkejutanku.


"oohh iyaa saya kenal pak, memangnya ada apa ya pak?" tanyaku penasaran.


"oohh gapapa mbak, saya cuma bertanya aja. siapa tau sudah pindah, saya dulu tekan dekatnya" jawabnya, aku pun hanya menjawab dengan anggukan kepala. meskipun sebenarnya dalam hati ini masih sedikit penasaran, namun aku tak mau bertanya lebih karna itu juga bukan urusanku.

__ADS_1


tak lama taksi yang ku tumpangi sampai dihalaman rumah mama yang lumayan luas, ya orangtua ku termasuk orang berada dilingkungan rumah kami tinggal. makanya, orang sangat segan terhadap kedua orangtuaku. tapi meskipun begitu, tak membuat mereka menjadi tinggi hati dan juga sombong. orangtuaku tetap bergantung seperti biasanya dengan tetangga dekat, tak menutup diri bahkan sering disebut orang dermawan dikampung ini.


"sudah sampai mbak" kata supir taksi online itu. aku pun menganggukan kepala sambil mengambil uang pembayaran untuknya.


"ini pak" kataku menyerahkan satu lembar uang merah pada pak supir.


"waduh mbak maaf, saya belum ada kembalinya ini. dari tadi soalnya non tunai semua" jawabnya dengan wajah bingung.


"yasudah gapapa pak, ambil saja kembalinya. rejeki buat beli bakso pak" jawabku tertawa kecil.


"masyaallah, makasih banyak ya mbak. semoga rejeki mbak terus bertambah" katanya dengan wajah berbinar.


"amiiinnn, makasih banyak ya pak. semoga rejeki bapak hari ini juga terus mengalir" timpalku dengan senyum tulis, supir taksi online itu pun menganggukan kepala.


aku pun turun dari taksi lalu memasuki gerbang rumah mama dan mengetuk pintunya, tak lama terdengar suara langkah kaki.


"assalamualaikum" salamku ketika pintu rumah sudah terbuka.


"wa-waalaikumsalam, masyaallah Sinta. kamu sama siapa? sini cucu uti, yaampun uti kangen banget sama kamu val" kata mama yang langsung dengan riang mengambil Nauval dalam gendonganku.


"aku sama Nauval aja ma, tadi naik taksi online" jawabku tersenyum kecil.


"loh memangnya Rendi kemana nak?" tanya mama membuatku menghela nafas.


"huft, mas Rendi kerja lah ma. kalo ngga kerja mau makan apa kami" jawabku tanpa menatap mata mama.

__ADS_1


"kerja? bukannya mama denger suami kamu itu kena PHK ya? udah beberapa bulan ini kan, kenapa kamu ngga bilang sih sama mama" jawab mama membuatku terkejut, ntah siapa yang memberitahukan berita ini pada mama.


"terus mama tau dari mana kalo tau Sinta ngga cerita?" tanyaku penasaran.


"kamu lupa ya kalo anaknya Bu omah yang dirt sebelah itu kerjanya satu kantor sama suami kamu? dia kan juga kena PHK karna masih beberapa bulan kerja, yaa Bu omah kan tau sendiri lah kamu mulutnya kaya gimana. gimana mama ngga tau" jawab mama yang terdengar kesal saat menceritan tentang bu omah.


"oiyaa Sinta lupa, pantesan aja mama tau." jawabku santai.


"terus tadi yang kamu sebut dia kerja, kerja apa dia sekarang?" tanya mama.


"kerja antar kurir paket ma, lumayan lah buat masuk kantong tiap harinya daripada ngga ada sama sekali kan" jawabku yang langsung diangguki oleh mama.


"iyaa lumayan si lumayan, kalo buat keluarga kecil kalian doang. tapi kamu tau sendiri kan ibu mertua kamu itu kaya apa, apa dia bisa terima penghasilan anak lelakinya yang ga seberapa itu?" tanya mama kembali membuatku menghela nafas.


"hmmm itu lah kenapa aku sampai datang kerumah ini ma, aku pengen minta solusi sama mama. gimana caranya ngadepin ibu mertuaku yang mata duitan kaya gitu" jawabku membuat mama memicingkan mata.


"solusi yang gimana maksud kamu, emang ibu mertua kamu bikin ulah apa lagi selain yang yang dulu itu?" tanya mama yang memang sangat tau sifat mertuaku yang sangat berlebihan dalam berfoya-foya.


"ngga buat ulah sama orang lain si, cuma aku kesel aja sama dia ma. masa setiap hari udah dikasih uang buat belanja masih tetap makan dirumahku, aku yang mau hemat biar bisa bayar kontarakan setiap bulan kan jadi agak susah karna pengeluaran otomatis bertambah. sementara dia sengaja uang yang diberikan mas Rendi malah dibuat jajan-jajan, aku aja sekedar untuk beli bakso mikirnya beribu kali ma. kalo ngga pakai uangku sendiri, ngga bisa aku beli bakso untukku juga Nauval. hari ini aja, pagi-pagi aku udah dibuat emosi sama mertuaku ma" kataku terus mengeluarkan unek-unek dihatiku.


"oiyaa, memangnya kenapa sin?" tanya mama.


"awalnya sisi Ririn minta belikan motor ma, eh bukan belikan deh tapi dikreditkan. tapi aku melarang, secara kerjaan mas Rendi hanya sebagai kurir kan ma dapat uang untuk makan dan bayar kontrakan sama listrik aja sudah Alhamdulillah. belum lagi harus kasih uang belanja ibu mertua dan juga uang jajan Ririn, iyakan ma? ya bukan maksud aku menyepelekan kerjaan mas Rendi. tapi harusnya tau lah kondisi anak atau kakaknya seperti apa, ini pake maksa minta motor. mas Rendi lagi mau pinjam uang tabunganku untuk beliin motor Ririn, ya aku marah lah ma. maksudku kalo ngga mampu mbok Yo ngga usah, aku aja cuma mau makan enak harus iket pinggang. kok dia berani-beraninya mau minjam uangku untuk memenuhi kehausan adiknya hanya demi gengsi itu" lanjutku dengan nada kesal.


"terus apa yang kamu lakuin sama rendi?" tanya mama.

__ADS_1


"yaa aku marah lah ma, aku balikkin uang yang mas Rendi yang baru aja dikasih ke aku. besoknya aku cuekin deh seharian, malamnya dia bujukin aku terus bawa uang lebih banyak dari biasanya kan,,,,,,,,,"


bersambung.


__ADS_2