Hinaanmu ku jadikan cambukan kesuksesanku, mas!

Hinaanmu ku jadikan cambukan kesuksesanku, mas!
bab 23.


__ADS_3

"maksud kamu apa berkata kaya gitu? kamu mau kita pisah sin?" tanya mas Rendi membuatku memicingkan mata.


"iyaaa, bukannya itu lebih baik? dari pada terus aja ada permasalahan diantara kita. iyakan?" kataku membuat mas Rendi semakin membelalakan mata.


"tapi permasalahannya kan masih bisa dibicarakan baik-baik dek, kamu ngga bisa dong kaya gini sama mas. mas gak salah apa-apa, selama ini juga mas selalu memberikan kamu nafkah yang layak meskipun kita dalam kondisi kekurangan" jawab mas Rendi membuatku tertunduk membenarkan perkataannya.


"iyaa memang betul mas, tapi maaf mas seperti yang kita semua tau kalo ibu mas ga pernah memperlakukan aku dengan baik dan selalu memfitnahku sementara mas ga bisa bersikap tegas pada ibu. seharusnya mas sadar, suami itu pelindung bagi istrinya. bukan hanya soal ekonomi, tapi segala nya mas. kalo kamu fikir dengan uang harga diriku bisa dengan mudah diinjak-injak oleh ibumu, maaf mas aku lebih memilih mempertahankan harga diriku dengan berpisah sama kamu" jawabku membuat mas Rendi membelalakan mata.


"kemu bener-bener kamu ya dek, mas udah berusaha buat adil sama kalian tapi kenapa kamu ga bisa menghargai itu. bukan mas ga bisa tegas untuk membela kamu, tapi biar gimana pun ibu adalah orang yang udah melahirkan dan membesarkan aku dek" jawab mas Rendi membuatku memutar bola mata malas.


"CK, udah lah mas mendingan kamu pulang. percuma kamu disini, dari pada nanti kamu dikroyok sama ibu-ibu ini" kataku pada mas Rendi yang masih terlihat tidak terima dengan perkataanku.


"pikirkan lagi dek, kasihan Nauval" kata mas Rendi membuatku terkekeh kecil.


"sudah lah mas, silahkan pergi" kataku mengusir mas Rendi. ia pun pergi dengan langkah lunglai meninggalkan pekarangan rumah kontrakanku.


"aaahh akhirnya pergi juga itu orang, untung biangnya ga Dateng kesini" kata mama diangguki ibu-ibu yang lainnya.


"yaampun saya baru tau loh ada orang kaya gitu ya ibu-ibu, bener-bener sadis ya mulur Bu Asti. sampe tega-tega nya loh fitnah istri anaknya, bener-bener ih. amit-amit saya mah punya besan kaya gitu, jangan sampaaaii" kata Bu Rani menggetukkan kepalan tangan ke lantai dan kepalanya.


"iyaa ih saya juga, nanti nih kalo saya punya menantu perempuan pasti akan saya sayang-sayang. ngga akan saya perlakuan seperti itu, iyaa gak sih bu-ibu" kata Bu Ida diangguki yang lain.


"hust, sudah lah bu-ibu. mungkin nasibnya Sinta aja yang apes punya mertua sama suami seperti itu" kata mama melirikku yang justru mengerucutkan bibir.

__ADS_1


"eh tapi loh mbak Sinta, apa bener tuh yang tadi mbak Sinta bilang kalo mbak Sinta mau pisah sama mas Rendi. menurut saya bener loh apa yang dibilang sama mas Rendi, kalo selama ini dia juga sudah berusaha adil pada mbak Sinta dan juga Bu Asti. apa itu ngga bisa menjadi bahan pertimbangan mbak Sinta untuk melanjutkan rumah tangga dengan mas Rendi?" tanya Bu Salma.


"sebetulnya saya juga hanya menggeretak mas Rendi aja Bu, saya cuma ga suka sama mas Rendi yang ga bisa tegas sama ibu nya juga adiknya. selama ini saya selalu nahan apapun loh Bu, tapi mereka justru meminta diluar yang mas Rendi mampu. dan mas Rendi selalu mengupayakan meskipun harus berhutang, gimana saya gak kesal" jawabku dengan nada kesal.


"iyaa sih, apalagi kita kan tau ya kalo mas Rendi itu gaada pekerjaan tetap. yaa atuh kalo saya si ya juga ga habis pikir sama Bu Asti, udah tau anak gak kerja tapi mintanya macam-macam hanya karna gengsi mungkin ya" kata Bu Rini diangguki Bu Atun dan Bu Ida.


"iyaa betul tuh, anak laki-laki memang masih milik ibunya sampai mati. tapi kan ia juga punya tanggung jawab pada anak dan istrinya, bukan berarti meminta segalanya meskipun ga mampu ya. itu salah" kata mama langsung dibenarkan oleh Bu-ibu.


"yasudah yuk kita lanjut merujak, terhambat deh karna ada pengganggu" kata Bu Atun yang masih asik memakan buah yang sudah dikupas.


"ini sambalnya tun, jangan cuma buahnya aja yang kamu makanin" kata Bu Salma pada Bu Atun.


"atuuhh Bu, saya kan ga kuat pedes. ini loh tadi cabe nya banyak banget, bisa mules saya nanti" kata Bu Atun memegang perutnya.


baru saja beberapa cocolan sambal, terdengar lagi suara salam orang memasuki rumah. ternyata ayah yang pulang seorang diri.


"assalamualaikum"


"waalaikumsalam" jawab kami serempak, mama pun mengembalikan Nauval kepangkuan ku dan menyambut ayah dengan senyum.


"ayah kok udah pulang?" tanya mama dengan senyum yang pernah lepas dari wajahnya.


"iyaa ma, ayah kan cuma kontrol aja yang jalanin si ryan. dia masih banyak kerjaan" jawab ayah diangguki oleh mama.

__ADS_1


"waaahh Bu Laura sama suami masih lengket aja ya kaya perangko, coba kita. udah sendiri-sendiri dan masing-masing ya diusia sekarang" kata Bu Atun membuat mama tersipu.


"Alhamdulillah Bu, langgeng sampe punya cucu" jawab mama membawa masuk ayah setelah tersenyum dan menganggukan kepala pada ibu-ibu itu.


"kita jadi gak enak nih mbak Sinta, ayahnya udah pulang" kata Bu Ida.


"gapapa kok Bu, santai aja. nanti juga mama balik lagi kesini setelah ayah siap untuk istirahat dikamar" jawabku sambil kembali mencocol rujakan.


"iyaa bu-ibu, udah Ayuk lanjutkan. lagian kayanya ayahnya mbak Sinta juga baik kok, asal kita ngga neko-neko aja ya mbak Sinta kan?" kata Bu Atun yang langsung membuatku menganggukan kepala.


kami pun kembali menikmati rujakan yang masih terasa sangat banyak, tak lama mama pun kembali bergabung bersama kami. rujakan kali ini diiringi canda dan tawa dari para ibu-ibu yang begitu antusias dengan kedatangan mama.


"oiyaa Bu Laura sampai kapan disini? apa mau selamanya, sekalian nemenin mbak Sinta?" tanya Bu Rini sambil mengunyah.


"iyaaa pengennya sih begitu Bu, yaa paling tidak sampai masalah Sinta sama Rendi selesai dan sudah ketemu ujungnya mau berpisah atau gimana. jadi biar saya tenang gitu loh maksudnya" jawab mama membuat ibu-ibu menganggukan kepala.


"ooohh gituuu, bagus dong kalo begitu berarti nanti kita bisa sering-sering kaya gini. iya kan ibu-ibu" kata Bu Salma.


"yaa gak sering-sering juga lah Bu, nanti dagangan saya siapa yang jagain" kata Bu Rini disambut tawa oleh ibu-ibu yang lain.


"yaa kan ada anakmu lah Rin, siapa lagi emangnya. lagian anak sudah besar kok, biar lah sesekali bantu ibu nya berdagang. toh nanti juga dia yang akan teruskan" jawab Bu Atun yang juga disetujui oleh para ibu-ibu.


"betul itu, ajari dari sekarang Rin. biar ngga salah dan udah terbiasa nanti" kata Bu Ida membuat Bu Rini akhirnya menganggukan kepala dengan senyum mengembang.

__ADS_1


bersambung....


__ADS_2