
keesokan harinya, ayah dan juga Ryan pun sudah siap berangkat kekantor. walaupun hanya menggunakan pakaian kasual tetepi keduanya begitu tampak berwibawa, bahkan mungkin terlalu rapi jika hanya untuk keluar mencari pekerjaan.
"kami pamit dulu ya? kalian baik-baik dirumah, jangan segan-segan telpon ayah kalo ada apa-apa" kata ayah yang langsung disambut anggukan kepala oleh aku dan juga mama.
"iya ayah, tenang aja. kita pasti akan baik-baik saja, lagian siapa sih yang berani macam-macam sama mama. mau mam libas nanti kepalanya" kaya mama disambut gelak tawa ayah dan juga Ryan.
"iyaa iyaa ayah percaya mama akan baik-baik aja, tapi ingat ya ma. mama itu sudah tua, harus banyak-banyak berdiam diri dirumah bukan berantem" kata ayah membuat mama mengerucutkan bibirnya.
"tergantunglah, kalo lawannya kaya mertuanya Sinta ya ma semangat banget buat ngejahar orang kaya gitu. nanti biar mama bawa pasukan mama" jawab mama membanggakan dirinya.
"Oalah iyaa iyaa yang sudah punya pasukan, jadikan aja tentara yang siap membasmi hama pengganggu" kata Ryan diiringi kekehan.
"huuu dasar anak durhaka kamu, rasain kamu ya!!" kata mama memukul kepala Ryan menggunakan sendok ditangannya.
"sudah-sudah, ayok Ryan. hari sudah menjelang siang, ayok kita jalan sekarang" kata ayah yang langsung diangguki oleh Ryan.
mereka pun beranjak dan keluar dari rumah, aku dan mama pun mengiringi kepergian ayah dan juga Ryan hingga depan pintu.
"kami pergi dulu ya ma?" kata Ryan mencium tangan mama, kemudian bergantian mencium tanganku.
"iyaa hati-hati ya kalian, bilang supir kantor jangan ngebut-ngebut ya" kata mama diangguki keduanya. setelah itu keduanya pun berjalan kaki sampai tempat yang sudah mereka janjikan pada supir kantor ayah, sepelepas kepergian ayah dan juga Ryan aku dan juga mama pun kembali masuk kedalam rumah untuk membereskan apa yang sudah selesai kami pergunakan.
"sintaaaaa, sin" teriak suara ibu mertua memekikkan telinga.
"apa sih Bu, pagi-pagi udah teriak-teriak. berisik tau, Nauval masih tidur. kalo mau teriak-teriak dihutan sana" kataku melihat ibu mertua yang memasuki rumah tangga mengucapkan salam atau izin lebih dulu.
__ADS_1
"alaaaahh biasanya juga begitu, mana sarapan Rendi?" kata ibu mertua membuat dahiku menyerit sementara mama menatap sinis ibu mertua yang terlihat begitu angkuh dengan gayanya yang angkuh.
"ngasih duit ngga mau minta makan, dia kira ini warteg mau minta dulu bayarnya besok" gumam mama yang pasti terdengar ditelinga ibu mertua.
"eehh ngomong apa kamu tadi?" katanya dengan kepala sedikit mendongak.
"apa? aku ngga bilang apa-apa, kupingmu kali ngueng-ngueng banyak nyamuknya" kata mama membuatku menahan tawa.
"enak saja, kupingku bersih tau" kata ibu mertua sambil mengkorek kuping kanannya, aku dan juga mama sedikit bergidik melihat kelakuan ibu mertua.
"tuh lihat, bersihkan!" katanya memperlihatkan jarinya yang tadi digunakan untuk mengorek telinganya.
aku dan mama pun saling pandang lalu bergidik melihat pemandangan itu.
"cepatan mana sini sarapan buat Rendi, kamu pasti kemarin dikasih uang kan sama Rendi untuk hari ini?" katanya sambil melihat kesana-kesini.
"aaahh bodo lah mau Rendi ngasih uang atau ngga, yang jelas saya kesini mau ambil sarapan Rendi. cepat bikinkan!!" perintahnya membuat mama memelotokan mata.
"hey cengkodot, emang kamu pikir kamu siapa menyuruh anak saya seenak kamu hah!! pergi sana, dasar ngga tau malu. ngasih duit ngga pake minta-minta!!" kata mama membuat ibu mertua memutar bola mata.
"Sinta ini masih istri dari anak saya, jadi wajar dong kalo saya minta makan kesini untuk Rendi." jawabnya masih kekeh meminta makanan padaku.
"hei cengkodot, pergi tidak! atau mau ku siram pake air cucian piring ini, hah!!" teriak mama yang memegang air bekas cucian piring ditangannya.
"eh eh eh enak aja kamu, saya kesini minta sarapan bukan mau dapat guyuran" kata ibu mertua panik melihat mama semakin dekat kearahnya. hingga akhirnya ibu mertua pun sampai didepan pintu, mama pun menyiramkan air bekas cucian piring itu dan hampir mengenai seluruh baju ibu mertua.
__ADS_1
"naaahh, kan akhirnya kebuang juga itu air" kata mama membuatku menutup mulut.
"aaaahhhkkkk kurang ajar!! awas kalian ya, akan kau adukan sama Rendi biar tau rasa kalian!!" teriaknya mengibaskan bajunya yang basah.
"silahkan sana kamu bilang sama anak kamu itu, aku ngga takut sama sekali. kalo perlu biar aku siram lagi, mau kamu aku siram? mumpung air cucian piring masih banyak" kata mama membuat ibu mertua langsung pergi dengan menghentakkan kaki.
"huuhh akhirnya pergi juga kan parasit itu!!" kata mama kembali memasuki rumah dengan senyum puas.
"mama ini iseng banget, kasian tau ma sampai basah kuyup begitu. pasti bau banget itu, iuyyhhh" kataku membuat mama tertawa.
"yaaiyaalah, itu kan beneran air bekas cucian piring yang sengaja mama tampung buat membalas manusia laknat itu" kata mama dengan wajah tanpa dosa.
"apa kita ngga keterlaluan ya ma kaya gitu sama ibu nya mas Rendi?" tanyaku disambut decakan oleh mama.
"CK, kamu itu masih berbaik hati banget memikirkan mereka sementara mereka aja ngga pernah memikirkan kamu. udahlah biarin aja, mendingan sekarang cepet selesaikan kerjaan kamu itu terus kita belanja untuk makan siang nanti. jangan lupa mandikan Nauval" kata mama yang langsung aku jawab dengan anggukan kepala.
tak lama semuanya pun selesai, sepertinya ibu mertua tak akan balik lagi. atau mungkin diabaikan mas Rendi saat mengadu padanya, biarlah aku tak akan memikirkan mereka. aku dan juga mama pun berjalan menuju warung Bu Rani yang menjual berbagai macam sayuran.
"iyaa bu-ibu, Sinta itu kurang ajar sekali. masa saya disiram pakai air cucian piring, huh memang menantu durhaka Sinta itu" masih terdengar jelas seperti suara ibu mertua.
"jangan suudzon dulu ibu-ibu belum tentu apa yang dikatakan sama Bu Asti itu benar, ibu-ibu kan tau sendiri kalo Bu Asti ngga suka sama mbak Sinta. eh, bu Asti jangan suka fitnah menantunya kaya begitu. ngga baik Bu, mendingan ibu banyakin istigfar deh dari pada jelek-jelekin menantu ibu sendiri. nanti kalo dia tau dia bisa marah loh Bu, jangan sepelekan diam nya orang sabar Bu" kata Bu Rani pada ibu mertua yang terdengar ditelingaku, ku minta mama berhenti tepat disebelah warung Bu Rani yang sedikit tertutup.
"iihh Bu Rani kok ngga percaya sih sama saya, saya ini korban loh. ngapain juga saya bohong Bu" jawab ibu mertua ku.
"alaahh kemaren juga anaknya bohong kok, iyaa kan bu-ibu? pake fitnah mbak sinta segala lagi, udah gitu ibu juga flaying viktim lagi. oohh kalo saya jadi menantu Bu Asti sudah saya cocok sambel itu mulut" suara salah satu ibu-ibu yang berbelanja menjawab perkataan ibu mertua.
__ADS_1
"ooohhh jadi kamu kesini? pantesan aja ngga jadi datang kerumah, hah! masih kurang ya siraman rohani dari saya??" ........
bersambung...