
"ooohhh jadi kamu kesini? pantesan aja ngga jadi datang kerumah, hah! masih kurang ya siraman rohani dari saya??" teriak mama yang sepertinya sudah sangat geram kendengar fitnahan demi fitnahan yang dilontarkan oleh ibu mertua.
"Nash loh, kan Bu Asti apa saya bilang tadi. bener aja kan orangnya datang sama induknya, rasain kamu!" kata Bu Rani yang melihat aku dan juga mama datang dari arah belakang ibu mertua.
"ngomong apa kamu barusan, hah? coba ngomong depan saya, coba!!" bentak mama berkacak pinggang dihadapan ibu mertua.
"eh eh eh ngomong apa, saya ngga ngomong apa-apa kok. iyakan ibu-ibu" jawab ibu mertua mencoba mencari pembelaan pada ibu-ibu yang ada diwarung Bu Rani.
"alaaahh tadi Bu Asti semangat banget ngomongin mbak Sinta, iyakan bu-ibu?" kata ibu-ibu yang tadi suaranya terdengar, ternyata Bu Salma.
"iyaa betul tuh, ayo lah Bu Asti jangan Cemen. tadi aja semangat banget" kata ibu disebelah Bu Salma menahan tawa melihat ekspresi ibu mertua yang tampak panik.
"nah kan, banyak saksi loh disini. mau mengelak apa lagi kamu? adduuhh dosa apa aku sampai anakku punya mertua laknat macam kamu!!" kata mama menatap marah ke arah ibu mertua.
"jaga mulutmu ya Bu Laura, udah miskin numpang sama anak saya masih aja belagu! suka-suka saya dong mau ngomong apa, mulut-mulut saya kok. kenapa situ yang repot" jawab nya membuat mama semakin marah.
"hey, kamu sadar gak siapa yang kamu bicarakan? anak saya!! dengar, anak saya!!" teriak mama dihadapan ibu mertua membuat para ibu-ibu terlonjak kaget mendengar suara mama yang terlihat lebih meninggi.
"sabar ma, sabaarrr. ngga enak dilihat ibu-ibu ma, malu" kataku menenangkan mama.
"biarin aja, biar sekalian semua orang disini tau kelakuan manusia ga punya adab ini. biar ibu-ibu disini jadi saksi seberapa biadabnya manusia gaada akhlak ini, mulut rombeng!!" kata mama dengan memelotokan mata, membuatku sedikit takut dengan respon yang diberikan mama.
"bu-ibu tolong bantuin saya dong, kok malah pada diem aja sih. ga liat saya mau diterkam macan betina!!" teriak ibu mertua dengan wajah panik.
"Yee salah sendiri membangunkan singa tidur, kan tadi sudah saya bilang Bu. jangan fitnah yang tidak-tidak, iyaa gak ibu-ibu?" kata Bu Rani diangguki oleh ibu-ibu yang lainnya.
"iyaaa betul tuh, nah sekarang panik sendiri kan. sorry ya Bu Asti kami milih jadi penonton aja, sikaaatt Bu lauraaaaa" teriak Bu idah sebagai provokator.
__ADS_1
"sialan kamu Ida, bukannya misahin malah jadi provokator!! awas kalian ya!!" kata ibu mertua lari terbirit-birit melewati mama dan juga aku yang ada didepannya.
"woooyy jangan kabur!!! awas balik lagi kesini!!!" teriak mama ketika melihat ibu mertua yang lari terbirit menjauh dari warung Bu Rani.
"sudah-sudah ma, sabaaaarrrr" kataku menenagkan mama dengan menepuk pelan punggung badannya.
"huh bener-bener kelakuan mertua kamu itu loh sin, yaallah dosa apaaa aku yaallah" kata mama sambil duduk di bangku yang ada diwarung Bu Rani.
"memang sebetulnya kejadian sebenernya kaya gimana sih Bu? emang bener mbak Sinta nyiram Bu Asti pake air cucian piring?" tanya Bu ida mewakili ibu-ibu yang lainnya.
"bukan Sinta yang nyiram cengkodok itu itu Bu, tapi saya!" jawab mama membuat ibu-ibu itu saling pandang penuh tanya.
"yang bener Bu? bikin masalah apa lagi emangnya Bu?" tanya Bu Salma.
"masa ya Bu-ibu dia datang-datang minta sarapan, alasannya karna Rendi anaknya itu memberikan uang sama Sinta. boro-boro ngasih uang, pulang juga cuma sebentar kok kerumah terus habis itu pergi lagi. ibu-ibu tau sendiri bukan kalo Rendi sama Sinta itu pisah rumah karna Sinta sudah mengembalikan Rendi pada ibu nya beberapa hari yang lalu?" kata mama diangguki para ibu-ibu itu, sementara aku sibuk memilih sayuran apa saya yang akan aku masak sekaligus untuk stok beberapa hari kedepan.
"yaa gimana mau dikasih uang Bu, sementara uang yang seharusnya untuk Sinta sudah diberikan pada ibu mertuanya yang gila uang itu. kata Sinta sih empat ratus lima puluh ribu, bukannya uang segitu cukup untuk beberapa hari. iyakan ibu-ibu? ini masa Sinta baru menginap dua hari dirumah saya sudah habis uangnya, jelas lah Rendi ga memberikan uang lagi" jawab mama membuat mulut para ibu-ibu itu membola.
"ooohh begitu ceritanya, untung saya percaya ngga percaya sama omongan Bu Asti. bener-bener yah tu orang, kalo belum kena azab kayanya belum berenti deh fitnah orang." kata Bu Rani juga diangguki oleh ibu-ibu yang lainnya.
"Bu, ini tolong hitung belanjaan saya." kataku menyerahkan beberapa sayuran untuk hitung oleh Bu Rani.
"oohh sudah selesai mbak milih sayurannya, ini aja?" tanya nya yang langsung ku angguki.
"lauknya ngga sekalian mbak?" tanya Bu Rani.
"apa ya Bu? udah ini aja deh, nanti kalo mau lauk apa kan tinggal kesini aja" jawabku membuat Bu Rani tersenyum dan menganggukan kepala.
__ADS_1
"ini, semuanya empat puluh tujuh ribu" kata Bu Rani, aku pun menyerahkan satu lembar uang lima puluh ribu.
"kembaliannya kaldu ayam sama lada bubuk aja Bu" kataku pada Bu Rani.
"ini mbak, makasih banyak ya" katanya yang langsung aku balas dengan senyum dan anggukan kepala.
"sama-sama Bu, ayok ma" kataku pada mama yang terus asik bercerita.
"oohh udah selesai, kok cepet?" tanya mama membuatku mengerucutkan bibir.
"cepet apa nya, mama aja yang dari tadi ngerumpi terus" kataku dengan nada kesal.
"yaa namanya juga ibu-ibu, yaudah Bu-ibu nanti siang kita jadi ya rujakan. jangan lupa didepan rumah Sinta ya?" kata mama diangguki oleh pasukan ibu-ibu termasuk Bu Rani.
"kalo begitu saya pulang dulu ya Bu-ibu, assalamualaikum" kata mama berpamitan.
"waalaikumsalam" terdengar ibu-ibu itu menyahuti salam mama ketika kami sudah berjalan menjauh dari warung Bu Rani.
aku dan mama pun bergegas sampai rumah, kemudian menaruh belanjaan tadi kedalam kulkas yang sudah hampir seluruh isi nya kosong tak tersisa.
"capek juga berdebat sama nenek sihir itu!" kata mama dudukkan diri disofa ruang tv bersama Nauval.
"yaa habis mama ngeladenin aja orang kaya gitu" jawabku membuat mama berdecih.
"yaa habis kamu juga diem aja, mama tuh gemes tau gak sih sama orang kaya gitu. kalo mama jadi kamu, udah mama bejek-bejek itu mulut" jawab mama yang terlihat masih sangat emosi dengan ibu mas Rendi.
"yaa aku sih males, ngapain. buang-buang tenaga aja" jawabku dengan malas membahas ibu nya mas Rendi yang menurutku sangat tidak penting.
__ADS_1
bersambung...