Hinaanmu ku jadikan cambukan kesuksesanku, mas!

Hinaanmu ku jadikan cambukan kesuksesanku, mas!
bab 25.


__ADS_3

hari sudah semakin menjelang sore, para ibu-ibu itu pun sudah pamit untuk pulang kerumah masing-masing, saat ini waktu nya aku dan juga Nauval untuk mandi lalu melakukan sholat asar.


"sudah masuk sin, nanti biar itu mama yang membereskan. kasian Nauval pasti udah gerah pengen mandi, mending kamu siapin air hangatnya saja" kata mama melihatku membereskan barang-barang sisa rujakan bersama para ibu-ibu.


"iyaa ma, tunggu ini tanggung si. sebentar lagi juga selesai, lagian Nauval juga masih anteng aja kok. gapapa lah bentar" jawabku sambil memasukkan beberapa buah yang bebeveraj dilantai.


"yaudah kalo begitu biar Nauval mandi sama uti aja, yuk val kita mandi." kata mama menggendong Nauval yang dari tadi memang sengaja aku dudukkan sendiri dilantai.


malihat mama yang masuk kedalam rumah sambil membawa Nauval aku pun menggelengkan kepala, beruntung memiliki orang tua yang begitu menyayangi anakku meskipun Nauval tidak pernah merasa kan kasih sayang dari nenek dari ayahnya.


"sin, ayah mau bicara boleh?" tanya ayah yang keluar dari rumah dan duduk di bangku yang ada dihalaman rumah.

__ADS_1


"boleh yah, ada apa kah?" tanyaku yang masih membereskan barang yang kotor itu dengan menyeritkan kening.


"gapapa sih, betul tadi Rendi kesini sin?" tanya ayah yang langsung membuatku menganggukan kepala.


"buat masalah apa lagi?"tanyanya membuatku menghela nafas dan sejenak mengehentikan pekerjaanku.


"biasa lah yah, terpengaruh dengan perkataan ibu nya. apalagi? tapi gapapa yah, Sinta udah terbiasa kok. toh emang selalu begitu!" jawabku dengan tersenyum kecut.


"ntah lah ayah, Sinta juga tidak tau harus apa kedepannya. bagi Sinta, usia pernikahan ini masih begitu baru yah. bahkan Sinta mempunyai anak yang usianya masih sangat kecil, Sinta masih memikirkan kondisi mental anak Sinta yah" jawabku membuat ayah sedikit menganggukan kepala.


"tapi untuk apa terus mengorbankan perasaan hanya untuk rumah tangga yang gak sehat seperti ini sin, ayah ngga bisa melihat putri ayah yang ayah sayangi terus seperti ini. apa perlu kita buka jati diri kita agar mereka lebih sedikit menghargai kamu?" kata ayah dengan intonasi berat.

__ADS_1


"jangan ayah, justru mereka malah bisa saja mengambil keuntungan dari situ. Sinta gak mau ayah, sudah cukup mereka memperlakukan Sinta seperti ini. Sinta gamau mereka berbuat seenaknya pada Sinta dikemudian hari" jawabku yang kini sudah duduk didekat ayah dengan menenteng wadah buah.


"ayah tau, tapi,,,,"


"sudah lah ayah, Sinta yakin Sinta pasti bisa menghadapi mereka tanpa membuka jati diri kita. sekarang, kita fokuskan membuat mereka menyesal ayah. ayah kan janji akan membantu Sinta dalam hal itu, iyakan?" kataku yang langsung dijawab anggukan oleh ayah.


"iyaa iyaa baik lah, ayah akan lanjutkan rencana kita selanjutnya. tapi kayanya ayah butuh membuat Rendi mendapatkan shock terapi deh, ayah dengar dia sudah mencari pekerjaan tapi tidak mendapatkan. betul?" tanya ayah padaku, aku pun hanya menganggukan kepala sebagai jawaban.


"begini, ayah akan memanggil dia untuk interview kerja disalah satu cabang perusahaan kita. biarlah dia merasakan enak dulu, dan kamu harus belajar selama beberapa bulan agar bisa mengambil alih kepemimpinan perusahaan tempat Rendi bekerja. nah disana, kamu bisa membuat Rendi menyesal telah menyepelekan kamu" kata ayah membuatku menyeritkan kening tak mengerti dengan penjalasan yang ayah berikan.


"maksud ayah?"...

__ADS_1


bersambung...


__ADS_2