Hinaanmu ku jadikan cambukan kesuksesanku, mas!

Hinaanmu ku jadikan cambukan kesuksesanku, mas!
bab 6.


__ADS_3

setelah selesai makan aku pun kembali membuka pintu rumah karna tak lagi terdengar suara ibu mertua yang mengumpat, aku yakin ibu mertuaku tak akan lagi kembali kerumah ini jika tidak ada lagi kepentingan.


aku pun bermain dengan Nauval yang maulai aktif berlari kesana kemari, meskipun belum bisa berbicara namun Nauval termasuk anak yang aktif diusia satu setengah tahun.


hingga sore hari menjelang aku sengaja membersihkan segala perkakas masakku dan sengaja menghabiskan lauk diwaktu makan siang tadi, aku ingin tau bagaimana tanggapan mas Rendi ketika sampai rumah tak ada satu pun masakan yang terhidang dimeja makan.


setelah semua selesai aku pun segera memandikan Nauval dan juga membersihkan diriku sendiri, hingga tak lama mas Rendi pun pulang bersama dengan ibu mertua yang mmebonceng dibelakangnya. mas Rendi pun masuk kerumah dengan wajah kusut diikuti ibu mertua yang langsung duduk dikursi depan tv.


"dek,,, mas mau bicara sebentar" katanya menatapku dengan penuh tanda tanya, aku sudah tau apa yang akan ditanyakan oleh mas Rendi. sengaja aku diam dan duduk dihadapannya.


"ada apa?" tanyaku singkat.


"apa betul kamu bicara yang tidak-tidak dihadapan para ibu-ibu dilingkungan ini tentang ibu dan juga Ririn?" tanya mas Rendi membuatku menghela nafas.


"apa kamu yakin ngga salah bertanya kaya gitu sama aku mas?" tanyaku pada mas Rendi yang menatapku penuh tanya.


"jawab saja dek, mas pengen tau dari kamu tapi tolong jangan ada yang dilebih-lebihkan dan jawablah dengan jujur" kata kas rendi yang langsung aku angguki.


"baiklah kalo begitu aku akan jawab sejujurnya, tapi seharusnya kamu tanyakan juga pada adikmu apa yang dia katakan tentang ku pada ibu-ibu itu" jawabku membuat dahi mas Rendi menyerit heran.


"heh, apa maksud kamu? kamu menyalahkan Ririn atas perbuatan kamu, hah!!" bentak ibu mertua dengan mata melotot.


"aku ngga menyalahkan Ririn Bu, tapi kenyataannya memang awal permasalahnya dari Ririn. aku hanya menjawab apa yang ditanyakan ibu-ibu itu, dimana salahnya?" jawabku membela diri dari amukan ibu mertua ku.


"sudah cukup, tolong dek jawab pertanyaan mas sebenarnya ada apa ini dek?" tanya mas Rendi.

__ADS_1


"asal kamu tau mas, adik kamu Ririn itu menyebarkan pada ibu-ibu jika aku melarang kamu membelikan dia motor mas dan Ririn bilang pada ibu-ibu itu jika kamu mendapatkan uang lima ratus ribu sehari dan itu semua aku yang pegang. apa ngga gila dia itu!!" jawabku menatap kesal kearah ibu mertua yang menatapku dengan tajam.


"apa? tapi tadi ibu bilang jika ibu diolok-olok sama ibu-ibu diwarung karna kamu memfitnah ibu, jadi yang mana yang benar Bu?" tanya mas Rendi membuat ibu mertua salah tingkah.


"aku? fitnah ibu kamu mas, yang bener aja! yang ada adik kamu itu yang fitnah aku, atau mungkin ibu kamu dan juga adik kamu itu sekongkol mau mampermalukan aku eehh ternyata malah malu sendiri" jawabku menatap sinis ibu mertua yang melotot kearah ku.


"jangan kurang aja ya kamu Sinta, dasar mantu gatau diuntung!!" bentak ibu mertuaku mengangkat tangannya.


"ibu,,,,,,!!" mas Rendi menghalangi ibu mertua yang akan mengangkat tangannya padaku.


"apa! kamu masih mau membela istri kamu ini ren? lihat, bahkan dia berani kurang ajar pada ibu dihadapan kamu. kamu seharusnya ajari istri kamu ini untuk menghormati ibu dan menyayangi adik iparnya seperti adiknya sendiri, bukan seperti ini. tau begini, nyesel ibu kemberikan restu buat kalian berdua waktu itu" kata ibu mertua membuat mas Rendi membuka mulutnya.


"ibu, ibu itu apa-apaan sih. kenapa ibu ngomongnya kaya gitu, lagian apa yang dibilang Ririn itu kan udah jelas salah Bu. kenapa ibu malah menyalahkan Sinta" jawab mas Rendi membuat ibu mertua membelalakan mata.


"nah, nah kan kamu selalu aja bela in istri kamu ini. kamu itu bener-bener ya ren!!" kata ibu mertua membuang wajahnya.


"Haaahh sudahlah buat apa ibu ada disini, percuma aja. punya anak laki-laki satu ga bisa belain ibu nya dan malah milih belain orang lain" kata ibu mertua melirikku sinis.


"ibu jangan bicara begitulah, disini Sinta ga salah Bu" kata mas Rendi yang masih membelaku. ibu mertua pun tak menghiraukan perkataan mas Rendi, ia pun terus melenggang pergi meninggalkan rumah kontrakan kami.


"lihat kan mas? mana pernah ibumu mau anak kesayangannya disalahkan, sebenar apapun apapun tetap saja Dimata ibumu aku yang paling salah" kataku pada mas Rendi yang termenung ditempat duduknya.


aku pun melenggang pergi memasuki kamar menemani Nauval yang sudah tertidur cukup lama.


"kamu ngga masak dek?" tanya mas Rendi yang memasuki kamar.

__ADS_1


"ngga" jawabku singkat.


"mas makan apa dek kalo kamu kaya gini terus" kata mas Rendi merengek.


"udah aku bilang kan mas, berikan semua uangmu pada ibu mu itu biarlah dia kembali yang mengurus kamu dan juga perutmu. jadi kamu ngga repot harus kelaparan setelah pulang kerja" jawabku tanpa menatap mas Rendi.


"tapi dek,,, mas kan sudah minta maaf dek, jangan ngambek lagi ya dek. mas janji ngga akan meminta kamu meminjamkan mas uang untuk membelikan Ririn motor, dan ini uang kas hasil hari ini kamu simpan ya? Alhamdulillah mas dapat lumayan, ini uang kemarin dan ini uang yang sekarang" kata mas Rendi menyerahkan uang empat ratus lima puluh ribu dari kantongnya.


aku hanya melirik belum mengambil uang pemberian mas Rendi.


"dek,,,, ayo laah dek, maafin mas ya. mas ngga bisa kalo kamu diemin mas terus kaya gini" kata mas Rendi pada akhirnya membuatku menghela nafas dan mengambil uang pemberiannya.


"ibu udah mas berikan?" tanyaku pada mas Rendi.


"udah kok, mas tadi berikan sama ibu seratus ribu untuk belanja" jawab mas Rendi dengan jujur.


"yaudah kalo begitu, makasih ya mas" jawabku menyimpan uang pemberian mas Rendi kedalam laci.


"tapi dek, mas lapar dek" kata mas Rendi dengan wajah dibuat memelas.


"nanti aku buatkan telur dadar ya mas, maaf aku hari ini ngga buat makanan apapun. dan setiap hari nanti aku juga palingan cuma akan memasak sedikit mas, maaf kamu tau sendiri kalo aku masak sekaligus banyak pun ibu dan juga adikmu makan disini dan itu membuat pengeluaran kita membengkak" jawabku dengan jujur.


"iyaa gapapa dek, seenaknya kamu aja. yang penting kamu sama anak kita baik-baik dirumah, yaudah kalo gitu mas mandi dulu ya dek" kata mas Rendi yang langsung aku angguki.


beruntungnya aku bersuami kan mas Rendi yang sebenarnya sangat perhatian dan menyayangiku dan juga anakku, tapi karna hasutan ibu mertua kadang mas Rendi seolah lupa diri dan mengedepankan emosinya. untung saja tadi dia menanyakan dulu padaku dan tidak percaya begitu saja pada ibu mertua, kalo saja dia langsung percaya pada ibu mertua mungkin aku sudah meninggalkannya.

__ADS_1


bersambung.


__ADS_2