Hinaanmu ku jadikan cambukan kesuksesanku, mas!

Hinaanmu ku jadikan cambukan kesuksesanku, mas!
bab 8.


__ADS_3

perkataan ibu mertua kali ini benar-benar menyakitkan untukku, bisa-bisanya dia justru menayalahkan orangtuaku salah mendidik atas kesalahannya sendiri.


"cukup Bu!! jangan bicara yang tidak-tidak soal ibu ku! jelas ibuku jauh lebih baik dalam mendidik ku, tidak seperti ibu yabg selalu membela anaknya walaupun dia salah! kalo ibu mau uang mas Rendi, ini ambil uang tak seberapa itu! dan silahkan urus kembali kehidupan mas Rendi, tunggu disini Bu!" kataku kembali membuka kunci rumah dan masuk kedalam rumah.


aku masuk kedalam rumah dan mengemasi seluruh pakaian mas Rendi yang ada dirumah ini, kemudian kembali kedepan dengan masih menggendong nauval.


"ini silahkan bawa pulang dan ambil uang itu, urus kembali anak ibu itu. jika perlu, sekalian ibu nikahi!!" bentakku sekaligus memberikan tas yang berisi baju-baju mas Rendi yang sudah aku rapihkan.


"dasar istri durhaka! bisa-bisanya kamu mengusir suamimu sendiri, sudah bagus Rendi mau menikahi kamu sekarang pake acara sok segala mengusir Rendi. bisa apa kamu tanpa Rendi!" teriaknya membuat semua tetangga kembali berbisik.


"oh tenang aja Bu, aku akan buktikan pada ibu jika aku bisa berdiri sendiri tanpa mas Rendi. ibu tau sendiri kan jika aku mantan pegawai bank dan aku juga lulusan sarjana S1, bahkan aku berhenti dari pekerjaanku karna permintaan ibu dan juga mas Rendi. bahkan sampai sekarang bank tempatku bekerja masih sering menanyakan ku agar bisa ikut bergabung lagi dengan mereka. keren kan aku Bu" jawabku sengaja mengejek ibu mertua yang terlihat sudah kehilangan kata-kata.


"sombong, kamu belum kerja disana aja sombong. bagimana kalo sudah kembali kerja, lihat saja aku yakin kamu ngga akan bisa kembali ke bank tempat kamu kerja dulu itu." jawab ibu mertua menatap sinis kearahku.


"kita lihat saja nanti. dah, hus sana pulang. bilang sama mas Rendi untuk ngga menemui aku setelah ini, dan ingat beritahu dia jika ibu sudah mengambil semua uangnya yang ada di aku. jangan diem aja, jangan suka nilep uang orang" jawabku menatap ibu mertua yang semakin terlihat kesal, ia pun pergi dengan menghentakkan kaki.


aku pun menghela nafas setelah kepergian ibu mertuaku yang serasa membuat hati ini tercabik-cabik.


"maafkan aku mas, aku sungguh sudah lelah dengan ibu mu" gumamku sambil memasuki rumah karna tak jadi untuk berbelanja, biarlah untuk hari ini lebih baik aku memesan online saja. lumayan, memanjakan diri sendiri tak apa lah sesekali.

__ADS_1


aku pun menaruh Nauval didepan tv dan menyetelkan saluran tv yang memperlihatkan film dua anak kembar, karna Nauval sangat suka film kartun itu.


sementara aku kembali menyelesaikan novel menulisku, aku akan berusaha lebih giat lagi agar segala cita-citaku bisa ku gapai.


setalah menulis yang memerlukan waktu satu jam, aku pun mendapatkan satu bab pertama hari ini. kemudian aku pun membeli bakso pada tukang bakso yang lewat didepan rumah, disana banyak ibu-ibu yang berkumpul dan sepertinya membicarakan ku karna kejadian tadi pagi.


"eehh mbak Sinta, beli bakso juga mbak?" tanya salah satu ibu-ibu yang ada disana.


"iyaa Bu, pengen bakso. kayanya seger ya makan bakso yang pedes gitu" jawabku tersenyum kearah beberapa ibu-ibu yang berada disini.


"iyaa seger mbak, bikin ngebul kepala. iyaa ngga bu-ibu" kata Bu Ida tetangga sebelah Bu Sri si tukang sayur yang sangat hobby menyebarkan gosip.


"hehehe mbak Sinta bisa aja nimpalinnya, oiyaa mbak Sinta ngomong-ngomong tadi pagi itu kenapa sih ribut-ribut sama ibu mertuanya. dosa loh memperlakukan ibu mertua sendiri seperti itu, harusnya mbak sinta itu memperlakukan ibu mertuanya seperti ibu kandung sendiri mbak" kata Bu Ida membuatku memutar bola mata malas.


"yaa kali Bu saya memperlakukan ibu mertua saya seperti ibu kandung sendri, sementara saya aja ngga dianggap sebagai anak sendiri melainkan orang lain. Bu, kedudukan ibu kandung dan juga ibu mertua itu kan udah jelas berbeda Bu. kasih sayangnya aja beda, iyakan?" jawabku yang tak terima dengan perkataan Bu Ida.


"betul itu mbak Sinta, apalagi mertuanya kaya Bu Asti mertuanya mbak Sinta yang sudah menyebalkan itu. iihh amit-amit deh, sudah jelas loh kita semua tau kalo bu Asti itu matre. iyakan bu-ibu, bahkan dulu Bu Asti itu selalu menggembar gemborkan jika mas Rendi itu nikah sama mbak Sinta yang pegawai bank otomatis semua kebutuhannya akan terpenuhi secara mbak Sinta kan pasti uangnya banyak. eehh nyatanya malah kebalikannya" jawab Bu Ranti.


"ah masak sih Bu ibu mertua saya bicara seperti itu, padahal saya keluar dari pekerjaan saya karna keinginannya loh Bu. oohh apa karja dulu dia minta belikan saya perhiasan namun saya ngga mau kali ya" jawabku membuat ibu-ibu menganga.

__ADS_1


"eehh masa sih Bu Asti begitu, ah mbak Sinta ngada-ngada nih" jawab Bu Ida diangguki yang lainnya.


"yaa saya si ngga minta ibu-ibu buat percaya sama saya ya, tapi ya begitulah kenyataannya. selama ini saya menutupi aja karna memandang dan menghargai mereka, tapi kenyataan yang saya dapat justru malah menyakitkan seperti ini. huh" jawabku menghela nafas.


"sudah-sudah, mbak Sinta mau beli berapa nih baksonya?" tanya mamang bakso padaku.


"satu lengkap pedes ya kang, satunya lagi kosongan setengah porsi aja" jawabku yang langsung diangguki oleh mamang bakso.


"ini mbak, depalan belas ribu aja mbak" kata mamang bakso setelah selesai meracik bakso pesanku.


"saya duluan ya ibu-ibu, kasian Nauval didalam sendiri" kataku pada ibu-ibu yang masih sibuk mengobrol. tanpa mendengat jawaban dari keduanya, aku pun masuk kedalam rumah kemudian menaruh mangkok bakso dimeja yang ada didepan sofa tv.


"nak, Nauval kita makan bakso dulu yuk. taruh dulu ya mainannya" kata ku pada Nauval yang langsung menghampiriku.


aku pun memberikan bakso miliknya, setelah itu aku mengaduk bakso milikku agar semua bumbunya merata. beberapa menit kemudian bakso pun ludes, aku pun segera mengembalikan mangkok bakso pada si mamang kemudian membayar bakso milikku dan juga Nauval.


"mang ini uangnya, makasih ya mang" kataku yang langsung masuk lagi kedalam rumah. ku lihat Nauval yang sudah mulai mengantuk itu meguap, aku pun membereskan kembali mainan yang Nauval berantai. kemudian mengajaknya masuk kedalam kamar agar tertidur, mungkin karna kenyang makanya Nauval mengantuk lebih cepat.


setalah Nauval tertidur aku pun kembali keruang depan untuk menutup pintu yang lupa ku tutup, kemudian aku pun kembali berselancar menulis novel onlineku. kali ini aku kembali mendapatkan bab kedua ku selama satu jam, aku pun sempat kepikiran untuk pulang kerumah ibu ku sekedar melepas rindu. aku pun melirik Nauval, setelahnya aku merapihkan beberapa pasang baju untuk ku pakai ganti saat dirumah ibu ku.

__ADS_1


bersambung..


__ADS_2