
setelah menempuh perjalanan kurang lebih dua jam, kami pun sampai dihalaman rumah kontrakanku. terlihat ibu-ibu saling berbisik melihatku datang bersama orangtua dan juga adikku.
"eh mbak Sinta, baru pulang ya dari rumah orangtuanya?" tanya Bu Ida dengan senyum.
"iyaa Bu, mari masuk Bu" kataku menjawab pertanyaan Bu Ida.
sebelum banyaknya pertanyaan lagi yang keluar dari mulut ibu-ibu itu, aku pun masuk kedalam rumah setelah membuka kunci pintu nya.
"assalamualaikum" kataku sebelum memasuki rumah diikuti ayah dan juga yang lainnya.
ayah yang menggendong Nauval yang tertidur pun akhirnya merebahkan Nauval disofa ruang tv, kemudian mendudukan dirinya diatas sofa tersebut.
"sebentar ya ayah, ma biar aku buat mium dulu buat kita" kataku.
"ngga usah kali sin, nanti kita bisa ambil sendiri kok kalo haus" kata mama yang langsung aku jawab dengan gelengan kepala.
"udah gausah gapapa ma, biar Sinta aja sekalian Sinta juga mau buat minum buat Sinta sendiri" jawabku yang pada akhirnya gua dijawab anggukan kepala oleh mama.
akhirnya aku pun membuatkan empat gelas es sirup yang masih tersimpan didalam kulkas, masih tersisa sedikit lagi. cukuplah jika aku buat untuk kami masing-masing satu gelas.
setelah selesai, aku pun kembali keruang tv dimana semua orang berkumpul. tak lama terdengar suata ibu mertua yang sepertinya berteriak meskipun belum sampai depan rumah, dan sepertinya dia tau aku pulang tapi tak mengetahui jika aku pulang bersama keluargaku.
__ADS_1
"sintaa,,,,, sintaaaa,,, menantu kurang ajar, istri durhaka!! sini kamu!!!" teriaknya mengundang para ibu-ibu yang tadi berkumpul didepan rumah pun menegurnya.
"apaan sih Bu Asti, dateng-dateng main teriak-teriak aja. ngga bisa apa kalo kerumah orang itu jangan teriak-teriak kaya dihutan begitu!!" kata Bu Ida menegur mertuaku.
aku pun langsung saja melangkahkan kaki keluar dari rumah dan menemui orang yang membuat keributan, sementara mama yang sudah siap mengikutiku pun dicegah oleh ayah.
"biarkan disini saja dulu, kita lihat sampai dimana dia memperlakukan putri kita" kata ayah memegang lengan mama, mam pun menganggukan kepala dan duduk kembali ketempatnya semula. sementara aku melanjutkan langkah menuju pintu rumah.
"eh ida udah deh kamu ngga usah ikut campur, kalo kamu ngga suka ngga usah nongkrong disini. sana nongkrong diwarung Bu Reni saja, ngapain nongkrong disini!!" jawab ibu mertuaku yang langsung dijawab oleh Bu Ida dengan kekehan.
"eeehh Bu Asti yang cantik, yang yang apa lagi ya hehehe. Bu Asti lupa ya kalo rumah saya itu disana, terserah saya dong kalo mau nongkrong disini. toh jaraknya hanya beberapa rumah kesini, lah sementara Bu Asti jauh-jquh dari depan gang sana kesini cuma untuk marah-marah. awas loh Bu, nanti senjata makan tuan baru tau rasa" jawab Bu Ida diangguki oleh ibu-ibu yang lainnya.
"tau nih Bu Asti, nih neng Sinta nya udah keluar noh. mau diapain, heran masih aja ngusik neng Sinta padahal udah jelas anaknya aja udah dibalikin sama Bu Asti. eehh kalo saya sih malu ya masa lelaki dibalikin ke ibu nya sama istrinya, harusnya kan kebaliknya" kata Bu Salma tetangga Bu Ida yang mengundang gelak tawa ibu-ibu yang lainnya, wajah mertuaku pun terlihat memerah karna malu atas perkataan ibu-ibu yang menyindir mas Rendi.
"coba ulangi sekali lagi, wahai ibu mertua!!" kataku dengan dingin menatap matanya dengan tajam, ibu mertua pun membalas tatapan mataku dengan mata melotot.
"pengecut! kenapa? apa kurang jelas perkataan saya?!" tanyanya membuatku langsung menghela nafas.
"mau ibu apa lagi kesini? bukankah aku sudah mengembalikan mas Rendi pada ibu, apalagi yang kurang? kenapa?" tanyaku pada ibu mertua yang nada yang lebih rendah.
"kamu tau, gara-gara kamu bilang pada Rendi soal uang yang sudah kamu kasihkan pada saya Rendi jadi ngga memberikan saya uang lagi. semua gara-gara kamu!!!" bentaknya sambil menunjuk-nunjuk wajahku.
__ADS_1
"dimana salahku? ibu minta uang mas Rendi, sudah aku berikan. iyakan? kalo mas Rendi ngga memberikan uang pada ibu ya wajar dong, hak istrinya sudah ibu ambil kok. lagian, ibu kan tau saya setelah hari itu ngga dirumah bahkan saya ngga membawa uang dari mas Rendi sepeserpun. kenapa masih saya yang salah?" tanyaku menatap ibu mertua dan kumpulan ibu-ibu yang saling berbisik itu bergantian.
"tau nih Bu Asti, jangan ngadi-ngadi deh kalo bicara! makanya jangan suka makan hak orang, jadi ribet sendiri kan. udah gitu nyalahin orang lain lagi, huuuuu" kata Bu indah sebagai provokator diantara ibu-ibu itu.
"sudah mbak Sinta, suruh aja mas Rendi memilih. atau ajak sekalian mas Rendi nya pindah dari sini, pindah berjauhan dari mertua kan lebih enak mbak Sinta dari pada direcoki terus sama bu Asti sama Ririn" kata Bu Salma diangguki ibu-ibu yang lainnya.
"hei, kalian jangan ikut campur ya. kalian pikir kalian ini siapa mengatur anak saya mau tinggal dimana, bukan urusan kalian tau!!" bentak ibu mertua pada para ibu-ibu itu.
"terus maksud kedatangan ibu kesini mau ngapain? cuma mau marah-marah sama aku karja hal itu. ngga ada gunanya Bu, justru ibu mengganggu waktu ku bersama keluargaku hari ini!!" kataku membuat ibu mertua membelalakan mata.
"ke-keluarga? berarti ayah dan mama kamu ada disini, kenapa kamu ngga bilang dari tadi hah!!" bentaknya dengan volume berbisik membuatku tertawa dalam hati.
"buat apa, biar anda bisa terus berpura-pura baik pada putri kami dihadapan kami begitu? maaf ya Bu Asti, saya sudah dengar semua perkataan ibu pada putri saya jadi saya pikir mengembalikan Rendi pada ibu sudah hal yang benar yang dilakukan putri saya" kata mama yang tampak sekali kemarahan diwajahnya.
"Bu-bu Laura, emm ini hanya salah faham aja kok Bu. jangan diambil hati ya Bu, masalah rumah tangga masih bisa dibicarakan dengan kepala dingin dan secara kekeluargaan" jawab ibu mertua mama yang tampak memutar bola mata malas.
"terus apa yang tadi kamu katakan pada anakku, hah! aku dengar sendri semuanya, kamu fikir aku tuli. hah!" bentak mama sedikit agak kasar, aku pun mencoba menenangkan mama.
ibu mertua ku pun menundukkan kepala, mungkin sedikit takut melihat kemarahan mama yang memang selalu bar-bar jika menghadapi masalah. apalagi jika putri nya yang dihina dan diremehkan, maka dia yang akan maju untuk pertama kali.
"nah loh, mana tuh bu Asti taringnya. tadi aja mengaum kaya singa betina, nah sekarang hadapin tuh singa betinanya beneran" kata ibu Ida membuat gelak tawa ibu-ibu yang lain pecah.
__ADS_1
"ada apa ini" ....
bersambung..