Hinaanmu ku jadikan cambukan kesuksesanku, mas!

Hinaanmu ku jadikan cambukan kesuksesanku, mas!
bab 26.


__ADS_3

sudah lebih dari seminggu keluargaku tinggal dikontrakkan kecil milikku ini, selama seminggu itu juga mas Rendi tak pernah lagi menunjukkan batang hidungnya kehadapan ku. berbeda dengan ibu mertua yang kerap kali bertemu diwarung Bu Rani, namun beliau tak pernah menegurku ataupun bertanya kabar soal cucu kandungnya.


aku pun tak mempermasalahkan, toh memang ibu mertua ku itu tak pernah menganggap keberadaan Nauval sebagai cucu kandungnya semenjak dia lahir.


hari ini, kami sekeluarga memutuskan untuk pindah ke rumah ayah yang berada di daerah menteng. meskipun memang cukup jauh dari kantor pusat yang ayah kelola, namun ayah sama sekali tak keberatan. karna baginya, kenyamanan anak dan cucu nya adalah yang utama.


"ayooo, sudah siap semua?" tanya ayah ketika semua barang yang hendak kami bawa sudah tersusun rapi didepan halaman rumah.


"ayah, apa gak sebaiknya kita pamitan sama Bu Asti yah?" tanya mama pada ayah yang langsung menggelengkan kepala.


"tidak perlu! untuk apa? toh ada atau tidaknya menanti dan cucu nya ngga akan berpengaruh apapun pada Rendi, biarkan saja lagipula Sinta juga sudah memasukkan berkas perceraian kemarin dibantu pak Ardi. jadi tinggal tunggu panggilan sidang saja, iyakan sin?" kata ayah yang aku jawab dengan anggukan kepala.


"ayah betul ma, lagian aku sangat tau bagaimana peragai mas Rendi. ia pasti akan mengambil alih Nauval secara paksa jika tau kita akan pindah dan menjauhkan Nauval dengannya, apa mama mau Nauval berpindah tangan pada mas Rendi sementara keluarga mas Rendi sama sekali gak ada yang peduli saka Nauval?" kata ku, mama pun langsung menggelengkan kepala sebagai jawaban.


tak berapa lama, mobil yang dikendarai sopir kantor ayah pun sampai didepan halaman kontrakan. aku bisa melihat ayah yang memandu supir tersebut untuk memasukkan barang-barang kami kedalam mobil, tak semua kami bawa. aku hanya membawa beberapa barang berharga dan juga surat-surat milik Nauval yang masih tersimpan dan juga pakaian milikku.


biarlah barang-barang yang ada aku ambil suatu saat nanti jika aku perlu kan, atau bisa aku sumbangkan untuk para tetangga yang memang membutuhkan barang-barang tersebut.


"eeehh mau kemana ini, kok angkut-angkut barang?" terdengar suara ibu mertua yang sepertinya akan ke warung Bu Rani.


"ngapain situ tanya-tanya, sok peduli banget" kata mama dengan nada sinis.


"saya gak bicara sama kamu ya, sudah bangkrut masih aja sombong, huh!" jawab ibu mertua melirik mama dengan kesal, setelahnya ia pun menatap tajam ke arahku yang ada didepan pintu rumah.

__ADS_1


ibu mertua pun melangkah mendekatiku dengan tatapan yang masih tajam, setajam mulutnya. hihihi


"mau kemana kamu?" tanyanya padaku.


"pindah" jawabku singkat.


"silahkan! tapi jangan bawa Nauval, biarkan dia disini dengan saya!" katanya membuatku membulatkan mata dan mendekap tangan didada.


"apa? sejak kapan ibu mau mengurus Nauval, bahkan saat Nauval lahir aja ibu gak pernah mau menggendongnya. ah jangan kan menggendong bertanya kabarnya pun tidak" kataku berdecih sinis.


"biar bagaimana pun Nauval anak dari Rendi, kamu gak bisa memisahkan seorang anak dari ayahnya. jadi, saya meminta Nauval dan jika kamu mau pindah bersama keluarga kamu silahkan! saya ngga akan membiarkan cucu saya hidup susah menjadi gembel bersama kalian!" katanya membuatku dan juga Ryan yang ternyata sudah dibelakang ku tertawa kecil.


"apa peduli mi wahai ibu Asti yang terhormat, biarpun kami harus menjadi gembel setidaknya kami tidak menjadi beban untuk anda bukan? seharunya anda sadar diri, sudah jadi beban masih mau menambah beban. lihatlah, bahkan tanpa nafkah dari anak anda cucuku bisa makan dengan makanan layak dan juga bergizi tanpa meminta belas kasih dari anda ataupun anak anda. Anda tau kenapa? karna masih ada saya, ada saya dan juga om nya yang sangat sangat mampu memberikan semua yang terbaik untuknya!" kata ayah membuat ibu mertua terdiam tak bisa membalas perkataan ayah.


"dasar sombong! sudah jatuh bangkrut masih aja gak tau diri, kalo bukan karna Nauval anak dari anakku aku pun gaakan Sudi mengurusnya!" kata ibu mertua membuat darahku mendidih.


"jangan kurang ajar kamu Sinta, saya masih mertua kamu kalo kamu lupa!" jawabnya membuatku terkekeh kecil.


"calon mantan ibu mertua! ingat ya, CALON!!" kataku menekan kalimat akhir tepat dihadapan ibu mertua.


"betul itu, calon! C A L O N !! jangan ngerasa kehilangan ya kalo anak saya sudah gak mau punya suami dan mertua kaya kalian, dan harus kamu tau nih bu Asti kalo anak saya Sinta ini sudah menggugat Rendi kepengadilan kemarin pagi. jadi, siap-siap ya mendapat panggilan sidang. ah ya, jangan lupa pegangin rendi takut nanti dia pingsan kalo tau istrinya yang baik hati ini sudah membuat keputusan besar!" kata mama membuat Bu Asti pergi dengan langkah dihentakkan karna kesal dengan perkataan mama.


"mama itu emang deh jagonya kalo buat orang gak bisa berkutik, Ryan yakin setelah ini ada lagi drama pagi atau ntah apa lah namanya. lihat aja, sepuluh atau lima belas menit lagi pasti ada lagi drama rumah tangga macam sinetron Indosiar" kata Ryan membuat mama menggelengkan kepala.

__ADS_1


"hust, sudah lah ry. ayok cepat kita angkut barang-barang ini, biar cepat selesai. syukur-syukur ngga sampai ada kejadian kaya tadi lagi, bisa repot nanti ayah kalo kelamaan cuma buat angkut barang begini doang" kata ayah mengangkat satu buah koper berukuran besar yang berisikan baju-baju milikku.


"ini kardus isinya apa sih mbak? kok berat banget" kata Ryan membawa kardus berukuran paling besar.


"itu buku-buku novel mbak yang mbak simpan" jawabku dengan santai.


"yaampun pantesan aja berat, udah si mbak ngga usah dibawa. nanti kan bisa beli lagi, mendingan ini dibagiin aja nanti biar ngga repot" kata Ryan membuatku memutar bola mata malas.


"yaampun ry, itu tuh masih banyak yang belum mbak baca. karna mbak gak sempet, makanya mbak bawa. masa mau dikasihkan keorang, kalo beli lagi pasti udah gak ada ditoko buku. karna udah edisi lama, sementara mbak punya tapi belum dibaca malah mau dikasih orang. gimana sih kamu ini" jawabku memukul pelan bahu Ryan yang berusaha memikul kardus besar tersebut.


"CK, hilang sudah wibawa seorang general manager kalo begini ceritanya" gumamnya membuatku sedikit terkekeh.


Ryan punembawa kardus besar itu lalu memasukkan kedalam bagasi mobil yang ternyata masih muat untuk kardus tersebut karja penataannya yang sangat rapi, setelah semua selesai aku pun mengunci pintu kemudian menyusul mama yang sudah masuk kedalam mobil bersama dengan Nauval dalam gendongannya.


akhirnya kami pun bergegas pergi dengan mobil yang dikendarai oleh supir kantor dan Ryan disebelahnya, sementara ayah duduk tepat disebelah kiriku dan mama


disebelah kananku.


hal tak terduga terjadi ditengah jalan sebelum keluar dari gang rumah tempat tinggalku, disana mas Rendi berdiri tepat ketengah menghadang jalan kami.


"hei, mau mati Lo. hah!!" kata supir kator ayah meneriaki mas Rendi dengan mengeluarkan sedikit kepala nya dari jendela.


bersambung...

__ADS_1


___________________________________________


assalamualaikum, terimakasih untuk kalian semua yang sudah support novel ku😊😀 terimakasih banyak, jangan lupa like komen dan juga vote ya guys☺️ follow juga Ig @adivahasanah untuk kenal lebih dekat dengan author😊🙏


__ADS_2