
aku pun mengikuti perkataan mas Rendi yang menyuruh ku menemui didalam kamar, sesampainya disana aku melihat mas Rendi yang telah merebahkan badannya.
"ada apa mas?" tanyaku pada mas Rendi yang langsung terlonjak ketika mendengar suaraku.
"CK kamu ini ada apa-ada apa, kenapa kamu membawa keluargamu tanpa izin dariku? kamu tau sendiri kan jika keadaan keluarga kita sedang seperti ini, kenapa kamu menambah beban ku?" tanya mas Rendi panjang lebar tanpa memberikan aku sedikit celah untuk membantah ucapannya.
"beban kami bilang? hei mas, mereka itu keluargaku sudah berarti mereka juga keluargamu. lagian ayah juga mama juga ngga akan meminta apapun dari kami, cukup tempat tinggal sementara. itu aja! kenapa keluargaku yang hanya menumpang tempat tinggal kau anggap beban, sadar mas ibu dan adikmu juga beban!" kataku dengan nada ketus membuat mas Rendi menatapku dengan wajah memerah.
"ibu juga Ririn adalah tanggung jawabku Sinta, jangan kamu sama kan dengan keluargamu! lihat sekarang? kita mau makan apa kalo mereka juga ikut makan disini, uang harian ku ngga akan cukup kalo untuk makan kita semua dirumah ini. belum lagi harus kasih buat ibu dan juga Ririn!!" kata mas Rendi yg yang kini duduk diatas kasur mengusap kasar kepalanya.
"siapa yang bilang kamu akan tinggal disini? bukannya aku udah kasihkan semua barang mu pada ibumu, sebaiknya kamu pulang sekarang. anggap aja keluargaku menumpang padaku bukan padamu, toh aku juga ga meminta apapun sama kamu kan. bahkan dengan suka rela aku memberikan uang jatahku pada ibumu yang matre itu!" jawabku membuat mas Rendi menatapku dengan tajam.
"kamu mengusirku?" tanyanya dengan sinis.
"iyaa aku mengusir kamu, kenapa? bukankah jauh lebih bagus kalo kamu tinggal dirumah ibumu dan kita berpisah, kamu jadi ngga perlu menjadikan keluargaku sebagai beban. meskipun memang ngga akan menyusahkan kamu, tetap aja bagimu mereka beban. karna mereka bukan keluargamu tapi keluargaku, iyakan?" kataku menjawab perkataan mas Rendi.
"kamu ini benar-benar!! bener kata ibuku, kamu itu ngga bisa memberikan solusi dan hanya bisa menambahkan beban untukku. dasar ngga guna!!" bentaknya memukul keras kasur yang dipijak.
perkataan mas Rendi betul-betul membuat hatiku sakit, seperti itukah cara dia manilai keluargaku sebenarnya selama ini. padahal sejak awal menikah sampai saat ini kedua orangtuaku bahkan tak pernah meminta apapun, mereka justru memberikan banyak sekali oleh-oleh ketika datang kerumah ini.
__ADS_1
"aku ngga nyangka kalo kamu hanya akan menganggap keluargaku sebagai beban dalam hidupmu, padahal selama ini mereka ngga pernah meminta apapun bahkan mereka ngga pernah ikut campur dalam rumah tangga kita. seharusnya kamu sadar mas, siapa yang menjadi beban dan ngga berguna dalam kehidupan kita. lihat saja mas aku akan buktikan jika istri ngga gunamu ini, akan segera bangkit dan akan membuktikan padamu jika aku bukan beban bagimu. sekarang sebaiknya kamu pulang kerumah ibu dan jangan pernah tampakki wajahmu dirumah ini, aku putuskan untuk mengakhiri rumah tangga kita!!" teriakku diakhir kalimat membuat mas Rendi membelalakan mata.
"ma-maksud kamu apa dek" tanyanya dengan panik.
"kurang jelas apa yang aku ucapkan? silahkan, keluar dari rumah ini. karna aku ngga akan pernah mengulang perkataanku, bersiaplah menerima surat perceraian dari pengadilan mas. karna bukan hanya keluargamu yang menghinaku, bahkan kamu berani menghina keluargaku!!" teriakku lagi.
"dek, jangan begini lah dek. maafkan mas, mas bener-bener ngga serius berkata seperti itu. mas izinkan keluargamu tinggal dirumah ini, oke? tapi plis jangan meminta cerai dari mas dek" kata mas Rendi yang kini sudah berdiri di sampingku.
"tidak ada yang bisa diperbaiki mas, hatiku sudah sakit karna perlakuan ibumu dan kini kamu buat hatiku sakit lagi karna perkataanmu bahkan dengan tega kamu menyebut keluargaku sebagai beban. ingat mas, jika lelaki mengabdi pada ibunya adalah kewajiban maka perempuan mengabdi pada orangtuanya atas dasar bakti. pada dasarnya bukan hanya lelaki yang mau berbakti pada orangtuanya, tapi perempuan pun juga. nyatanya kamu egois mas, aku sudah mengerti kamu bertahun-tahun bahkan menahan hinaan dan cacian yang keluar dari mulut ibumu. tapi ini lah balasmu untukku, cih! pergilah mas, ngga ada lagi alasanku untuk mempertahankan rumah tangga kita" jawabku tanpa menatap wajah mas Rendi.
"tapi dek,,,,,,"
"dek,,,"
"keluar!!!!" bentakku, akhirnya mas Rendi keluar dari kamar kami. runtuh sudah tangisku didalam kamar, aku tak mau larut dalam perasaanku. ku putuskan menghapus air mata yang mengalir dipipiku, kemudian kembali keluar untuk menemui keluargaku diruang depan. aku yakin, mereka mendengar semua yang aku dan mas Rendi perdebatkan.
"kamu tidak apa-apa nak?" tanya ayah padaku.
"tidak apa ayah, hanya kecewa dan sedikit sakit hati. apakah mas Rendi sudah pergi dari rumah ini?" tanyaku pada ayah yang menganggukan kepala.
__ADS_1
"sudah nak, bahkan ia tak menengok sedikitpun kearah kami. maafkan ayah jika membuat rumah tanggamu dan juga Rendi berantakan, dari sini kita tau jika Rendi bukan lah lelaki baik seperti yang ia perlihatkan" kata ayah membuatku menganggukan kepala.
"iyaa nak, ayah betul. gapapa sakit hati sekarang, dari pada nanti atau selamanya. itu sangat lama sekali nak" kata mama dibenarkan oleh ayah.
"tenang aja mbak, toh semua ini cuma pura-pura. dasar lelaki ngga punya mental, baru dikasih ujian kaya gitu aja udah berbuat seenak jidat dia. beruntung ayah segera mengambil sikap, kalo ngga ntah apa yang akan terjadi nanti. atau bisa jadi mbak akan memakan hati lebih lama lagi karna sikap mereka" kata Ryan yang juga dibenarkan oleh mama.
"iyaa bener itu, sudahlah biarkan aja. toh dengan tak ada nya Rendi dirumah ini justru membuat kita bebas, bebas untuk mengerjakan apapun atau bahkan mengurus bisnis kita dari rumah ini. iyakan ayah?" kata mama pada ayah dengan mengedipkan mata.
"iyaa mama mu benar, bukannya ayah senang jika Rendi meninggalkan rumah ini. tapi ya dari pada nanti banyak perdebatan yang terjadi diantara kita, lebih baik seperti ini. atau kita kembali aja kerumah kita? tapi bukan rumah yang dikarawang, kita kerumah kita sendiri yang ada didaerah menteng sana" kata ayah membuat dahiku menyerit.
"sejak kapan ayah punya rumah didaerah menteng? kok aku ngga tau ya?" tanyaku pada ayah dan juga mama yang hanya saling senyum.
"sudah lama, sebetulnya rumah itu dulu mau kami jadikan hadiah untuk pernikahan kamu tapi kata mama nanti saja menunggu lima tahun kalian menikah sekaligus kita melihat bagaimana sikap Rendi karna kita sedari awal kan ga kenal baik dengan keluarganya bahkan kamu dan juga Rendi hanya kenal dalam waktu singkat" jawab mama yang juga diangguki oleh ayah.
"sudah kalo begitu sebaiknya kalian istirahat, besok ayah akan kekantor sama Ryan. karna ada meeting penting, tapi tenang aja. kami akan mengganti pakaian dikantor, dari rumah.kami akan memakai pakaian kasual aja seperti orang biasa pada umumnya" kata ayah membuat aku dan juga mama menganggukan kepala.
akhirnya kami kembali kedalam kamar masing-masing, karna dirumah ini hanya ada dua kamar. maka Ryan pun mengalah harus tidur disofa ruang tv dengan menggunakan bantal dan juga selimut baru yang aku miliki.
bersambung.....
__ADS_1