Hinaanmu ku jadikan cambukan kesuksesanku, mas!

Hinaanmu ku jadikan cambukan kesuksesanku, mas!
bab 14.


__ADS_3

terdengar suara salam, siapa lagi jika bukan ayah dan juga Ryan.


"waalaikumsalam, eehh ayah udah pulang" kata mama menyambut ayah dan juga Ryan, melihat kedatangan om nya Nauval pun meminta gendong dengan menjulurkan kedua tangannya.


"eehh ponakan om minta gendong ini, pinter banget sih" kata Ryan mengambil Nauval dari pangkuanku.


"ada apa nih pada kumpul disini?" tanya ayah menatap kami bergantian.


"ooohh ini loh ayah, si mbak lagi mama kasih tau kalo kita mau tinggal dirumah Sinta untuk beberapa waktu. jadi mama minta dia buat jaga rumah, yaa minimal matiin sama nyalain lampu pagi sama sore lah. iyakan yah?" kata mama yang langsung diangguki oleh ayah.


"iyaa betul itu, gimana mbak. ngga keberatan kan?" tanya ayah pada mbak yang sejak tadi masih dengan wajah tak enak hati.


"saya sih senang-senang aja loh pak, saya justru ngga enak karna seolah saya ini makan gaji buta. makanya saya tanya sama ibu, rumahnya dibersihkannya mau berapa kali salam seminggu, nanti saya bersihkan seminggu sekali loh" kata mbak, respon ayah pun sama dengan mama yang hanya terkekeh kecil.


"yaa atuh seenaknya mbak aja, lagian paling kan cuma nyapu ngepel sama elap-elap dan nyapu halaman depan itu kan mbak? jadi seminggu sekali pun ga masalah, tentang masalah gaji mbak jangan khawatir." kata ayah yang sudah duduk dimeja makan.


"iyaa tuh saya mah percaya kalo masalah gaji mah, yasudah atuh kalo begitu mah. nanti saya tiap hari pagi sama sore aja kesini buat matiin dan nyalain lampu, bebersihnya teh tiga hari sekali aja ya?" kata mbak pada akhirnya diangguki oleh mama dan juga ayah.


"iyaa atuh, tapi ingat ya. jangan pulang dulu loh, nanti kunci nya saya bawa mbak ngga bisa masuk" kaya mama diakhir membuat kami semua terkekeh.


"iyaa atuh Bu, kalo begitu saya kebelakang dulu Bu. selesaiin setrikaan yang masih dikit lagi, niatnya buat besok. tapi berhubung mau libur, mending saya selesaikan" kata mbak berpamitan.


"iyaa sok atuh mbak, nanti kalo kami sudah selesai makannya kami panggil mbak" kata mama langsung diangguki mbak, mbak pun kembali kebelakang meninggalkan kamu yang sedang memulai makan siang.


"kamu udah dikasih tau kan sama mama mu soal rencana kita sin?" tanya ayah padaku, aku pun menganggukan kepala sebagai jawaban.


"udah kok yah, apa ngga masalah kalo ayah sama Ryan ninggalin kerjaan cuma soal seperti ini? ini sepele loh yah, Sinta masih bisa mengatasinya." kataku disambut gelengan kepala oleh ayah.

__ADS_1


"ngga ada yang sepele kalo soal rumah tangga sayang, apalagi mertua dan adik ipar kamu sudah ikut campur. jadi, biarkan keluarga kamu juga melakukan tugasnya untuk berada disamping kamu membalas perlakuan mereka" kata ayah yang juga diangguki oleh Ryan.


"betul itu mbak, Ryan juga ngga rela lah mbak. lebih ke memikirkan nasip Nauval kedepannya sih kalo punya ayah kaya gitu, kalo aja bisa diganti. iyakan yah?" kata Ryan membuatku membelalakan mata.


"hust, ganti ayah berarti mbakmu ganti suami. ngaco aja kamu kalo ngomong" jawab mama mewakili ku.


"abisnya, bikin malu kaum lelaki aja. iya ngga sih yah?" kata Ryan yang juga diangguki oleh ayah.


"iyaalah kalo anak ayah kaya gitu, ayah ngga akan akui sebagi anak tau ngga sih" kata ayah membuatku dan juga mama saling pandang.


"hust kalian ini ngomongnya udah pada ngaco kemana-mana deh, ayok makan cepet biar ngga keburu siang nanti jalannya" kata mama mengalihkan pembicaraan.


setelah perkataan mama, tak ada lagi yang berani mengeluarkan suara. aku, ayah dan juga Ryan menghabiskan makanan kami sesekali saling melirik. mama yang menyadari pun mungkin sengaja tak menegur, ia pun langsung menghabiskan makanan miliknya sendiri.


"Alhamdulillah, cucu uti udahan makannya?" tanya mama pada Nauval yang masih menghabiskan bakso udang dimangkok.


"makannya sampe belepotan begini sih, sini uti suapin ya?" kata mama lagi mengambil alih garpu ditangan Nauval.


"Ryan juga kalo gitu" kata Ryan mengikuti ayahnya.


"iyaaa, nanti pakaiannya tolong langsung taruh didepan pintu kamar biar nanti kalo mbak mau nyuci bisa langsung diambil" kata mama diangguki keduanya.


"aku juga mau siap-siap ambil tas dikamar ya ma, nanti takut keburu-buru" kataku yang juga diangguki oleh mama.


"eh sin,?" panggilnya membuatku seketika terhenti.


"ada apa ma?" tanyaku dengan dahi menyerit.

__ADS_1


"kamu gamau pakai perhiasan kamu yang ada disini? kok kayanya kamu polosan kaya gitu aja, ngga enak banget dilihatnya" kata mama membuatku tersenyum.


"mama ku sayang, nanti kalo Sinta pakai yang ada dimanfaatkan sama mertua Sinta. alesan pinjam lah, ini lah itu lah. ngga deh, mending Sinta simpan aja disini" jawabku.


"iyaa juga sih, tapi kan,,,,," kata mama terhenti.


"Sina bener ma, lagian nanti kalo semua nya udah selesai juga kan Sinta bisa pakai lagi barangnya sendiri. iyakan sin?" kali ini ayah yang menjawab perkataan mama.


"iyaa bener kok ma, Sinta juga udah biasa kok kaya begini. paling nanti Sinta bawa skincare Sinta aja sih, tadi udah Sinta sortir udah Sinta buang yang kadaluarsa" jawabku yang pada akhirnya diangguki oleh mama.


"yaudahlah kalo begitu" kata mama pasrah.


"lagian mama ini aneh, kan kita mau pura-pura ngga punya apa-apa. bahkan kita akan pura-pura miskin, rumah ini juga pura-pura disita untuk menutup hutang perusahaan kita yang seolah bangkrut. kok malah nyuruh mbak Sinta pakai perhiasan dari rumah" kata Ryan yang baru aja keluar dari kamarnya.


"oiyaa ya, mama hampir aja lupa" jawab mama cengengesan.


"bukan hampir, tapi memang udah lupa" jawab ayah dan juga Ryan bersamaan, aku pun menahan tawa melihat respon mama yang seperti anak kecil.


aku pun lanjut melangkah kan kaki menuju kamar untuk mengambil barang yang sudah aku kemas, kemudian kembali kelantai bawa setelah memastikan semuanya terbawa.


"mbak, kita pergi ya? tolong jaga rumah loh mbak, ini semua pintu jangan lupa dikunci ya, jendela juga semuanya dikunciin nanti ya mbak." kata mama berpesan pada mbak yang sedang membersihkan meja makan.


"iyaa baik Bu, semua pasti beres sama saya. jangan lupa oleh-olehnya loh Bu kalo pulang dari sana" kata mbak tertawa kecil.


"iyaa tenang aja, yang penting kerjaan kamu beres. ini bawa aja nanti sisa lauknya ya mbak, sama itu yang masih ada dikulkas juga boleh kok kalo mau kamu bawa atau kalo mau kamu masak pas lagi disini. buah-buah, jajanan juga ambil aja lumayan buat anak mbak" kata mama yang langsung diangguki oleh mbak.


"iyaa siap Bu, pasti beres itu Bu" jawab si mbak mengacungkan kedua jempol nya.

__ADS_1


akhirnya kami pun pergi meninggalkan rumah mama menuju kontrakan ku, bukan menggunakan mobil ayah. tapi kami menaiki taksi online agar kepura-puraan ini menjadi terlihat lebih real.


bersambung...


__ADS_2