Hutan Angker

Hutan Angker
Episode 21


__ADS_3

“Terus jalan saja lah kita, mumpung tak ada mahluk itu lagi, kalau kepergok repot kita,“ ujar Aqi yang sudah memasuki ruang lain dari rumah besar tersebut. Barang-barangnya kumuh. Pada perabotan yang ada di kanan kiri jalan yang mereka lewati. Kali ini bentukannya semacam lorong yang sangat panjang. Entah untuk melintas saja atau ada sesuatu dalam ruangan aneh itu. Yang terang Nampak pada pandangan mereka semacam jalan panjang nan suram. Belum lagi pencahayaan yang demikian kurang. Selain redup juga kelam. Menambah sulitnya memandang dengan jelas.


“Mahluk begitu, setengah orang setengah mahluk, membuat kita tak bisa mengatakan jenis apa itu.“ Memang mencengangkan. Ada yang demikian. Sejauh ini tak pernah mereka ketahui. Bahkan walau sering lewat tempat sepi juga tak pernah melihat. Juga pada jalanan di atas sana yang juga selalu di lalui untuk tiap periodik nya, dimana barang-barang dagangan yang telah terkumpul mesti di antar, dan pada jalanan ramai itu mesti melintas. Serta sejauh ini tak pernah bertemu dengan keganjilan seperti yang kali ini di alami. Sungguh berat memang kenyataan ini. Kalau-kalau mesti berhadapan lagi. Dan kemampuan mereka benar-benar menakutkan. Itu sudah di rasakan tadi. Kalaupun belum, untuk membayangkan nya saja sudah pasti tak bakalan mengenakkan.


“Yang terang dia sangat jahat, buktinya mencakar kaki ku, lihat ini guratannya masih membekas dan rasanya perih,“ ujar Lalan seraya menunjukkan rasa sakit yang masih ada, terutama pada bagian yang kena cakar setan tadi. Ih benar-benar pedih. Lebih perih dari ditinggal kekasih, namun tak seberapa luka jika melihat ayam panggang. Dan hal tersebut yang membuat kekhawatiran keduanya, akan bahaya pada jangka panjangnya. Bisa saja itu nanti membuat luka beracun yang sulit di sembuhkan, atau bahkan berakhir dengan dia ambilnya nyawa. Semakin gawat saja tentunya. Apalagi kalau nanti roh itu terperangkap pada suatu daerah yang sulit untuk di tembus. Sehingga sulit untuk keluar dari dunia mahluk yang mengkhawatirkan ini. Yang akhirnya membuat kacau kalau-kalau para saudara mau mengirim dari luar sana.


“Wah gawat kalau beracun.“

__ADS_1


“Jangan menakut-nakuti dong!“ Lalan panik. Benar juga kalau ber bisa. Dapat mengakibatkan infeksi, serta akan membuat luka bertambah ngeri. Luka oleh cakaran kucing saja sudah bisa menjadikan bekas yang lumayan lama. Kali ini bukan binatang itu yang melakukannya. Tapi sejenis mahluk mengerikan yang keberadaannya sulit di deteksi, apakah dia mahluk astral atau mahluk biasa yang memang enggan menampakkan diri. Jika dikatakan itu umum, kebanyakan orang sudah pada melihatnya. Namun jika dikatakan sebaliknya, dia mahluk tersendiri dari golongan yang aneh, ada benarnya juga, karena tak banyak juga yang tahu, bahkan jika sengaja ingin mencarinya belum tentu menemukan, meskipun alamat dan data faktanya demikian lengkap. Tapi tak juga berhasil menemukannya.


“Seram ini.“


“Kok panjang banget sih ini, lorong-lorongnya.“ Mengeluh lagi. Lorong itu demikian pekat. Sulit untuk mengungkapkan mana ujungnya. Dan mana pula jarak yang mesti di peroleh. Jika tak bisa mengetahui sejauh mana itu bisa di lewati.


“Gimana ini?“ Terus kebingungan. Kalau berhenti, jangan-jangan di kejar mereka. Sementara lanjut tak jelas ujungnya. Bisa-bisa ada juga mereka nanti di sana. Atau tengah mengintai dari suatu tempat. Dan yang menyebalkan jika penghadangan tersebut terjadi pada ujung jalan lorong tersebut. Yang bakalan payah. Sudah capek malahan kena imbas dari rasa takut mereka sendiri. Ini semakin tak mengenakkan. Yang terang akan lebih suka jika bisa keluar dari tempat tersebut. Tapi hal ini sudah di coba semenjak awal. Dan itu tak bisa berhasil. Itu kurang mengasikkan. Dengan hasil yang tak memuaskan. Terlebih lagi bagi mereka yang kini ketakutan, serta rasa lapar yang terus muncul akibat efek dari rasa tak mengenakkan tadi. Semuanya muncul tiba-tiba. Sehingga rasanya seperti langsung lemas saja. Dan untuk memulihkannya mesti makan banyak sehingga bisa mengembalikan tenaga yang sirna. Namun itu semua terkacaukan dengan ketiadaan yang mereka butuhkan, serta kemana mesti mencarinya juga tidak tahu. Ini semacam daerah asing. Dimana sama sekali tak dipahami akan adanya warung atau tempat yang menyediakan bahan yang mereka butuhkan. Sungguh tak ada. Sangat menyebalkan. Kalau di rumah, meskipun jauh, tapi jelas yang di tuju, serta di mana tempat penyedia makanan sudah pasti. Sementara kali ini beda. Jauh dari rumah, bahkan mungkin jauh dari dunia. Yang kini ada hanyalah alam aneh penuh kabut misteri dan rasa takut diantara kegelapan yang selalu menyelimuti mereka.

__ADS_1


“Terus saja sampai ujungnya.“


Mereka terus menyusuri lorong yang panjang itu. Sesekali diperhatikan dengan seksama daerah tepiannya. Mana tahu si mahluk benar-benar muncul. Serta akan secepat kilat menghindarkan diri. Tapi mau menghindar bagaimana, orang melewati ruang itu sudah sulit. Mencari pintu yang kali ini belum menemukannya. Itu suatu perjuangan tersendiri. Yang jelas, jika mahluk tersebut muncul, lari akan mudah dilakukan, kalau kewaspadaan sudah demikian siap. Lain jika lengah, maka mereka dengan serta merta akan langsung tertangkap oleh dia. Lalu ditawan dan gawat jika langsung main gigit-gigit. Bisa berdarah-darah. Bisa langsung tertular infeksi vampirnya. Atau akan cedera parah. Yang gawat jika ikutan menjadi mahluk demikian. Mereka akan hidup terkucil. Hingga dari pintu ke pintu sulit dibukakan orang. Dan mesti mengasingkan diri pada daerah terpencil. Atau mesti selamanya berada pada rumah tersebut untuk berteman dengan hantu dan mahluk hutan yang serba seram. Makanya lebih baik secepatnya meninggalkan daerah tersebut untuk kembali bersosial dengan sejenisnya. Itu sudah menjadi harapannya kini.


“Nah itu….“ Nampak ada kebuntuan di depan sana. Yang jelas sudah tak ada jalan lurus lagi. Namun belum jelas benar. Bisa itu suatu tikungan. Atau memang ujung tembok yang memaksa mereka untuk balik dan mencari jalan lain. “Itu ujung dari lorong ini.“


“Bukan kayaknya.“ Nampak ragu. Mesti diteliti dengan seksama. Dan diamati apa yang terlihat itu. Samar. Dan sangat tak jelas. Remang-remang juga buram dalam pandangan mereka yang sudah terbiasa dengan sinar terang. Tapi mesti di teliti terus, agar langkah keras mereka benar-benar pasti untuk bisa ke tujuan berikutnya dengan lebih aman tanpa terhalang mahluk payah yang mengintai mereka tadi.

__ADS_1


“Kalau bukan apa namanya dan kapan kita bisa meninggalkan daerah ini,“ mereka semaki bingung kini. Yang bisa dilakukan hanya terus saja mencari dan mencari. Siapa tahu nanti ada suatu titik cerah yang sudah didamba semenjak lama. Tak jua didapatkan. Sehingga untuk bisa sampai di rumah semakin pasti. Lah kalau ini, masih penuh dengan rabaan, yang hasil akhirnya tentu saja tak jelas.


__ADS_2