
“Eh jangan-jangan Itu si Dewa Mesir itu yah?”
“Ya bukan lah. Orang beda tempat. Anubis ada di sana sementara mahluk ini ada di sini.“
“Siapa tahu. Kan bentuknya saja mirip. Orang dengan kepala mahluk, kan sama.“
__ADS_1
“Tapi beda. Ini di rumah loji kalau itu di dalam puramida atau di lembah berbatu.“
“Kan sama?“
“Membuatnya di bor kali ya?“
__ADS_1
“Ya enggak. Bor batu belum ada bor kayu mana kuat apalagi cuma goyang ngebor. Jelas tak sanggup.“
“Kok bisa bolong?“
“Mereka ini kan menimbun batu dahulu, supaya membentuk semacam gunung. Sebab orang akan merasa lebih terhormat jika di tahta kan pada daerah yang tinggi. Tak ada tempat lain selain gunung, untuk daerah yang tinggi itu. Dan daerah kematian itu ada di sebelah barat. Seirama dengan tenggelamnya matahari ada di arah itu. Sebab segala aktifitas di waktu itu akan mati kala matahari telah tenggelam. Sebab kegelapan yang diibaratkan kematian mulai menyelimutinya. Serta di bagian barat sungai besar tersebut adalah padang pasir sahara yang sangat luas. Sebagian besar orang tak akan sanggup jika melintasinya. Makanya daerah kematian ada di sebelah barat sungai. Dan istana serta pemukiman di bagian timurnya. Ini terlihat daeri banyaknya istana yang kesemuanya ada di timur sungai, sementara pemakaman di sebelah baratnya. Karena pada daerah hilir hamper taka da gunug berbatu yang pantas sebagai rumah istirahat terakhir sang raja yang begitu diagungkan, maka mereka membuat gunung buatan yang dibuat dari batu. Kalau gunung dipindah langsung jelas tak akan kuat, meskipun oleh ahli sihir maupun pawing hujan sekalipun tak akan mampu memindahkan gunung, maka dibawalah batu yang dipotong-potong sedemikian rupa, sehingga bisa dipindahkan. Karena membawanya juga berat maka dibawa dengan jalan membawanya dari daerah berbatu di bagian hulu sungai ke tempat yang sudah disepakati. Batu-batu itu dibelah dengan menatahnya pakai alat sederhana misalkan palu dan pahat. Lalu kotak yang beratnya ber ton-ton itu mereka angkut pakai perahu. Lewat sungai Nile. Lalu ditumpuk secara sembarangan dahulu lampai membentuk gunung, meskipun sudah diukur batasan luarnya. Hal ini semakin jelas setelah melihat kenyataan bahwa keadaan piramida itu tak selamanya sama. Meskipun kebanyakan bentuknya limas segitiga, nyatanya ada yang berbentuk punden, atau trapezium yang tidak kotak-kotak kali. Ini berarti taka da kesepakatan bentuk untuk sebuah pemakaman kuno. Hanya intinya mesti berada dalam suatu bentuk yang menyerupai gunung. Dan setelah batu-batu tersebut ditumpuk sampai di kemuncaknya, maka bagian dalam bangunan itu akan di lubangi bagian dalamnya membentuk semacam ruangan untuk menempatkan sang raja. Hal ini nyata terlihat pada raja-raja berikutnya yang setelah mendapatkan suatu tempat yang nyaman karea telah menguasai utara hingga selatan dimana banyak ditemukan banyak gunung batu, maka mereka akan langsung membuat lubang pada gunung tersebut, sehingga sudah tak perlu lagi membawa ribuan ton batu yang banyak menyita banyak tenaga juga pengorbanan dan biaya besar tentunya. Dengan ditemukannya lokasi yang dianggap kuat namun biaya tak besar, maka bukit asli itu yang kemudian di buat ruang-ruang dengan hiasan indah di dalamnya. Dan itu lebih banyak menghemat waktu demi hasil yang nyaris sama. Meskipun pada akhirnya akan terlihat bentuk megah dari bangunan awal dirasa lebih ajaib dibandingkan dengan yang alami bukan buatan tangan manusia. Begitu.“
__ADS_1