Hutan Angker

Hutan Angker
Episode 42


__ADS_3

“Aqi … Aqi … mereka melihat!“ Lalan panik. Mahluk itu terlihat tatapannya demikian menyeramkan. Warna liar demikian ditampakkan oleh pancaran mata itu. Selain itu mulut yang menganga, menampilkan gigi-gigi ganasnya, semakin menambah seram suasana kala menatap mahluk serigala liar itu. Mungkin jika ada pilihan, maka akan lebih suka tak pernah mengenal mahluk tersebut daripada selalu berada dalam pengaruh kengerian dari nya.


“Gawat!“


Semakin ketakutan mereka. Apa daya. Musuh semakin dekat. Dan nafas sudah sangat memburu. Karena dari awal sudah mesti berhadapan melawan kengerian. Dari berbagai jenis penampakan misterius, hingga berujung pada sebuah thriller menyeramkan yang dilakukan oleh para mahluk yang demikian ganas. Ini benar-benar merupakan extended dari sebuah rasa yang tercipta semenjak awal. Dari mereka membentur di suatu jurang. Pada perbatasan yang tak Nampak. Sampai sekarang juga belum terang akan keinginan mereka mengincar siapa.


“Aqi….. Sekarang malahan mereka mengejar.“

__ADS_1


“Waduh. Ayo!“


Mereka terus bergerak dan berusaha menghindari hadangan lawan. Kali ini mesti berhasil. Sudah terlalu lama mereka berkutat pada daerah yang tak sepantasnya. Dimana mereka tak bisa dilihat oleh siapa-siapa. Dan hanya mereka-mereka ini saja yang terus berkecimpung di dunia nya yang misterius tersebut. Dimana kabut tak hilang-hilang. Mungkin kalau kabut tersingkap, maka segala misteri ikut pudar. Dan mereka akan melanjutkan kembali kehidupannya di dunia yang lebih terang. Serta kembali bersatu dengan keluarga sejalan dengan awal mereka masuk pada dunia misteri ini.


“Ah, gawat….“


“Itu… Pintunya sudah dekat.“

__ADS_1


“Cepat. Sedikit lagi,“ ujar Aqi yang sudah berhasil menjangkau pintu tersebut. Dengan harapan kalau telah berhasil menjangkaunya akan bisa terbebas dari segala. Baik itu cengkeraman si mahluk, terbebas dari kegelapan ruangan, serta hutang piutang, kali. Sebab bisa dibayangkan, pintu adalah tempat masuk ke rumah tersebut. Maka pintu juga yang semestinya akan membawa mereka keluar. Sebab tak ada tempat lain yang bisa dipakai untuk demikian. Walau terkadang suatu rumah hanya memiliki satu pintu, seperti di dunia misteri ini. Terkadang pintunya hanya satu, dan dianggap bagai sebuah perangkap ikan atau bubu. Ada pintu masuknya, tetapi tak ada pintu keluar. Sehingga hanya akan menunggu sang pemilik perangkap untuk mendapatkannya. Juga layaknya pusaran waktu dalam lubang hitam. Dimana segalanya akan terhisap masuk. Serta tak bisa keluar lagi. Walau waktu menuntutnya. Tapi begitu pekatnya berada dalam ruang itu, sehingga taka da waktu yang berhasil di hitung. Untuk itu hanya berharap pada sebuah lubang putih. Dimana itu tempat keluarnya. Dan harapan pada perangkap ikan, maka pemilik bubu itu yang membuka pintu perangkap demi terkuaknya sang perangkap. Tapi disini ada pintu. Pintu yang sama. Pintu yang masih misteri juga. Sejauh belum ada jawaban tentang melewatinya. Dan jawaban itu, setelah berhasil melampauinya. Kalau benar keluar. Tetap kalau beralih pada suatu ruang dimensi yang lain, maka hanya akan mengalihkan suatu penderitaan pada derita lain yang lebih menggoyang. Dan itu tak baik demi akhirnya. Akan semakin lama mereka disini, semakin panjang keinginan, serta harapan seakan semakin pupus. Maka dari itu harapan nyatanya, adalah kalau benar telah di luar ruangan. Itupun masih membutuhkan satu gerakan lagi menjangkau rumah.


“Wah, Aqi!“ Teriak Lalan semakin menyayat hati saja kedengarannya. Demikian kuat, nyaring, namun di dunia sana tak ada yang mendengar. Suara yang tak di dengar. Sungguh sebuah kengerian lain. Dari sebuah rasa yang tercipta. Yang tentu saja menggumpal dalam benak. Ingin teriak, tapi tak kuasa. Ingin menjerit, namun jeritan terus tertahan. Inilah misterinya sebuah misteri. Yang tak mudah untuk dipecahkan, namun berusaha untuk di kuak. Bahkan tak sedikit para pemberani itu yang berusaha mengetahui keberadaannya. Mereka seakan tak ada takut-takutnya kalau di seret ke dalam kabut pekat itu.


Nampak Lalan berhasil di pegang oleh mahluk tersebut. Tangannya kuat. Semakin kuat. Cengkeraman itu dengan kuku panjang seakan menjepit nya agar tak bebas lagi. Kuku-kuku yang demikian kuat. Seakan mudah saja merobek benda yang berhasil dia kenai. Tak terkecuali dengan hanya kulit lunak manusia. Maka tak akan lama bakalan langsung tercabik-cabik. Ini yang sangat di khawatirkan. Terpegang, luka, dan di bawa. Walau kalau si mahluk tentu dengan jilatan dan air liur penyembuh sudah bisa menutup kembali luka yang menganga.


Lalan berusaha meronta dan berteriak-teriak. Dia sangat ketakutan. Untuk kesekian kalinya hal serupa terulang. Dan kesekian kali pula dia berusaha membebaskan diri. Sungguh perjuangan yang berat. Diantara rasa takut yang terus menerus dating, serta perburuan para mahluk yang merupakan kebalikan. Kalau orang-orang biasa berburu, kali ini mereka yang di buru.

__ADS_1


Mahluk lain segera datang dan berusaha membantu rekannya memegang tangan Lalan agar tak berhasil keluar. Mereka seakan kompak. Dalam posisi yang sama, bentukan yang sama pula, serta menyeret orang-orang untuk di bawa ke dunianya yang pekat. Dunia aneh yang sulit di telusur. Kalau kondisi biasa seakan tak ada apa-apa, namun jika tengah menjangkau ke alam itu, seketika suasana berubah. Pekat, gelap, dan penuh ketidak tahuan. Yang rasanya sama sekali berbeda jika tengah berada di dunia nyata. Walau pada posisi yang sama. Namun lain di rasa nya. Serta bertambah membingungkan jika sudah terseret pada ruang yang berbeda dimensi tersebut. Dimensi gaib. Yang sulit di tembus kalau merencanakan. Namun akan sangat mudah masuk, jika tanpa sengaja berada di mulut nya. Yang kemudian membuat orang lupa akan segalanya. Termasuk waktu. Sehingga akan merasa singkat berada di tempat tersebut.


Aqi segera menarik Lalan dengan sekuat tenaga, supaya pegangan mahluk terlepas, dan tak membawa adik bengal nya itu ke dunia asing yang sulit di cari keberadaannya itu. Sebab kalau terlanjur di bawa, maka nasibnya tak akan ketahuan. Apakah dia masih menjadi manusia, atau justru menjadi mahluk yang lebih menyeramkan dari apa yang kini ada di hadapan itu. Sungguh sebuah kata-kata yang berat. Makanya dia berusaha mempertahankan nya dan dibawa keluar dari tempat tersebut, untuk kemudian tak mengulangi lagi datang ke daerah menyeramkan itu. Akan lebih baik tinggal di rumah, untuk bermain game HP atau ding dong, dari pada berkeliaran di tempat yang tak semestinya ini.


__ADS_2