
“Nah sekarang buka pintu nya,“ ujar Aqi. Yang merasa sudah kuat. Dan kali ini siap menghadapi kenyataan, untuk kembali melangkah dan akan dia hadapi segala sesuatu yang ada di pintu tertutup itu. Sebab kalau tidak, seberapa lamapun di tunggu, maka tak akan menyelesaikan masalah. Lain kalau berani bergerak. Sedikit banyaknya masih ada kemungkinan yang teraih. Baik itu gagal atau berhasil. Sebab kalau tak bertindah, maka kemungkinannya nol. Dan jika berusaha maka masih ada harapan. Dan jika berhasil, jadi serratus persen yang kena. Itulah satu kemungkinan dimana ada usaha maka aka nada hasil. Jika kemungkinan buruk yang teraih, maka ketakutan itu yang akhirnya mempercepat kekalahan. Dan kali inilah saatnya. Untuk mencoba peruntungan. Untung kalau berhasil. Dan kalau gagal, untung masih selamat. Dan kalau tak selamat, untung berusaha.
“Us, hati-hati dong. Takut nya mahluk itu tengah menghadang kita,“ kata Lalan panik. Benar-benar merasa kalau sosok mengerikan yang suka mencakar paha tersebut ada di balik layar pintu tersebut. Kalau benar ada kan berbahaya. Selain bisa membuat jantungan, juga akan menimbulkan luka cakar yang lain yang lebih mengerikan di banding luka yang pertama tadi. Dan membuat luka di atas luka.
“Ya pelan-pelan,“ ujar Aqi.
__ADS_1
Lalan menguak pintu itu pelan sekali. Dengan hati-hati dan penuh perasaan. Jangan sampai dikejutkan oleh tindakannya.
“Bagaimana ada?“ tanya Aqi yang ikut penasaran. Antara ada dan tiada, apa yang dirasakan, sampai kepalanya dia julurkan guna segera mungkin bisa mengetahui ada apa dengan sesuatu di dalam itu.
“Sebentar belum terasa,“ kata Lalan. Dia juga demikian. Semakin pelan dia bergerak. Takut-takut dan amat takut. Berbagai pemikiran berkecamuk. Jangan-jangan… jangan-jangan, begitu. Kalau ada, kalau tidak. Yang semua terus saja membayang. Dan baru merasa lega tatkala sudah berhasil melihat isi dibalik pintu itu. “Nggak ada kayaknya.“
__ADS_1
“Wah sepi.“ Ruang itu sangat sepi. Pada sisi-sisinya Nampak kusam. Di tengahnya hamper taka da apa-apa. Baik perabot maupun buku komik. Tak ada yang menghiasinya. Yang berarti mahluk itu juga tak ada. Karena tak ada siapa-siapa. Nafasnya pun tak ada.
“Benar berarti dia belum kemari kalau kemari takut dong kita.“
“Ayo terus melangkah.“
__ADS_1
“Ruang ini sempit.“
“Itu ada pintu lagi,“ tunjuk Aqi. Di seberang lain dari arah mereka masuk ada pintu menuju ke ruangan berbeda. Entah arahnya bagaimana. Yang jelas mereka merasa terus masuk ke dalam rumah yang seakan tak bertepi itu. Saking luasnya. Selain itu rasa gundah gulana yang tengah di tanggung menjadikan ruangan dalam rumah tersebut seakan demikian banyak nya.