Hutan Angker

Hutan Angker
Episode 37


__ADS_3

“Akhirnya kita berhasil keluar dari ruang lebar itu,“ ujar mereka dengan senang nya. Daerah yang demikian menyeramkan tadi sudah dapat di lalui dengan demikian menyenangkan dan bisa lalu sambil gembira. Tanpa ada yang mengejar, menyerang bahkan menangkap nya. Hal demikian saja sudah sangat menyenangkan hati. Apalagi jika nanti sudah sampai rumah, atau cukup keluar saja dari hutan misterius ini sudah demikian menyenangkan yang bisa jadi akan membuat selamatan tujuh hari tujuh malam oleh keluarga rumah, karena kesuksesannya mengatasi rintangan yang begitu menakutkan.


“Iya tapi lihat ruang disini justru menyeramkan. Jangan-jangan mereka menunggu di mari,“ perkiraan mereka. Sudah berulang kali terjadi. Dimana untuk kesekian kalinya para monster itu dengan tiba-tiba berada di hadapan mereka pada suatu tempat yang tak terduga. Ternyata bukan hanya satu, melainkan lebih. Itu yang mengharuskan mereka lebih waspada akan segala sesuatunya.


“Bisa jadi, hati-hati makanya.“


“Mau hati-hati gimana kalau tak ada apapun yang buat pertahanan diri.“


Mereka terus berjalan menyusuri ruang sempit itu untuk menuju ke pintu di seberang jalur masuk tadi. Jaraknya lumayan jauh. Ruang tersebut memang tak sebesar aula tadi. Tapi juga tak sempit-sempit amat. Butuh energi yang lumayan guna menyeberanginya, alias menjangkau pintu yang satunya. Dan dalam kondisi demikian, mereka mesti waspada kalau-kalau musuh masih saja mengintai.

__ADS_1


“Qi, punya makanan enggak?“ tanya Lalan.


“Mana ada, kita kan selalu bersama,“ jawab Aqi yakin. Dia juga ingin kan hal itu. Sudah lama tak terisi. Yang ada Cuma ketakutan yang selalu menghantui bersama para hantu itu. Jika ada sedikit pengganjal, maka perut akan lebih nyaman, serta energi yang dihasilkan pastinya bakalan lebih kuat. Selain kuat melakukan kinerja, juga akan lari yang lebih cepat guna terlepas dari bahaya. Namun harapan seakan pupus. Menghadapi kenyataan bahwa hanya mereka berdua yang kini ada disitu, tanpa ada pengganjal yang siap menemani perut mereka.


“Kali aja masih punya molen atau cempet. Jadi kita bisa mengisi perut ini.“


“Molen semen? “


“Tak ada lah...“ kata Aqi kembali meyakinkan diri. Semua harapan itu jelas mustahil. Dimana taka da persediaan, kebun, bahkan warung atau restoran. Jelas merupakan suatu hal yang sulit.

__ADS_1


“Tuh kan lihat dia sudah ada di sana dengan santainya,“ ujar Lalan menghadapi kenyataan kalau ketakutannya bakalan kembali muncul setelah menyaksikan dengan mata kepala sendiri kalau mahluk tersebut benar-benar di tempat yang tak mengenakkan ini.


“Stt… cuma satu. Tak ada yang lain, kita bisa menghindarinya,“ kata Aqi yang tak melihat bentukan lain yang sebelumnya banyak sekali yang mengejar mereka.


“Atau balik lagi ke aula luas tadi,“ bisik Lalan yang menganggap kalau berada di ruangan luas sebelumnya, maka akan lebih merasa tentram, tenang, penuh kedamaian, dimana tak melihat satu batang hidung pun dari para mahluk tersebut.


“Jangan. Bisa gawat kalau orang-orang yang tengah menghadap raja itu bangkit untuk menangkap kita.“


“Kenapa? “

__ADS_1


“Kali pisowanan mereka telah usai.“


“Orang tak ada siapapun tadi kan?“ ujar Lalan yang masih merasa yakin, kalau disana bakalan lebih merasa tentram daripada mesti menghadapi mahluk di ruang ini, yang jelas-jelas kali ini terlihat, dan siap mencengkeram dengan segala kekuatannya andai berhasil menangkap mereka yang kini terus melemah, akibat rasa lapar yang tak terobati.


__ADS_2