Hutan Angker

Hutan Angker
Episode 22


__ADS_3

“Wah seramnya.“ Mereka bergidig. Sembari terus saja memandangi interior rumah yang anggun namun seram itu. Nampak lama tak dirawat. Sehingga bentukan kunonya semakin terasa. Dan tampak lusuh jika diperhatikan dengan seksama. Ruangan pertama ini hampir tak ada apa-apanya. Gambar-gambar juga tak ada. Lukisan atau patung-patung seperti yang Nampak di depan rumah tadi, kini kosong. Entah mengapa ruangan yang demikian besar dibiarkan demikian. Biasanya paling tidak ada kepala rusa atau harimau sebagai hiasan mengisinya. Tapi bagi pemilik rumah ini sengaja tak diisi apapun. Meskipun daerah tersebut hutan dimana binatang buas demikian mudah dicari untuk diawetkan dan dijadikan hiasan mengerikan.


“Terus masuk saja,“ ujar Aqi. Kalau lama-lama disitu juga mau apa. Hanya bengong saja dan menghabiskan waktu tanpa berbuat hal yang mungkin bisa membantu mereka keluar dari daerah itu.


“Kemana kita?“ tanya Lalan.


“Asal pintu lewati saja,“ ujar Aqi. Dimana pintu itu ada di seberang pintu masuk tadi. Hanya posisinya tidak lurus. Sedikit menyimpang. Itu sudah membuat pemikiran orang bahwa akan menuju ke suatu ruangan dimana masuk pada inti rumah yang sampai kini belum dipahami fungsinya.

__ADS_1


“Wah lengkungnya keren,“ ujar Lalan sembari mengamati ruang tersebut dibuat lengkung-lengkung pada bagian atasnya yang membentuk seakan gaya kuno dari sebuah gaya rumah. Gaya-gaya demikian demikian mudah mengintimidasi pikiran mereka untuk melayang pada suatu masa dimana sering diperlihatkan, baik dari buku-buku atau audio visual lain yang menggambarkan demikian. Tentang kenangan masa lalu yang mengarah pada orang tua yang sudah mendahului mereka untuk terangkat kembali kenangannya. Dan berikutnya menjelma menjadi genangan-genangan ketakutan yang mengisi relung otak mereka. Disitulah kengerian kembali mengisinya untuk tak bisa demikian saja melupakan yang mesti terjadi. Lewat gambaran demikian itu terkadang mudah menyeret pemikiran seseorang akan ingatan masa lalunya tentang satu sosok yang sudah tiada karena membayangkan bahwa sosok misterius tersebut dahulu sering ada di antara ruang-ruang yang sudah ada pada masanya tersebut. Sehingga tampak bayangan yang seolah-olah keluar dengan sendirinya dari balik dinding, atau pilar-pilar kuatnya, atau dari satu sisi lain yang amat sulit dijelaskan secara nalar juga akal sehat nya.


“Tapi serem ini,“ ujar Aqi.


“Iyalah rumah dalam hutan,“ ujar Lalan.


“Kenapa rupanya?“

__ADS_1


“Kita kan nggak bisa keluar,“ ucap Aqi.


“Ya kali Lewat pintu belakang.“


“Pintu belakangnya mana kita juga tak tahu. Kalau kita masuk ke pintu itu, ya kalau langsung belakang, kalau kita menuju ke ruang lain yang masih misterius atau lebih seram, mau apa kita?”


Mencoba saja mereka masuk ke pintu-pintu yang nampak. Memang hanya satu itu dan biasanya mengarah pada ruang tengah kalau pada rumah lain pada umumnya. Hanya kali ini tak tahu. Bisa jadi pintu tersebut langsung ke belakang rumah sehingga bisa tembus menjangkau seberang dari rumah kuno itu.

__ADS_1


__ADS_2