Hutan Angker

Hutan Angker
Episode 34


__ADS_3

“Kemana Qi?“ tanya Lalan sembari sempoyongan akibat terus ditarik sama Aqi.


“Ayo terus lari saja,“ ujar Aqi.


“Tunggu Aqi!“


“Cepat! Entar kita kesusul.“


“Jangan-jangan mereka di depan.“

__ADS_1


“Ya sudah kita tabrak saja,“ kata Aqi yang semakin nekat saja. “Di belakang kita juga banyak.“ itulah yang membuat mereka demikian yakin. Karena sudah merasa taka da jalan keluar. Satu-satunya jalan ialah di depan mereka. Maka kekuatan dorongpun lumayan besar. Dibandingkan arah lain. Sebab sudah ada awalan juga dalam bertindak. Langkah demikian sudah menjadi satu hal yang paling mungkin untuk bisa lepas. Disbanding kalau mesti membalik, maka akan perlu waktu, juga mesti ada kekurangan tenaga, juga kekuatan yang dihasilkan demikian lemah. Dan untuk satu rasa nekat inilah mereka mesti terpuaskan dengan satu kenekatan pula. Dimana kesempatan yang memang hanya satu tersebut dilakukan sampai bisa lepas dari pengejaran musuh. Dan kalau mereka tertabrak, maka aka nada satu kemungkinan, lepas, atau justru terkapar. Kalau mereka siap, tentu akan kuat tenaganya. Tapi kalau sama-sama dalam kondisi tak terduga, ada kalanya yang mempunyai langkah panjang akan mampu menghasilkan tenaga yang lumayan besar juga sampai bisa membuat mereka yang menghalangi itu sampai terkapar nantinya.


“Wah semakin tak tahu arah kita,“ ujar mereka dalam usaha mencari tempat melepaskan diri. Sehingga kemana-mana dipandangi beberapa posisi yang sekiranya paling aman. Namun tak sempat melihat ke belakang, akibat vokus pada arah pandang mereka yang sembari melintas. Kira-kira dimaa mereka pantas untuk berhenti namun pada kondisi yang tak Nampak oleh para pengejarnya.


“Nah sini lumayan buat ngumpet,“ kata Aqi merasa mendapat tempat yang lumayan terlindung. Berada diantara sela-sela tumpukan barang bekas dan pada sebuah ruangan yang demikian pengap. Disitu bisa memandang segala arah dengan leluasa. Dan tak akan segera diketahui oleh para pemburunya kalau hanya sepintas saja mereka sambal lalu.


“Kira-kira demikian,“ jelas Aqi. Kalaupun taka man mau bagaimana lagi. Sudah lelah rasanya terus menerus menghindar diri dari kejaran musuh tak burjud itu. Atau berujud tapi tanpa bentuk. Atau berbentuk namun tak dapat di sentuh. Alias halus. “Kita sembari memandag ke arah kedatangan tadi.“


Mereka terus menatap pada satu titik itu tanpa berkedip. Demikian waspadanya. Sehingga tak melewatkan barang satu kedip pun tatapan mereka. Sehingga andai ada lalat yang lewat, mereka jelas tahu. Apalagi benda sebesar musuh mereka. Pasti tak terlewatkan.

__ADS_1


“Uh… untung tidak mengejar mereka,“ ujar Aqi lega setelah yang ditunggu berlama-lama tak kunjung terlihat. Hal ini tambah meyakinkan diri bahwa mereka tak mengejar.


“Jangan senang dulu Qi. Bisa jadi dia di belakang kita,“ ujar Lalan memperingatkan. Hal itu telah terjadi berulang kali dan terus terulang. Tiba-tiba mereka secara tak terduga berada pada satu posisi yang membuat mereka ngeri.


“Mesti waspada ini.“


Memang hanya itu yang bisa mereka lakukan. Tak ada kata lain. Ingin makan juga tak bisa. Walau perut mereka demikian lapar, namun taka da yang bisa di embat. Jadi hanya bisa menahan diri. Kalaupun mencari, takut menemukan yang mencari mereka tadi. Makanya hanya bisa diam dan menahan diri. Sampai satu waktu bisa menemukan jalan keluar, juga pada masalah perut mereka itu.


“Istirahat sebentar ah, sembari menata nafas sekaligus memperhatikan kalau-kalau mereka datang.“

__ADS_1


__ADS_2