Hutan Angker

Hutan Angker
Episode 43


__ADS_3

“Eh… kita di luar sudah,“ ujar Lalan senang. Mungkin taka da yang lebih menggembirakan dari hal ini. Tidak perlu mendapat uang banyak. Tak juga mesti mempunyai mobil mewah. Ternyata bahagia itu sederhana. Bagi mereka yang mendapatkan. Karena itu yang kali ini dibutuhkan. Kalaupun dapat uang banyak, namun masih tetap di alam yang mengerikan begitu, maka tak akan bisa memuaskan. Tapi kali ini sungguh di luar [pemikiran mereka. Ini suatu hal yang paling menyenangkan. Bisa lepas dari bahaya. Mungkin bagi orang kelaparan yang tengah di dera oleh sebuah peristiwa tak mengenakkan, akan mendapat satu piring nasi, satu gumpalan roti jigong, atau mendapat sekepal ketan saja senangnya luar biasa. Karena itu yang dibutuhkan. Itu juga yang membuat mereka selamat, serta terbebas dari satu malapetaka berat yang mesti di atasi. Tak terkecuali dengan dua orang yang lintas usia demikian. Itu sudah sangat membahagiakan. Dimana bahagia yang sederhana, namun kali ini mereka nikmati adalah keluar dari alam misterius yang sungguh mati kalau mendapat tawaran lagi dengan imbalan seberapapun, mereka tak bakalan menerimanya. Lebih baik mendapat duit dari hasil menjual gula yang banyak daripada mengalami peristiwa menyeramkan itu lagi. Cukup sudah.


“Nah bener kan… Ayo lari terus. Sebelum mereka menarik kita lagi ke dalam. Nanti tak bisa keluar,“ ujar Aqi penuh kekhawatiran. Lalan juga menyetujuinya. Dia benar-benar sudah jenuh kalau mesti berurusan dengan mahluk thriller yang suka main kejar kemanapun itu. Bahkan bersembunyi tak bisa, main petak umpet juga membosankan. Ya kalau Cuma permainan anak saja, ini taruhannya nyawa, siapa mau. Sementara nyawa Cuma satu dan itu tak ingin di bagi lagi. Inginnya sih menghindar. Tapi tak bisa. Itu tentu membuat ngeri. Sementara akan bangga bisa tetap berada dalam keluarga. Walau itu suasananya membosankan, penuh dengan kericuhan antar keluarga, dan berhadapan dengan sifat menjengkelkan antar semuanya, bukan berarti taka da sisi menyenangkannya. Makanya akan sangat berbahagia kalau masih bisa berkumpul dan memahami bahwa perpisahan itu suatu yang tak bagus. Namun dengan perpisahan dengan serangkaian pengalaman yang di alami, akan menambah arti pentingnya suatu keluarga. Dimana merasa saling membutuhkan, serta saling menerima kekurangan. Bahwa yang memang kurang itu bisa ditutupi oleh kelebihan diantara masing-masing jiwa itu. Antara anak, istri, ayah bahkan mungkin orang yang sudah bangkotan dan diam diantara kita. Semua membaur jadi satu. Bahkan yang menyebalkan suatu saat bisa menggembirakan. Karena yang uzur sudah merasakan menjadi muda, pernah menjengkelkan, dan bisa kembali membuat baik jika semua keluarga memahami. Yang semula anak, dewasa, tua, dan sifatnya kembali kanak-kanak. Yang mesti dibantu keluarga lain. Suatu saat mereka bakalan seperti itu juga. Menjadi manusia renta yang seakan tak berguna. Tapi mereka pernah berguna. Dan satu keringat yang terkuras, sudah menjadi daging bagi anggota keluarga yang ikut menikmati jerih payah itu. Dan satu jengkal tanah yang basah oleh peluh, adalah bukti bahwa itu hasil dari jerih payah yang sudah diusahakan, walau hasil tak sebanyak yang diharapkan, dan selalu kurang dan kurang saja. Serta menyadari bahwa manusia tak pernah cukup. Apa yang sudah di dapat, itu merupakan awal dari berbagai kebutuhan yang seterusnya mesti terpenuhi. Dan mesti di perjuangkan. Seperti kali ini. Walau perjuangan itu seakan telah berada di ujungnya, namun sepertinya belum aman betul. Masih butuh beberapa langkah lagi untuk berlalu dari lokasi menyeramkan tersebut.


Mereka lari dengan cepat. Meninggalkan apa yang ada di belakangnya. Bahkan tak perlu menoleh lagi. Takut kalau mereka berkali-kali menengok ke arah itu, bakalan terkena imbasnya. Untuk kembali di seret masuk ke dalam, atau pintu misterius tadi akan mengejar, layaknya lubang hitam yang menghisap segala benda untuk tak lepas darinya. Pintu tersebut mesti ditinggalkan sejauh mungkin. Kalau tidak akan segera menarik mereka lagi. Tentu jika bukan benda tersebut, maka para penghuninya yang akan melakukannya. Ini terjadi secara otomatis. Dimana apa yang sudah berada dalam satu perangkap, maka tak hendak mereka lepaskan. Begitu juga dengan kedua orang takut ini. Pastinya tak akan dilepaskan begitu saja oleh para mahluk berkepala beda itu. Bisa-bisanya mereka kehilangan mangsa. Tentu para atasan bakalan segera memarahi mereka. Dan barang tentu akan mendapat hukuman berat. Iya kalau ringan, ini berat. Barangkali saja tak akan mampu mereka tahan. Andaikan mampu, tentu dengan penuh keterpaksaan. Dan akhirnya menjadikan sebuah perasaan lara yang mendalam. Atau bahkan derita sakit tak terperikan. Ini akibat dari satu hukuman berat yang membuat mereka jera. Untuk itulah agar tak mendapatkannya, maka tugas mesti dilaksanakan dengan baik. Dan yang menjadi kewajiban kali ini adalah membuat orang-orang itu tak meninggalkan daerah mereka. Itu sangat sulit. Apalagi kini sudah lepas. Makanya sebisa mungkin mesti di tangkap kembali. Dan hal itu seakan seperti harus memulai rencananya dari awal lagi. Dimana tenaga sudah banyak terbuang dan rasa lelah sudah pasti telah mereka dapatkan. Untuk itu perasaan enggan sudah menjadi barang jamak. Yang tak mudah untuk melakukannya lagi. Sehingga butuh kekuatan batin yang ekstra agar bisa memulainya lagi. Dan kenyataan lain nya adalah kini manusia itu sudah tahu yang dialaminya. Tentu akan lebih waspada, serta akan lebih hati-hati dalam melangkah kini.


“Eh aqi ada lengger kayaknya deh.“

__ADS_1


“Mana?“


“Itu diatas batu hitam di atas tanah merah.“


Pada apa yang ditunjuk lalan, nampak sesosok penari yang tengah asik memainkan peranannya. Dengan kepulan asap aneh berbau kemenyan dan Nampak di bawah temaram cahaya muram, lenggak-lenggok itu begitu anggun untuk diperhatikan.


Mereka terus berlari. Sejauh yang bisa dilakukan. Kalau perlu sepanjang malam ini akan dihabiskan hanya untuk menghindari yang namanya pintu misterius itu. Jangan sampai nampak. Bahkan kalau perlu tak usah ada cerita nya lagi. Begitu membayang dan sangat membuat trauma buat yang mengalaminya. Belum lagi terbayang andai dari dalam sana, pada pintu kecil tadi, akan bermunculan sosok-sosok menakutkan yang kembali melakukan pengejaran. Itu tentu menjadi sebuah kengerian lagi. Yang berikutnya membuat rasa gelisah datang lagi.

__ADS_1


“Wah dah jauh kayaknya Qi.“


“Iya aku juga sudah capek.“


“Aduh…“


Mereka menggelosor di bawah sebatang kayu besar. Sudah tak perduli apa-apa lagi. Kalaupun ada yang datang dan hendak menangkapnya, seakan pasrah. Membiarkan semua itu. Begitu lelahnya. Meskipun kali ini baru saja menggerakkan tenaga guna melarikan diri, namun sebelum itu sudah sekian lama waktu terbuang demi membuang tenaga juga untuk satu rasa ngeri tersebut.

__ADS_1


Mereka terkejut saat membuka mata.


__ADS_2