Hutan Angker

Hutan Angker
Episode 30


__ADS_3

“Ayo masuk…. “


“Sini….“ Mereka semakin bingung. Untuk terus, atau masih berpikir lebih panjang. Sebab hal demikian juga patut diperhitungkan. Mengingat sebelumnya sudah jelas-jelas jika para hantu itu terus saja menghantui mereka dengan membuat rasa takut yang semakin panjang dia terima.


“Sudah masuk saja…“


Bergegas mereka ke dalam ruang misterius itu. Ruang yang rasanya belum pernah mereka lewati. Atau sudah. Yang pasti mereka melupakannya. Akibat terlalu sibuknya memperhatikan kedua mahluk aneh dan ganas tadi. Sehingga pada tiap ruang hampir tak diperhatikan. Tapi menurut perasaan mereka seakan terus saja menembus tiap pintu-pintu yang selalu berseberangan. Hanya memang tadi, karena panik, membuat semuanya seakan tak terpikirkan. Dan kini apa yang mesti dilakukan hanyalah menjauhi kejaran para mahluk aneh tadi, untuk bisa kembali ke rumah. Meskipun sekarang demikian membingungkan. Jangankan menjangkau rumah, seakan perjalanan mereka terus saja berputar tak henti-hentinya. Dan terasa semakin dalam memasuki gerbang aneh tadi. Jadinya yang terpikirkan sekarang adalah keluar dari tempat misterius yang menyeramkan ini. Untuk berikutnya menemukan hutan. Dan kembali pada dunia mereka. Walau masih ragu. Jika keluar dari loji tadi, bisa-bisa mereka akan menjumpai keanehan yang mengerikan, seperti sebelum mereka tersesat hingga pada rumah yang demikian menjebak ini. Dan kini mereka terus berputar memasuki labirin waktu yang tak ada ujungnya.


“Nah entar kita ke pintu itu,“ tunjuk Aqi melihat ada pintu lain di seberang ruangan tempat mereka berdiri. Itu sebuah harapan. Juga belum pasti. Setidaknya masih ada jalan yang terlintas dalam pemikiran mereka. Suatu pintu menuju ke lokasi lain yang dirasa lebih nyaman. Jauh dari para pengejar. Dan barangkali saja itu ujung sebuah ruangan yang bisa langsung menuju ke rumah. Itu dambaan yang lebih daripada sebuah keinginan. Sebab sejauh ini keinginan itu seakan tak terpenuhi. Baik oleh pemberian atau nasib baik yang belum didapatkan.

__ADS_1


“Eh mereka mengejar.“ Nampak di belakang mereka pada bagian pintu, sedikit menganga. Dan dari sana juga kedua mahluk tersebut masuk dengan sorot mata tajam yang seakan tengah meremukkan tubuh mereka jika tertangkap. Dan itu tentu saja tak dikehendaki.


“Ayo kita lari ke seberang.“


Bergegas keduanya ambil langkah seribu. Berebut dengan dua mahluk yang juga langsung menyerangnya. Langkah-langkah panjang si mahluk terus memburu dan demikian panjang pada tiap langkah itu. Karena perbedaan langkah itulah, membuat si mahluk bisa menyusul mereka. Sangat cekatan dan membuat satu kali tiap langkah yang dibuat bagi mereka dua atau bahkan tiga kalinya. Sebab memang lumayan berat kalau mesti mengimbangi kemampuan hebat si mahluk. Sementara mereka demikian saja, sudah itu dalam kondisi tak semestinya. Dimana makanan jelas-jelas tak mereka dapatkan dengan layak. Asal sekenanya. Ini tentu saja membuat semakin lemah. Samping itu kondisi yang demikian memprihatinkan. Jika saja bukan karena ketakutan maka mereka akan lebih senang jika berdiam diri untuk meratapi rasa lemah itu. Tapi yang ganas adalah kali ini mesti menghadapi kejaran musuh. Tak bagus rasanya kalau terus diam sementara para mahluk menghendaki tubuh mereka. Bisa-bisa akan langsung tertangkap dan membuat mereka menderita. Ya jika hanya di tawan nanti kalau di koyak-koyak dengan cakar dan gigitan penuh penyakit, bukankah akan gawat di akhirnya nanti. Maka sebisa mungkin mereka terus bergerak. Barangkali saja untuk langkah selanjutnya tak mengerikan ini. Sehingga bisa istirahat panjang untuk mengganti hari-hari yang hilang.


“Yah aku ketangkep Qi!“


Usaha tersebut memang berhasil. Meskipun kuat, tapi ronta si Lalan juga berhasil mengatasinya. Sehingga genggaman si mahluk yang tak seberapa erat itu langsung bisa dilepaskan. Barangkali mahluk tadi hanya sekedar memegang dan belum meremas kuat kuku-kuku tajamnya itu. Untuk berikutnya badan licin si Lalan yang bersimbah peluh ketakutan tadi bagaikan minyak pelumas yang demikian licin buat tangan si mahluk. Dan kenyataannya demikian mudah tangkapan tadi dielakkan oleh yang punya rasa takut tersebut. Dan berikutnya melanjutkan langkah untuk menjangkau pintu yang berseberangan dengan datangnya mahluk tadi. Meskipun belum tahu pasti, apakah di sebaliknya akan merasa lebih aman, atau justru sebaliknya, mereka akan memasuki dunia lain yang semakin mengerikan dan suasana bertambah mencekam dari apa yang sudah mereka jalani sepanjang pelarian mengerikan ini. Yang jelas harapan yang nampak nyata, kali ini adalah pada pintu harapan itu.

__ADS_1


“Ih hampir saja,“ ujar Lalan, namun masih megap-megap, seakan bahaya belum berakhir. Dan itu kenyataan berikutnya yang mesti mereka hadapi. Kedua mahluk tersebut kembali mengejar dan tak ingin melepaskan mereka, meski langkahnya terseok dan seakan menggelincir saja melewati lantai yang lumayan licin kalau dipakai untuk berlari itu.


“Duanya terus mengejar.“ Nampak demikian lincah mereka-mereka ini menggunakan tenaga untuk suatu tujuan yang menurut Lalan tak perlu, yang hanya membuat tenaga mereka habis serta rasa takut yang terus saja mereka rasakan. Jelas ini hal yang mengerikan. Mengingat mereka tak perduli. Yang dia inginkan hanya menangkap mereka saja tentu sebuah rasa yang lain dan dirasakan kini buat keduanya. Antara enggan dan enggan sekali. Yang bisa di lakukan hanya terus menghindar.


“Gawat dah.“


“Untung sudah dekat pintu.“ Pintu itu semakin dekat dan nyata. Yang bisa diraih dengan beberapa langkah saja serta meninggalkan segala bahaya yang terus mengincar tersebut. Pintu itulah harapannya kini. Sehingga bisa menyelamatkan dari apa yang ditakutkan untuk kemudian merasa lebih nyaman jika sudah berlindung dibalik pintu kokohnya.


“Nah kita bisa melewati pintu ini.“ Bergegas dibukanya daun pintu yang kokoh tersebut.

__ADS_1


Mereka masuk ke pintu tersebut dan berusaha menahannya agar kedua mahluk aneh itu tak bisa masuk.


__ADS_2