Hutan Angker

Hutan Angker
Episode 40


__ADS_3

“Untung sepi lega sudah.“


Ruangan itu dimasukinya dengan santai. Dan kini tinggal mencari. Untuk kemudian bergegas keluar dari ruangan mencekam itu, syukur-syukur bisa langsung keluar dari rumah mengerikan yang kosong dan ditinggal penghuninya tersebut. Bosan rasanya selalu berada di situ dengan rasa ngeri yang tak bisa dibilang ringan. Andai tak kuat pikirannya, bisa jadi akan langsung masuk ke rumah sakit. Dengan demikian sedikit lega. Tapi kalau pulang tak bersama Aqi, bisa jadi dia akan ditanya macam-macam. Dimana kengerian bisa mencapai titik nya. Disini sudah ngeri, di rumah ditanya-tanya, hingga akhirnya bakalan menjadi bertambah bingung nantinya. Tentu berakibat pula pada rasa kalut nantinya. Makanya lebih baik menemukan Aqi untuk bisa langsung kembali bersama. Hingga tak ada pertanyaan yang macam-macam. Dan dia tak bisa menjawab nya.


“Hrr….“


“Wa….“


Baru saja merasa lega, tahu - tahu ada satu bentuk mahluk yang sudah dikenalnya dan kini telah ada di dekatnya. Mahluk menyeramkan itu langsung mengeluarkan gigi nya, serta memperlihatkan cakar-cakar tajam yang pernah melukai paha nya itu. Dengan bentukan demikian, ditambah remang-remang suasana menjadikan mahluk misterius yang bentukan demikian mengerikan ini terasa begitu mencekam. Apalagi pada ruangan yang dingin dan suram, sehingga terasa semakin dingin saja. Belum lagi kalau rekan-rekannya sesama para mahluk yang serupa itu, akan menambah ngeri. Dan berikutnya bisa-bisa dia akan menyusul ditangkap bersama si Aqi yang lebih dulu tertangkap itu.

__ADS_1


Mahluk tersebut langsung menggeram-geram dengan suara menakutkan nya. Suara aneh. Tapi sudah menjadi terbiasa kala berada terus menerus dalam ruang dan dunia aneh itu. Sebelumnya memang hampir tak pernah mendengar suara tersebut. Karena memang tak pernah ditampakkan. Hanya kali ini bukan lagi di tampak, namun sudah menjadi pandangan umum di setiap waktunya, andai tak bertemu akan heran sendiri. Mahluk misterius yang biasanya hanya sekedar kisah, sekarang seperti hantu yang menghantui dalam segala tingkahnya. Semakin aneh lagi kala berhasil ditangkap, kemudian akan di koyak tubuh itu, dan selanjutnya di beri hukuman menyakitkan dengan jiwa yang di dera.


Hrr…


Tak banyak ucapan yang keluar dari mulut menyeringai itu. Yang ada hanya getar penuh amarah akibat lama tak bisa menangkap buruannya. Yang jelas untuk kali ini tak boleh lepas. Karena akan menambah capek dan untuk berikutnya bakalan jadi beban. Kalau langsung tertangkap sudah. Mesti di kembalikan ke penguasa. Dalam istana seramnya itu. Dan membiarkan si tertangkap menjadi tawanan kegelapan. Sehingga di dunia mereka yang terdengar hanya hilangnya satu sosok. Namun dicari tak bakalan ketemu. Karena berada dalam kekuasaan para mahluk itu.


Kek…


Mahluk itu menatap dengan sorot yang tajam. Bibirnya kembali bergetar dengan mengeluarkan geraman aneh yang hanya mereka saja yang mendengar.

__ADS_1


Kemudian kembali mengejar. Kali ini langkahnya semakin di percepat. Dua kali saja sudah samapi ke posisi Lalan berdiri. Andai dia tak berlari. Apalagi ini dunianya. Yang jelas seluk beluk dalam ruang serta lingkup daerah tersebut sudah sangat di pahami. Hanya saja langkah sigap musuh itu yang membuat kesukaran tersendiri. Ini yang nantinya semakin membuat dongkol dalam rasa. Dan keinginan untuk menangkap lalu membuat menyesal musuh yang sudah berani mempermainkannya semakin besar.


Lalan terdiam sesaat. Entah bingung atau menunggu waktu tepat. Namun waktunya memang sangat singkat. Andai terlambat sedikit saja, maka lawan sudah pasti bakalan bisa menangkapnya. Untuk dibawa ke bui. Iya kalau di dunia masih ada yang mengirim ransum. Ini dalam dunia yang alamatnya tak jelas, bagaimana mereka mau mengirim. Tentu bakalan kesulitan menghadapi kesehariannya nanti.


Lalu melanjutkan langkahnya. Mesti di perkuat. Dan gerak nya harus semakin di tambah. Sehingga akan bisa menjauhi si mahluk. Bagaimanapun di dunia sebelumnya sudah menjadi kebiasaan melarikan diri begitu, atau cuma sekedar olah raga. Makanya dalam kenyataan kali ini dia bisa melangkahkan kaki panjangnya tersebut dengan nafas yang tak terlampau menderu. Hanya karena terlampau capek dan panjangnya jarak tempuh saja yang membuat dia lelah. Namun untuk sekian lamanya dia berhasil menata diri. Serta berbagai rintangan yang terus menghadang, sudah berhasil diatasi setidaknya untuk sampai waktu sekarang ini di tempat dia berdiri kini.


Si Lalan lari tunggang langgang. Tak ingin dia lembek menghadapinya. Masih banyak jalan untuk keluar dari himpitan permasalahan tersebut. Kalau bisa sebenarnya ingin melawan. Tapi berhubung dirasa kekuatannya hanya demikian saja dan si mahluk begitu mengerikan, mungkin dia akan melakukannya nanti. Setelah ada kekuatan yang seimbang dalam menghadapi kebuasan mahluk itu.


Di kejar oleh sang mahluk dengan ganasnya. Langkah panjangnya itu terus saja mendekat si Lalan yang semakin panik dibuatnya. Makanya dia berusaha secepat mungkin untuk menjauhinya. Dan langkahnya dia bikin meliuk-liuk, agar tangan si mahluk tak menjangkaunya. Sebab seberapa sih kekuatan lari dia dibandingkan dengan langkah musuh yang lebih panjang dan cekatan tersebut.

__ADS_1


Lalan terus lari. Berusaha dan berusaha. Agar tak hanya jauh, namun juga biar membuat lawan tak ingin mengejar lagi. Karena rasa lelah terus datang andai musuh benar-benar belum menyerah. Dan membiarkan dia kembali ke kampung halaman untuk berjumpa dengan orang tua yang dikasihi, dicintai.


Dia menjangkau apa saja yang bisa dipergunakan untuk sembunyi diri. Ingin segera menelusup ke sebuah tempat yang pekat. Sebab itu satu-satunya jalan lolos diantara ruangan yang demikian lega bagi sang penghuni yang tentu nya sudah sangat hafal akan lingkungan tersebut yang memang sangat luas. Mencari yang rimbun tentu saja tak ada. Maka pada tumpukan benda-benda bekas, itu yang paling bisa diterima akal. Sehingga musuh akan kesulitan menangkapnya. Dan itu telah terjadi berulang kali. Hingga ada pemikiran, maka untuk yang kesekian kalinya itu, bisa jadi satu ketika akan meleset dari perkiraan hingga dia tertangkap seperti saat itu. Untuk menjadi pemikiran lagi, akankah bisa terbebas, atau harus menyerah pada situasi kelam itu. Dimana mahluk tadi belum tentu sekarang akan sudi melepaskannya. Karena tentu saja sudah semakin lelah menghadap kelihaian si bocah yang beberapa kali serta waktu yang telah berjalan itu, terus saja mampu membebaskan diri. Kali ini tidak. Dan seakan tak ingin melepaskan mangsanya, si mahluk terus mengejar. Dia kini tak perduli ada halangan. Sejauh masih sanggup mengejar, maka akan dilakukan. Demi tertangkapnya buruan. Untuk kemudian dilaporkan.


__ADS_2