
Lalan terus berlari mendekati pintu yang terdekat, atau tempat dimana bisa buat perlindungan. Kacau sih langkahnya. Antara memikirkan keselamatan diri, juga kondisi Aqi yang tak ketahuan kini, serta bagaimana menyadari posisi sekarang yang semakin terjepit dan sulit. Kalau menyerah, mungkin tak akan capek. Hanya saja posisi ditawan, tentu tak jelas. Bisa langsung dieksekusi, itu hukuman yang lebih berat, atau justru hanya akan di lepas. Mungkin juga bisa masuk ke dunia nya untuk kemudian menjadi seperti mereka yang meskipun punya kekuatan lebih, tapi akan malu jika nanti akan jalan-jalan ke pasar, atau mau menyumbang di kondangan mantan. Tentu rasa percaya dirinya bakalan menurun. Belum lagi jika sampai di hina atau di kata-kata i, yang bisa menurunkan harga diri. Akan diapakan sama musuh nanti. Jika terus menghindar, maka rasa lelah yang dia dapat. Namun menuju kebebasan pasti membutuhkan berbagai perjuangan. Dan perjuangan itu seakan suatu pertaruhan. Yang bisa saja lebih mengenaskan di waktu berikutnya andai tak berhasil. Tapi keinginan lepas tentu menjadi satu patokan dalam keadaan yang diharapkan lebih baik.
Namun didepannya sudah ada yang mencegat. Sosok mahluk mengerikan yang sudah di takuti semenjak pertama jumpa. Kini dalam kondisi yang demikian, sendirian, kelam, serta tanpa pilihan, semakin membuat mahluk tersebut Nampak serasa mengerikan nya. Belum lagi cakaran mautnya yang bisa merobek kulit hingga menimbulkan pedih, perih, yang menusuk dalam rasa.
Akhirnya berusaha membalik. Barangkali itu satu-satunya kesempatan lain yang bisa menyelamatkan selembar nyawanya. Dan terasa lebih memungkinkan jika mesti melawan yang kondisi sekarang rasanya sangat lemas. Jangankan untuk melawan, mengangkat kepalan tangan saja sudah berat rasanya. Makanya lebih baik lari.
Belum jauh dalam melangkahkan kaki, disana juga sudah ada yang menghadang. Sosok mengerikan yang sama. Kini saling hadang. Tentu yang dihadang tak karuan rasanya. Lebih ngeri di banding di hadang penagih hutang. Tapi mau bagaimana lagi.
Kebingungan.
Terus menelusup pada barang-barang bekas yang menumpuk di sisi ruang. Ini tempat berikutnya yang barangkali bisa lebih menyelamatkan jiwanya. Dari penangkapan mahluk mengerikan.
__ADS_1
Diam sejenak.
Setelah dirasa cukup aman, tanpa adanya pengejar yang menyusul, barulah dia berusaha merangkak lagi untuk menjangkau ruang lain yang bisa sebagai persembunyian. Kalau demikian terus, maka lama-lama si mahluk tentu akan mencari dan mendapatkannya. Meski kali ini tengah asik menunggu.
Tak disangka, tak di duga. Didepannya kembali menghadang mahluk itu. Mereka sudah siap untuk memegangnya. Tak ada kemungkinan lain. Bahkan tak ada niatan lain supaya mereka juga tak capek lagi jika sudah berhasil mendapatkannya. Tentunya kali itu akan bisa beristirahat sembari kembali ke posisi dia bekerja. Tanpa harus melakukan kegiatan tambahan demikian yang sangat menyiksa diri.
Akhirnya dengan tergesa-gesa dia merangsek keluar dan mengibaskan tiap pegangan tangan musuh nya. Barulah kemudian berusaha melarikan diri. Dimana masih berada dalam ruangan yang sama dalam jangkauan yang tak begitu luas. Namun bisa sebagai tempat berlindung sejenak. Meskipun berisik cepat tertangkap karena jelajahnya yang terbatas itu. Berbeda kalau di tempat luas semisal lapangan atau justru dalam hutan, yang dirasa banyak pilihan. Pastinya lebih leluasa juga.
Kini jumlah mereka semakin banyak.
“Aqi tunggu!“ teriak Lalan.
__ADS_1
“Ya cepat,“ ujar Aqi. Mereka mesti cepat-cepat sampai di pintu tersebut. Sebelum para mahluk itu memergokinya. Untuk berikutnya akan menangkap dan menawan nya. Sudah menjadi kebiasaan di akhir-akhir ini, dimana selalu saja di ketahui lawan. Meskipun sudah berusaha menyembunyikan diri. Tapi ini daerah mereka. Jadi tak sulit mencari persembunyian yang sudah dihafal betul. Itupun kalau mereka ingin menangkapnya. Atau hanya sekedar main-main. Diana hanya membutuhkan rasa takut pada tiap ingatan orang yang menjangkau daerah ini, sebelum akhirnya lepas serta menjadi pembicaraan diantara mereka sendiri kala tengah berkumpul dengan komunitasnya sesama orang –orang gemar cerita. Disana kisah itu akan semakin ramai. Belum lagi bumbu penyedapnya. Yang akhirnya membuat semakin popular suatu tempat aneh yang diceritakan dari mulut ke mulut itu. Dan akhirnya setelah melewati berbagai ucapan serta pemikiran yang berbeda. Akhirnya akan jauh berbeda dari permulaan saat mengalami peristiwa itu, hingga pada akhir di ujung kisah yang sudah bertambah banyak untuk satu kekeliruan yang akhirnya diterima sebagai bahan untuk dilanjutkan pada orang lain akan kisah yang sudah berwarna dan semakin banyak perubahannya. Itu terjadi jika kisah tersebut hanya dari lesan saja. Kecuali berikutnya secara tertulis. Maka akan kembali menengok ke belakang, pada satu dasar yang terjadi di awal. Maka akan sedikit terjaga dan perubahannya pun tak Nampak.
“Bener sini Aqi?“
“Kayaknya. Aku juga lupa-lupa ingat.“ Aqi terus mengingat-ingat. Tanda apa yang sebelumnya sempat dia hafal saat itu. Karena kalau pernah melewati, bahkan memegangnya, tentu itu sebuah keuntungan yang bisa dijadikan patokan guna memastikan suatu lokasi sebagai satu tujuan yang hendak menjangkaunya itu. Sebab kalau tak demikian akan kesulitan mengatasinya. Meskipun tentu saja masih bisa. Tapi dengan jalan menandai suatu patokan tadi, akan semakin cepat menjangkaunya. Serta semakin mudah untuk menjangkau pintu itu nantinya. Tapi semua patokan tersebut seakan lenyap. Entah dipindah oleh para lawan yang mengetahui adanya keanehan, maka mereka berusaha mengatasinya. Atau memang karena terburu-buru sehingga mengingat nya pun akan kesulitan. Dan itu terjadi berulang kali sampai segala sesuatu itu tak bisa di dapatkan lagi. Maka akan memperumit keadaan itu.
“Itu barangkali pintunya Aqi?“ ujar Lalan pada sebuah pintu yang aneh. Memang rasanya taka da yang beda. Sama saja. Tapi pada perasaan seakan itu yang menunjukkan kalau bisa keluar dari labirin misteri ini ya pada pintu tersebut. Yang bisa dilalui jika mesti memerlukan pengorbanan akhir guna menjangkau lokasi tersebut.
“Tapi banyak yang berkeliaran di ruang itu. Kita mesti hati-hati menjangkaunya.“
Banyak mahluk disitu. Barangkali memang menjaga pintu tersebut. Atau hanya sekedar berkelompok di ruang aneh ini sebelum akhirnya terpisah guna melanjutkan pekerjaan yang belum usai itu. Ini juga yang mengindikasikan kalau pintu tadi adalah sebuah akhir. Dimana harapan mereka, tentu akan mempertahankan sekuat tenaga akan pencarian itu. Serta bisa mempertahankan mereka. Kalau mesti berharap mereka tetap disini. Sebab kalau sudah keluar, maka akan kesulitan lagi menangkapnya. Yang mana pada satu tempat yang mereka hafal saja belum tentu kena, apalagi ini sudah di luar batas kekuasaan mereka, maka akan semakin menambah sulit buat apa yang mesti di raih itu. Jadi semacam usaha akhir sebelum musuh benar-benar lepas.
__ADS_1