Hutan Angker

Hutan Angker
Episode 26


__ADS_3

“Lorong ini teryata sangat panjang dan berahir pada suatu tikungan ini.” Kalau disebut mungkin itu bukan lorong secara sesungguh nya. Hanya semacam ruangan memanjang yang bisa jadi hanya bagian luar dari bangunan tersebut. Tapi karena bentukannya yang melengkung-lengkung dan cuaca yang tak mengenakkan, pada tatapan mereka seakan berada pada satu jalur yang membentuk lorong-lorong aneh. Dengan terlihat pada kanan kiri di sepanjang jalan mereka lewati itu, nyata nya berbeda. Selain bentukannya, juga kondisinya lain. Yang jika memandangnya secara cepat, perbedaan tersebut tak nampak. Dan kini mereka kembali dihadapkan pada satu masalah lain. Jalan itu seakan buntu, layaknya pikiran mereka yang juga buntu. Tak bisa kemana-mana selain menatap pada satu tembok yang membatasi gerak selanjutnya. Dan kini ada di depan mereka.


”Bukan pintu keluar rupanya ya, hanya semacam jalur lain yang membelok,” ujar Lalan. Hanya itu yang bisa dilewati. Itu juga yang bisa ditembus. Kecuali jika hendak membalik. Dan resiko bertemu lagi dengan mahluk ganas tadi akan semakin nyata. Serta tidak menutup kemungkinan kalau nantinya akan bisa timbul luka yang jauh lebih parah seperti yang sudah di alami si lalan. Mengingat, tenaga juga sudah menipis, akibat terkuras selama masa pelarian itu, dan juga kemungkinan menyelamatkan diri akan semakin lebih kecil mengingat sudah pernah terjadi hal yang sama sebelumnya. Apa yang sudah dialami, tentunya bakal lebih parah untuk pengulangannya. Secara pemikiran dan resiko akhir nampaknya kurang menguntungkan.


”Wah bisa-bisa itu tempat si manusia aneh itu.”

__ADS_1


”Kita istirahat dulu kalau demikian,” ujar Aqi. Sejauh masih bisa menata nafas. Belum lagi kalau si mahluk sudah menghadang pada balik pintu tadi. Dimana sudah sering mereka alami. Dengan tiba-tiba manusia demikian akan menghadang di tempat tak diduga.


”Dimana nggak ada tempat juga?”


Mereka duduk pada suatu tangga. Mungkin bukan itu, tapi semacam jalan yang menurun, tapi oleh pembangunnya dibuat rata dengan menjadikan anak tangga yang hanya satu itu saja. Dan jelas membedakan bentuknya.

__ADS_1


”Nanti jalan lagi kalau sudah merasa nyaman.”


”Iya.”


Mereka duduk pada sebuah tempat yang posisinya sedikit berbeda. Dan ada semacam benjolan untuk bisa menyesuaikan dengan kondisi kaki, agar lebih rendah, jadi sesekali bisa juga dijulurkan untuk menghilangkan rasa penat. Dengan demikian sedikit banyaknya rasa lelah berkurang. Dan pegal di kaki secara itu, langsung ikut sirna juga. Memang taka da yang bisa diperbuat selain melakukan hal remeh demikian. Daripada terus jalan, yang hanya membuat rasa capek bertambah untuk kemudian merasakan hal yang aneh, semacam letih, lemas, dan tenaga seakan hilang. Itu semua akibat demikian berat penderitaan yang dirasa dan dialami mereka kala itu. Selebihnya adalah rasa ketakutan yang tentu saja dirasakan dari waktu ke waktu seiring dengan bertemunya sama mahluk-mahluk aneh sepanjang berada di tempat tersebut. Keinginannya untuk melintasi rumah kuno itu dan sampai pada ujungnya seakan sirna. Yang justru berjumpa dengan kengerian lain. Dan semua itu seakan didorong oleh mereka-mereka agar mereka berada disini. Pada suatu pemukiman yang sudah ditinggalkan. Hingga, jangankan berjumpa dengan satu sosok yang sama dengan mereka, kini yang ada hanya mahluk-mahluk mengerikan yang sanggup melukai. Yang jelas, untuk sejenak mereka bisa menata nafas, kini.

__ADS_1


__ADS_2