
Mereka terkejut saat membuka mata. Saat ini tengah berada di bawah pohon sembari bersandar pada batang besar pohon itu. Sekian lama mereka terlena. Membiarkan lelap mendera. Dan rasa capai hilang dengan sendirinya. Bagaimanapun sebelumnya sudah sekian lama mereka berjuang untuk menghindari rasa takut dan ngeri di kejar-kejar hantu yang tanpa bentuk begitu.
“Nah akhirnya kita keluar, “ ujar Lalan senang, kali ini sudah yakin kalau mereka berada di dunia nyata. Tak seperti tadi. Banyak perbedaannya. Banyak sekali. Sebelumnya penuh dengan nuansa horor, sekarang tidak. Tadi alamnya beda, kali ini Nampak sekali dunia yang sering mereka lihat. Mungkin suasana nya tak senyaman saat di sana. Kali ini hawanya agak panas sedikit, serta tak seperti sebelumnya yang dingin bagaikan berada di ruang ber-AC. Kali ini AC alami. Yang dingin saat terkena angin saja. Jika angin lewat, maka langsung bagai kena bara. Panas. Apalagi saat matahari terik, langsung terasa ganasnya. “Tapi masih ada kabut ini, bahkan bau.“
Aqi ikut mengendus. Merasakan hal yang sama. Kabut tebal. Dan pandangan tak seberapa jauh. Namun mulai yakin diri. “Ini sih asap bakaran hutan,” ujarnya kemudian saat merasakan hal yang biasa terjadi untuk musim-musim demikian saat dia juga melakukannya di kebun sendiri, di dekat rumahnya sana. Seperti biasa yang terjadi, kalau musim-musim tanpa air, atau menjelang kemarau panjang, para pemelihara hutan selalu membuka daerah tersebut. Salah satu cara yang sudah biasa di lakukan adalah dengan membakar semak-semak rapat serta rumput-rumput liar yang telah kering. Ini untuk menjaga kemungkinan datangnya musim hujan yang tentu saja basah dan lembab. Maka akan sulit melakukannya dengan cara yang sama. Dimana pohon liar mulai tumbuh, bahkan semak belukar semakin rapat dengan minum air alami dari hujan yang menumbuh subur kan tumbuhan tak diinginkan itu. Sehingga kalau di babat, di pangkas, tak menunggu waktu lama rumput-rumput dan tumbuhan semak belukar yang tak diinginkan, sudah tinggi lagi. Berbeda dengan cuaca kering, seperti kemarau kali ini, yang sedikit banyaknya menghambat pertumbuhan liar dari tanaman yang tak dikehendaki itu. Akan mudah membukanya. Hanya dengan menjaga api saja. Juga tak perlu besar-besaran, karena bakalan membuat polusi udara tak terkendali andai api berkobar sangat liar. Makanya perlu melihat perkembangan api. Tidak terlampau besar, juga tidak kekecilan. Kalau terlampau kecil juga tak sanggup membakar hutan. Atau kalau kecil sekali maka akan lama prosesnya. Lebih cepat orang membabat rumput tersebut dengan sabit, atau parang. Sehingga secara logika tak akan bagus dilakukan oleh para pekerja yang masih mempunyai banyak pekerjaan lain jika hanya dibandingkan dengan mengurusi rumput dalam hutan saja.
__ADS_1
“Wah itu mobil kita,“ tunjuk Lalan pada satu buah mobil di dekat mereka. Aneh memang keadaan kali ini. Sebelumnya sangat sulit mendapatkannya. Tapi kali ini, demikian saja apa yang di cari itu, nampak di muka mereka. Dan itu membuatnya sangat bersyukur. Bahkan akan semakin bahagia kalau semua yang ditinggalkan utuh, tak kurang suatu apa pun. Sehingga apa yang diperoleh selama dalam perjalanan ke kota sebelumnya masih menjadi rejeki mereka. Sehingga pada akhirnya nanti, masih bisa diberikan pada keluarga di rumah yang pastinya tengah menunggu serta berharap akan mendapatkan apa-apa dari orang yang pergi lama, demi sesuap nasi serta berbagai keperluan ke depan untuk rejekinya. Belum lagi oleh-oleh yang diharapkan karena sudah jadi kebiasaan juga untuk satu hal yang mengasikkan ini, orang pergi yang di tunggu tentu oleh-oleh.
“Nah akhirnya ketemu“. Aqi senang. Dia beranjak mendekati mobilnya yang sekian lama kehilangan. Memang sekarang serba aneh. Bahkan ada kendaraan yang hilang selama dua jam karena terparkir di depan dengan kondisi pintu taka man keadaannya. Sehingga hanya dengan menuntunnya dari luar saja sudah terambil. Baru dua jam kemudian ada laporan kalau benda itu ditemukan. Dalam kondisi kacau balau itu karena kepergok sama penghuni kampung yang keheranan akibat kendaraan yang dituntun seakan kebingungan makanya segera di kejar. Dan benar, itu sebuah kasus pencurian. Dimana akhirnya tak bisa membawanya lagi. Dan kendaraan itu dilempar begitu saja di tepi jalan. Dengan sudah di lepas sehingga pemiliknya mesti kehilangan uang juga untuk memperbaiki. Tidak tanggung - tanggung hampir tiga juta. Ini berarti sudah banyak bagian dari kendaraan itu yang telah terambil. Tapi itu masih lumayan, daripada harga kendaraan itu yang menjangkau 23 juta. Memang demikian orang asih akan merasa bersyukur kalau apa yang hilang di dapat kembali, walau yang lepas juga masih ada namun tak sebanyak jika benda tersebut lenyap semuanya. Tapi bagaimana lagi. Itu milik kita. Dan jika milik yang sangat di sukai di dapat kembali, maka menjadi kesukaan tersendiri. Tak terkecuali dengan Aqi yang senang, tak jadi kehilangan benda berharga yang biasa di pakai mengais rejeki tersebut. Kalau hilang, walau bisa mencari lagi, namun butuh biaya. Yang semestinya bisa buat menambah modal usaha, harus dipergunakan untuk keperluan mendesak yang semestinya tidak perlu kalau benda tersebut tidak hilang.
“Bagaimana mengeluarkannya?“ ujar Aqi. Dia masih berpikir keras. Didorong tak kuat. Bahkan oleh tenaga mereka berdua. Meskipun kekuatan penuh. Apalagi kali ini yang kekuatannya sudah habis akibat berlarian kesana kemari menghindari terkaman mahluk biadab tak berperi kemanusiaan itu.
__ADS_1
Mesti pakai alat. Kalau hanya dengan kekuatan dua orang yang lemah itu, sudah barang tentu tak akan berhasil belum lagi setelahnya andai bisa bahkan kekuatan luar biasa tapi bagaimana lagi kondisinya demikian dan itu hanya barang milik satu-satu kalau dibiarkan maka akan kesulitan mencarinya.
“Sudahlah, besok kita derek saja,“ katanya lagi. Mesti memanggil mobil derek ke kota nanti untuk bisa mengeluarkan kendaraan besar begitu. Kalau tidak butuh orang banyak untuk menarik tambang yang terlilit di mobil itu. Juga belum tentu ada orang yang tengah santai guna membantu menariknya. Karena jam-jam segitu orang-orang sedang banyak urusan sendiri untuk mengerjakan pekerjaan sendiri. “Kita pulang dulu naik angkot. “
Mereka pun jalan kaki menuju ke jalan raya tengah hutan. Lalu menghentikan bus umum. Dan pulang dengan santainya.
__ADS_1