
Pelan-pelan dibuka nya pintu itu. Sedikit demi sedikit. Sebab hal yang sangat dikhawatirkan. Antara ingin memutar atau tidak. Seakan, pintu tersebut demikian berat. Atau setidaknya memiliki aura yang begitu menyeramkan. Sehingga demikian membuat pemikiran yang tak baik. Rasa itu terus menggema dalam pikirannya. Untuk tetap selalu berpikir kalau selalu ada bahaya yang tengah mengancam nya. Dan disini, dalam ruang pekat ini, segala sesuatu nya bisa saja terjadi. Yang tak ingin dipikirkan, namun mesti terpikirkan juga. Sebab sangat menjadi dan mungkin kalau-kalau musuh nya itu tiba-tiba dating dan melakukan apa yang terduga maupun tak disangka. Jika pada ruang ini ada mereka. Sebab keinginan menangkap bakalan menjadi akhir yang tak mengenakkan, meski lega karena perkiraannya tepat. Dan itu akhir dari satu pikiran buruknya. Jika segalanya sesuai dengan perkiraan yang tak di rencanakan. Hingga bakalan kacau kalau benar-benar nyata. Untuk itu sangat pelan sekali dia mencoba membuka pintu sekaligus pelan-pelan membuang pikiran jelek nya.
“Wah… wah…“ Masih dengan ragu-ragu si Lalan. Antara ingin dan enggak. Itu yang selalu terpikir semenjak awal. Dari saat melihatnya, untuk kemudian ingin membuka, berikutnya masuk agar bisa terhindar dari para pengejar yang kini ada di belakang sana.
“Bagaimana kalau dia menghadang di belakang pintu?“ Masih berkecamuk pikiran itu. Kalau menghadang, tentu akan langsung tertangkap. Sebab itu yang kini ada dalam pikirannya. Tertangkap dan ditangkap itu saja. Karena memang kekhawatiran kali ini hanya berkutat pada satu peristiwa berulang tersebut. Antara menangkap dan ditangkap. Sementara ketakutan lain seakan sudah hilang. Kalau cuma ditampakkan atau hanya di kaget itu sudah berhasil dilampaui. Kali ini berurusan dengan penangkapan dan membelenggu untuk masuk ke ruang isolasi mahluk yang bisa dibayangkan sangat mengerikan.
__ADS_1
“Atau tengah menanti di seberang ruang sana.“ Bisa juga kesamping. Dalam kerumunan yang banyak dan saling memamerkan gigi-gigi tajamnya sembari di hiasi air liur yang semakin memperkeruh suasana serta getar bibir dan geraman halus yang menambah menyerahkannya suasana jika terlampau terpikirkan.
“Gawat kalau begitu.“ Lalan hanya bisa bergidig. Ngeri sudah pasti, takut telah semenjak awal. Dan kali ini bertambah kebimbangan, antara meninggalkan ruang yang kali ini aman, atau menguak pintu tersebut untuk menuju ke lokasi lain dengan harapan yang tak pasti. Bisa harapan untuk langsung bebas, menuju alam terbuka yang jauh dari gangguan serta berikutnya bisa menuju rumah. Atau tetap berada di tempat yang seakan berjalan di tempat saja, walau aman, tapi beberapa waktu ke depan belum tentu. Bisa saja hanya sekejap kemudian rombongan mengerikan itu dating, lalu mengobrak abrik daerah itu dan menangkapnya sembari di seret dan di lempar ke depan singgasana raja yang tak nampak.
Untung kosong. Itu setelah di buka. Tak ada siapapun. Atau bisa jadi setelah ini. Untuk beberapa langkah kemudian. Yang nyata setelah pintu terkuak, tak ada apapun. Barangkali mereka memang tengah kacau. Mengejar-ngejar si Aqi yang tak kunjung dapat. Atau tengah membawa dia dalam tangkapan pada satu pimpinan yang jauh lebih mengerikan dengan kharisma yang begitu besar untuk memimpin para mahluk yang sangat-sangat menyeramkan ini.
__ADS_1
Terus masuk pada ruang sunyi itu. Lalu berjalan dalam kesunyian. Benar-benar sunyi. Seakan berada dalam ruang hampa yang demikian luas. Walau hanya satu ruang itu saja. Dimana senyap itu bercampur dengan rasa takut dalam batin nya. Rasa takut itu benar-benar tak tertahankan. Dan dalam kesendirian demikian semakin membikin panik. Andai ada teman, meskipun berbeda jauh, tapi bisa saling komunikasi, berbagi rasa dan berbagai kegundahan. Maka itu sedikit mengurangi titik bawah sadar nya.
Lalan masih memikirkan hati. Celingukan kesana kemari jangan sampai jantung yang jadi sasaran untuk degupnya yang enggan terhenti. Dan lanjut pada suasana ngeri berpadu seram dengan terus membayangkan banyak mahluk dalam ruang tersebut. Serta memperhatikan kalau-kalau si mahluk berkeliaran. Jadi tiap ada bayangan terus diam. Supaya memastikan kalau itu bukan si serigala liar yang doyan manusia. Serta baru sanggup melangkah jika yakin itu bukan bayangan dia.
“Semakin mengerikan saja suasananya.“ Lalan memang tak yakin. Karena ini hanya sejauh perasaan saja yang dia gunakan. Sebab untuk membiarkan benar-benar hatinya nyaman tak sanggup. Masih banyak rintangan di depan maupun di belakangnya. Sehingga untuk bisa nyaman baik melangkah ke depan juga belum tentu, takutnya banyak hadangan, kalau membalik sudah pasti. Mereka tadi ada di sana. Pada suatu tempat yang sudah dilewati. Kalau kembali, sudah pasti salah satunya bakalan menemui mereka lagi, walau belum tentu tapi kemunginan besar akan bisa terwujud. Karena sebelumnya sudah yakin ada. Mengejar, dan menyakiti. Makanya kalau ke depan mereka akan berbaik hati, jangan harap. Yang ada tentu akan merasa kesakitan luar biasa yang bakalan di dapat, jika menelisik kejadian sebelumnya. Hal ini yang semakin menambah trauma, dan ingatan terus untuk hal mengerikan tadi. Seraya membayangkan betapa menyeramkan nya wajah sang penguasa alam gaib itu. Sudah pasti, dalam dunia sesungguhnya saja terasa menyeramkan, apalagi di dunia mereka kini, tentu tak akan terbayangkan rasa ngerinya ini.
__ADS_1
“Terus saja lah.“
Mau hati-hati yang bagaimana? Kalau tak ada apapun yang buat pertahanan diri. Senjata tidak, apalagi berupa peledak. Yang tersisa hanya keberanian yang dipaksakan. Jika membawa benda disekitar situ juga percuma. Hampir tak ada yang mampu melumpuhkan si mahluk. Itu untuk satu orang. Yang banyak juga akan melakukan perlawanan demi jatuhnya para mahluk tersebut. Itu jika sanggup menjatuhkan satu saja. Dan yang lain tentu akan saling berebut guna menangkapnya. Andai cuma ditangkap. Kalau sampai diseret-seret terus disakiti, lebih jauh sampai terbunuh, maka akan sia-sia kehidupan yang dia alami selama ini. Mesti diberikan pada mahluk yang baru dilihatnya beberapa waktu itu.