Hutan Angker

Hutan Angker
Episode 35


__ADS_3

“Nah kita tinggal masuk ke rumah misterius yang penuh dengan nuansa horor ini,“ ujar Lalan.


“Tidak masuk bagaimana, mau masuk takut,“ ujar Aqi. Dia merasakan demikian. Hal yang sama dengan sang adik. Dimana perjalanan sebelumnya sudah membuat keder di hati. Dan sudah terbayang kalau berikutnya ada lagi rasa seram yang bakalan menghadang mereka. Mengingat mereka masih berada pada satu pusaran misteri, yang tak kunjung bisa diatasi. Jangankan menemukan jalan keluar, membuang rasa takut juga sulitnya setengah mati. Belum lagi jika bertemu dengan mahluk seram yang baru lagi. Tentu bakal membuat semakin tak kuasa menahannya. Dan kejadian ini akan berulang terus dan terus sampai mereka bisa meninggalkannya. Atau bahkan tak bisa lepas sama sekali, serta selamanya mesti berada pada negeri kelam itu.


“Jelas lah orang serem begini. Di pikir saja sudah ngeri. Bayangkan sudah rumah kuno di tengah hutan sunyi sepi begini. Bagaimana orang tak curiga coba kalau kembali mereka-mereka sudah pada menghadang jalan kita yang berakibat kita akan bertambah takut kala memikirkannya.“ Langsung terbayang hal demikian. Dilihat saja sudah demikian ngeri. Suram dan malas. Apalagi untuk tinggal di dalamnya. Bakalan sebuah malapetaka rasanya. Belum lagi bentukan yang demikian besar dan kokoh, akan membawa pemikiran mereka ke satu masa dimana mereka harus melalui sebuah rasa yang sudah jenuh dulu. Untuk kemudian enggan dan ingin menghindarinya. Bentuk kekunoan itu sudah cukup melarutkan batin mereka pada satu masa yang demikian lama, dimana oran-orang sebelumnya jelas sudah tak ada di dunia. Itu yang menyeret mereka pada kenangan seram yang terus membayang seakan mengikuti pandangan mereka.


“Ya ayo kita masuk saja berteduh di dalamnya.“


“Jangan- jangan di dalam banyak hantunya lagi.“ Mereka curiga. Sebelum ini sudah ketakutan dengan hantu-hantu yang bentuknya bermacam-macam. Ini berada pada rumah misterius, bisa saja hantunya bakalan lebih seram dan membuat pandangan mereka sama sekali tak boleh mengatup demi terlihatnya satu bentukan mengerikan itu.


“Ya kali. Ini rumah mereka.“

__ADS_1


“Lebih baik kita tak usah takut, soalnya mereka selama ini kan hanya nakut-nakuti saja dan tak pernah melukai. Menyentuh saja tidak.“


“Apa gitu?“ ujar Aqi masih belum yakin. Memang hal demikian belum dicoba, mengingat sebelumnya hanya ketakutan yang menyelimuti. Jangankan untuk melawan, merasa berani saja sudah hilang tergantikan oleh rasa ingin menghindar saja dari satu permasalahan mengerikan yang dibuat oleh para mahluk astral yang kerjaannya menggoda tersebut. Dan selebihnya tentu saja rasa kacau yang mesti didapat akibat mereka belum bisa memberanikan diri melawan. Itu beban yang sebelumnya dirasakan.


“Kali. Orang tak pernah kita cuba,“ jelas Lala yang mulai percaya diri dengan satu pemikiran yang baru keluar. Mengapa tak sedari awal sehingga mereka tak perlu berlarian serta kehabisan nafas. Jika hal demikian telah terpikir sedari semula, maka kalau ada yang mencoba mengusik bulu roma mereka, cukup dengan mengacuhkan saja, pasti semua akan terbebas dari satu persoalan itu. Terus bisa melenggang dengan santai dengan rasa ngeri yang Cuma sepintas. Atau bahkan tidak sama sekali. Dan berikutnya langsung kembali ke titik awal untuk terbebas dari segala masalah. Berikutnya sudah kumpul dengan keluarga, dengan tak mesti demikian terlunta-lunta di hutan belantara. Dengan rasa lapar, haus dan lelahnya.


“Ih sampai dimana kita ini?“


Ruangannya aneh. Sangat lebar dan luas. Pada bagian ini ruangannya sedikit berbeda. Meskipun sama-sama mesti melewati pintu, menuju pada satu misteri, dan satu tempat yang sama-sama belum terlewati semenjak awal. Namun disini selain satu ruangan yang luas, juga hampir tak ada isinya sama sekali. Membuatnya terkesan sangat luas. Dan pantas dianggap sebagai suatu aula. Dimana berbagai kegiatan dengan mudah dapat dilakukan. Terutama buat satu peristiwa yang mesti mengumpulkan orang banyak. Dimana mereka bisa berkumpul, atau dikumpulkan guna satu ungkapan khusus yang mesti didengar banyak orang hanya dengan satu kali perkataan, tanpa mesti mengulang-ulang bagi beberapa hal yang sama pada mereka-mereka, agar perintah itu sampai pada semuanya.


“Hai lihat!“

__ADS_1


Pada ujung di arah yang berlawanan dengan mereka nampak suatu yang aneh. Yang berbeda dan membedakan dari segala sisi ruang. Dimana semuanya kosong. Tapi pada bagian itu terlihat sebentuk benda yang belum pernah mereka saksikan sebelumnya.


Mereka kemudian mendekatinya. Langkahnya sangat hati-hati. Jangan sampai para penghuninya tahu. Kalau ada penyusup yang tengah mengamati suatu hal penting kebanggaan mereka.


“Seperti singgasana ya?“


Mereka terus melihat nya dengan saksama dan dalam tempo yang lumayan panjang. Bagian aneh itu, Nampak satu gugusan bangunan. Yang terdiri dari beberapa trap tangga yang pendek. Jadi orang-orang dengan mudah meniti nya. Beberapa tangga dari batu itu terdiri dari beberapa buah. Yang semuanya tertutup suatu permadani dari bahan yang lembut. Namun anehnya semua Nampak kusam. Juga seluruh aula tersebut. Entah tak bisa membersihkan, atau jarang dibersihkan, atau sesuai warna pada keseluruhan ruang yang nampaknya dibuat agak kelabu dengan penyinaran yang suram juga. Ada satu kursi di puncak tangga tersebut, yang menempel pada stela dengan dinding sebagai dudukan belakangnya. Sehingga nampak, kalau semua yang hadir pada suatu ketika, akan langsung bertumpu tatapannya pada bagian ini. Seperti kali ini, meskipun pada kursi itu taka da yang duduk, juga akan langsung mengarah padanya, karena menjadi sebuah bentuk ganjil bagi ruangan selebar itu dengan hanya bagian ini yang ada benda berbeda nya. Dan kursi yang berwarna suram tersebut, terbuat unik. Dengan ukiran aneh yang memperindah bagian tersebut. Dan nampaknya mengandung arti yang khusus serta berhubungan dengan semua penghuni tempat tersebut akan makna dan tujuan dibuatnya hal itu. Sehingga akan membuat para bawahannya langsung mengabdi dengan sungguh-sungguh tanpa perlu mendapat penjelasan yang lebih terperinci, dari para ahli bidang nya.


“Ini buat rajanya kali.“


“Sepertinya begitu.“

__ADS_1


Mereka kali ini terus mengamati keanehan tersebut. Dan semakin bertambah aneh ketika menyadari bahwa tempat seluas itu kini dalam keadaan kosong dan tak ada satupun yang menunggu nya. Barangkali semua pergi karena ada suatu kebutuhan khusus. Dimana salah satunya adalah melakukan pengejaran pada mereka. Dan itu mungkin bukan keseluruhan penghuninya. Mengingat bagian ini demikian luas. Sementara yang mengejar hanya beberapa gelintir saja. Bisa jadi kalau semua dikumpulkan akan sangat banyak. Dengan memperhatikan apa yang kini mereka lihat. Dengan ruangan yang demikian luas. Dan singgasana yang begitu indah. Maka membuatnya pun akan sangat rumit yang memerlukan banyak personil yang mau bekerja keras agar satu bentuk indah itu rampung pada satu waktu yang sudah mereka lewati sebelumnya itu.


__ADS_2