I Am: The Spy

I Am: The Spy
INFORMASI


__ADS_3

Nana kehilangan kata-katanya. Iya, benar dia malas latihan dan lakuin apa yang dia mahu saja. Tapi jika ada orang yang berani mengambil posisinya, dia tidak akan duduk diam.


"Kalo gitu, bisakah aku masuk latihan kembali?", tanya Nana. Dia tidak ingin kalah dengan orang yang telah merebut posisinya.


"Iya, bisa. Tapi mungkin jadwal waktu latihan kamu akan sama dengan beberapa pelajar teratas", kata Nina.


"Kenapa? Aku kan bisa latihan sendiri, seperti dulu. Aku latihan sendiri diajari oleh kakak, kenapa sekarang nggak bisa?", tanya Nana.


"Sistem Glassy Diamond sudah tidak seperti dulu. Semuanya sudah naik taraf. Semua pelajar harus menerima segala latihan dan kerjaan yang diberi oleh pelatih dan juga harus tau caranya bekerjasama dengan pasukan", jelas Nina dengan jelas kepada Nana.


Nana hanya bisa mengangguk kerana kehabisan kata-kata lagi. Dia tidak boleh berbuat apa-apa, hanya bisa mendengarkan kata kakaknya untuk maju ke depan dan raih posisinya kembali.

__ADS_1


"Tapi, Haris yang mana satu sih kak? Nggak pernah dengar namanya ada di dokumen pelajar sebelumnya...", tanya Nana.


"Kok kamu nggak kenal sih Na? Haris classmate kamu...", perkataan Nina ini sangat membuat jantung Nana ingin copot dari tubuhnya.


Haris? Classmate aku, pangeran es itu? Dia berada di top 1? Dia pelajar Academy Glassy?


"Kakak buat lelucon kan. Gambar profilenya saja nggak ada dalam sistem kak, kok kakak tau dimana?", tanya Nana ingin kepastian dan tidak ingin apa yang kakaknya kata itu bohong.


"Sudah pasti aku ingat akan Uncle Khai, tapi saham sekolah juga 50% kakak punya?", tanya Nana ingin kepastian yang mendalam.


"Iya. Kepala sekolah dibawah kakak, pangkat ku lebih tinggi dari dia. Jadi apa saja masalah yang berlaku di sekolah, kakak orang pertama yang akan laksanakan tindakan", jelas Nina. Nana hanya bisa ternganga mendengar itu.

__ADS_1


"Jadi maksudnya, di hari kedepannya aku akan berlatih bersama dengan mereka dan menjadi sebahagian dari team mereka?", tanya Nana dengan tidak percaya jika kakaknya mengatakan iya.


"Iya, tepat sekali adikku", jawab Nina.


Sekarang, mata Nana sudah putih, nyawanya sudah melayang ke udara. Dia tidak percaya dengan itu semua. Apakah dia akan tewas dalam perlawanan?


"Ini adalah jadwal waktu kamu bermula latihan besok. Kakak nggak bakalan ada disana, soalnya besok hari kakak ke luar kota mengambil cincin berlian dari keluarga Risa. Jadi, besok pagi jam 5 mula latihannya", kata Nina sambil mengulurkan Nana satu kertas jadwal waktu.


"Aku mengerti", kata Nana.


Selesai saja percakapan mereka, Nana lalu keluar dan kembali ke ruangannya. Nina yang melihat Nana sudah lesu dengan itu hanya bisa ketawa kecil dan senyum sendirian.

__ADS_1


Ketika Nana tiba di ruangannya, dia langsung mengajak Yui dan Jun untuk keluar mengambil angin. Berjalan-jalan pergi shopping, nonton wayang dan lainnya untuk menghilangkan stres dan bosannya ketika tiada apa yang hendak dilakukan. Keduanya hanya setuju dengan bosnya dan lalu keluar dari Glassy Diamond menuju ke destinasi mereka. Nana hanya ingin bersenang hari ini karna dia pikir besok sudah tidak bisa keluar begini lagi dan hanya akan stay si arena latihan.


__ADS_2